Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

EFEKTIVITAS PELATIHAN BUSINESS PLAN TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERWIRAUSAHA PADA CALON ENTREPENEUR Marhisar Simatupang; Debi Angelina Br. Barus; Devi Marganing Tyas; Anggun Pertiwi; Yulyanti Minarsih; Florensia Nei
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP) Vol. 6 No. 4 (2023): Volume 6 No 4 Tahun 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v6i4.21288

Abstract

Busniss plan merupakan satu alat yang penting bagi para calon wirausaha untuk merancangkan langkah-langkah strategis dalam memulai dan mengembangkan suatu usaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan busniss plan terhadap pengambilan keputusan berwirausaha pada calon entrepreneur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif eksperimen dengan design eksperimen one group. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 15 orang. Hasil penelitian menunjukkan pelatihan business plan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan berwirausaha pada calon entrepreneur dengan taraf asymp sig (p) 0,000 < 0,005. Dengan artian business plan dapat memberikan pandangan yang jelas tentang resiko dan peluang bisnis untuk membantu calon wirausaha membuat keputusan yang lebih strategis sebelum memulai usaha. Semakin kuat business plan yang dilakukan oleh calon wirausaha maka akan memperkuat pengambilan keputusan untuk berwirausaha.
ADOLESCENT SELF-CONTROL AND ITS EFFECT ON DEVIANT BEHAVIOR: A QUANTITATIVE STUDY Elis Karina Febriyani; Randwitya Ayu Ganis Hemasti; Anggun Pertiwi
EDUCATIONE Volume 4, Issue 1, January 2026
Publisher : CV. TOTUS TUUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59397/edu.v4i1.188

Abstract

Adolescent delinquency remains a salient educational and psychosocial challenge, particularly in contexts where biological, psychological, and social pressures increase young people’s vulnerability to deviant behaviors. This study investigated whether self-control predicts juvenile delinquency among students in Karawang Regency. Using a quantitative causal design, data were collected from 348 students aged 13–19 years (167 males; 181 females) recruited through convenience sampling. Self-control was measured using the Brief Self-Control Scale (BSCS), and juvenile delinquency was assessed using a researcher-constructed delinquency scale. Data were analyzed using simple linear regression (SPSS v25). The results show that self-control has a statistically significant effect on juvenile delinquency (sig. = 0.000; p < 0.05), indicating that self-control is a meaningful predictor of delinquent tendencies. However, the effect size is relatively small, with self-control explaining 3.7% of the variance in delinquency (R Square = 0.037), suggesting that other factors outside the present model contribute substantially to adolescent delinquency. The principal conclusion is that strengthening students’ self-control is relevant but insufficient as a standalone approach; educational interventions should be complemented by consistent parental and school support to foster positive adolescent development. Future studies are recommended to incorporate broader ecological determinants (e.g., family characteristics, socioeconomic conditions, and residential environment) and to test more comprehensive explanatory models.
DISEMINASI METODE PEMBELAJARAN UNTUK GURU DI SEKOLAH DENGAN AKSES TERBATAS: UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA Anggun Pertiwi; Devi Marganing Tyas; Tia Latifatu Sadiah
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 4 (2025): Volume 10. No4, Desember 2025.
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i4.35019

Abstract

The quality of learning in schools with limited access still faces challenges of inadequate facilities and monotonous teaching methods. This community service disseminated interactive and contextual teaching methods to 10 teachers in Tirtajaya District using the Asset Based Community Development (ABCD) approach. Implementation consisted of seminars, discussions, and practical simulations. Evaluation through questionnaires and reflections indicated improved pedagogical competence, a shift in teaching paradigms, and commitment to apply methods such as Video Learning, Based on Picture, True or False, Modelling, and Project-Based Learning. This activity contributed to enriching teaching strategies in schools with limited resources.
Phubbing dan Adiksi Media Sosial : Tantangan Baru dalam Hubungan Romantis Pada Pasangan Dewasa Awal di Karawang Fanda Ardellia Sulviani; Nita Rohayati; Anggun Pertiwi
Jurnal Psikologi dan Konseling West Science Vol 4 No 01 (2026): Jurnal Psikologi dan Konseling West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpkws.v4i01.2578

Abstract

Perkembangan teknologi digital, khususnya penggunaan smartphone dan sosial media, telah memengaruhi pola komunikasi pasangan dewasa awal sehingga memunculkan fenomena menurunnya waktu berkualitas, meningkatnya konflik akibat kecemburuan digital, hingga munculnya kesenjangan emosional. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh perilaku phubbing dan adiksi media sosial terhadap kepuasan hubungan romantis pada pasangan dewasa awal di Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif kausalitas. Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Jacob Cohen, sebanyak 204 responden dipilih melalui teknik non-probability sampling dengan pendekatan purposif. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi linier berganda melalui SPSS for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa phubbing dan adiksi media sosial secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan hubungan romantis. Secara parsial, phubbing berpengaruh negatif signifikan, sedangkan adiksi media sosial berpengaruh positif signifikan terhadap kepuasan hubungan romantis, sehingga ketiga hipotesis diterima. Nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,005 dengan Adjusted R Square sebesar 0,522 mengindikasikan bahwa kedua variabel berkontribusi sebesar 52,2% terhadap kepuasan hubungan romantis, sedangkan sisanya dipengaruhi faktor lain di luar penelitian. Kebaruan penelitian terletak pada pengkajian simultan pengaruh phubbing dan adiksi media sosial dalam konteks lokal Karawang yang sebelumnya belum banyak diteliti. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman dinamika hubungan interpersonal di era digital, sekaligus menawarkan wawasan praktis bagi pasangan dalam mengelola tantangan ini secara lebih efektif.
DISEMINASI VERTIKAL URBAN FARMING BERBASIS TENAGA SURYA DI DESA KUTAAMPEL KAB. KARAWANG Rommy Andhika Laksono; Hayatul Rahmi; Abdul Yusuf; Anggun Pertiwi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa Vol 8, No 2 (2025): NOPEMBER
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpmk.v8i2.5437

Abstract

ABSTRACTThis community service initiative aims to introduce and implement a solar-powered vertical urban farming system as an innovative solution to land scarcity, dependence on fossil fuels, and the low engagement of youth in the agricultural sector in Kutaampel Village, Karawang Regency. The program was conducted from January to December 2025 in Kutaampel Village, Batujaya District, Karawang Regency. Employing a participatory and educational approach, the initiative involved 30 participants from diverse backgrounds across four main phases: outreach and socialization, technical training, field simulation, and mentoring with evaluation. The outreach phase successfully enhanced participants’ understanding of modern agriculture and renewable energy concepts. Technical training equipped them with skills to assemble the UNSIKA Solar-Powered Hydroponic and Aeroponic System (SHIATUN), install solar panels, and operate Internet of Things (IoT)-based humidity sensors. Field simulations resulted in a functional SHIATUN prototype capable of efficiently supporting horticultural crop growth. A three-month mentoring period revealed that 70% of participants could independently manage the system, with three groups successfully replicating it in their home gardens. The program also sparked increased interest among village youth in technology-based agriculture. The outcomes demonstrate that disseminating solar-powered vertical farming technology can serve as an effective strategy for enhancing local food resilience, fostering farmer regeneration, and strengthening rural community self-reliance in the face of climate change and resource limitations.Keywords: Vertical Urban Farming, Solar Energy, Karawang Regency ABSTRAKKegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkenalkan dan menerapkan sistem urban farming vertikal berbasis tenaga surya sebagai solusi inovatif terhadap keterbatasan lahan, ketergantungan energi fosil, dan rendahnya partisipasi generasi muda dalam sektor pertanian di Desa Kutaampel, Kabupaten Karawang. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Kutaampel Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang pada bulan Januari- Desember 2025. Melalui pendekatan partisipatif dan edukatif, kegiatan ini melibatkan 30 peserta dari berbagai latar belakang dalam empat tahapan utama: penyuluhan dan sosialisasi, pelatihan teknis, simulasi lapangan, serta pendampingan dan evaluasi. Penyuluhan berhasil meningkatkan pemahaman peserta terhadap konsep pertanian modern dan energi terbarukan. Pelatihan teknis membekali peserta dengan keterampilan merakit sistem Hidroponik dan Aerophonik Tenaga Surya UNSIKA (SHIATUN), menginstal panel surya, dan mengoperasikan sensor kelembaban berbasis Internet of Things (IoT). Simulasi lapangan menghasilkan prototipe urban farming (SHIATUN) yang mampu mendukung pertumbuhan tanaman hortikultura secara efisien. Pendampingan selama tiga bulan menunjukkan bahwa 70% peserta mampu mengelola sistem secara mandiri, dan tiga kelompok berhasil mereplikasi sistem di pekarangan rumah masing-masing. Kegiatan ini juga memicu peningkatan minat pemuda desa terhadap pertanian berbasis teknologi. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa diseminasi teknologi pertanian vertikal berbasis energi surya dapat menjadi strategi efektif dalam membangun ketahanan pangan lokal, mendorong regenerasi petani, dan memperkuat kemandirian masyarakat desa dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya.Kata Kunci: Vertikal Urban Farming, Tenaga Surya, Kab. Karawang
PERAN INTERPERSONAL TRUST DAN SELF-ESTEEM DALAM MEMBENTUK PERILAKU SELF-DISCLOSURE GEN Z DI SECOND ACCOUNT INSTAGRAM Ryzka Salsabila; Cempaka Putrie Dimala; Anggun Pertiwi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.12047

Abstract

ABSTRACT The increasing use of secondary Instagram accounts among Generation Z has created an alternative space for more personal, private, and authentic self-expression compared to primary accounts. Secondary accounts enable users to share their thoughts, feelings, and experiences with a more limited social circle, thereby encouraging self-disclosure. In this context, psychological factors such as interpersonal trust and self-esteem are believed to play important roles in influencing individuals’ willingness to disclose personal information on social media. This study aimed to examine the effects of interpersonal trust and self-esteem on self-disclosure among Generation Z users of secondary Instagram accounts. A quantitative approach with a causal associative design was employed. The participants consisted of Generation Z individuals aged 18–29 years who owned more than one Instagram account. Data were collected using instruments measuring interpersonal trust, self-esteem, and self-disclosure and were analyzed through multiple regression analysis. The findings revealed that interpersonal trust had a positive effect on self-disclosure, indicating that individuals with higher levels of trust were more likely to share personal information through their secondary Instagram accounts. Self-esteem was also found to positively influence self-disclosure, suggesting that individuals with a more positive self-evaluation tended to express their thoughts, feelings, and personal experiences more openly. Furthermore, self-esteem demonstrated a stronger influence on self-disclosure than interpersonal trust. Taken together, both variables contributed to explaining self-disclosure behavior among secondary Instagram account users. These findings highlight that self-disclosure on social media is shaped by both social and personal factors. Therefore, strengthening interpersonal trust and fostering positive self-esteem are important for promoting healthier and more constructive social media engagement among Generation Z.   ABSTRAK Penggunaan second account Instagram di kalangan Generasi Z semakin meningkat sebagai ruang alternatif untuk mengekspresikan diri secara lebih personal, privat, dan autentik dibandingkan akun utama. Kehadiran akun kedua memungkinkan pengguna untuk berbagi pikiran, perasaan, dan pengalaman kepada lingkaran sosial yang lebih terbatas sehingga mendorong terjadinya self-disclosure. Dalam konteks ini, faktor psikologis seperti interpersonal trust dan self-esteem diduga berperan penting dalam memengaruhi kecenderungan individu untuk mengungkapkan informasi pribadi di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh interpersonal trust dan self-esteem terhadap self-disclosure pada pengguna second account Instagram dari Generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif kausal. Partisipan penelitian terdiri atas individu Generasi Z berusia 18–29 tahun yang memiliki lebih dari satu akun Instagram. Data dikumpulkan menggunakan instrumen yang mengukur interpersonal trust, self-esteem, dan self-disclosure, kemudian dianalisis menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interpersonal trust berpengaruh positif terhadap self-disclosure, yang mengindikasikan bahwa individu dengan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi cenderung lebih terbuka dalam membagikan informasi pribadi melalui second account Instagram. Self-esteem juga berpengaruh positif terhadap self-disclosure, menunjukkan bahwa individu dengan penilaian diri yang lebih positif lebih mudah mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman pribadinya. Selain itu, self-esteem ditemukan memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan interpersonal trust. Secara bersama-sama, kedua variabel tersebut berkontribusi dalam menjelaskan perilaku self-disclosure pada pengguna second account Instagram. Temuan ini menegaskan bahwa perilaku pengungkapan diri di media sosial dipengaruhi oleh faktor sosial dan personal. Oleh karena itu, penguatan kepercayaan interpersonal dan harga diri positif penting untuk mendukung penggunaan media sosial yang sehat dan konstruktif pada Generasi Z.
Di Balik Layar Internet: Peran Self-Esteem dan Peer Attachment terhadap Problematic Internet Use (PIU) pada Dewasa Muda di Kabupaten Karawang Yayah Rokayah; Puspa Rahayu Utami Rahman; Anggun Pertiwi
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 8 No. 7 (2026): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v8i7.12327

Abstract

Technological developments have made the internet an inseparable part of young adults’ daily lives, particularly in communication, entertainment, information seeking, and social interaction activities. Excessive and uncontrollable internet use may lead to Problematic Internet Use (PIU). This study aimed to determine the role of self-esteem and peer attachment on Problematic Internet Use (PIU) among young adults in Karawang Regency. This study used a quantitative approach with multiple linear regression analysis using IBM SPSS Statistics 25.0. The sampling technique used convenience sampling with 385 young adult internet users aged 18–25 years living in Karawang Regency. The instruments used in this study were the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA), and Problematic Internet Use Questionnaire (PIUQ). The partial test results showed that self-esteem had no significant effect on Problematic Internet Use (PIU) with a significance value of 0.456 (p>0.05), while peer attachment had a significant negative effect on Problematic Internet Use (PIU) with a significance value of 0.000 (p<0.05). The simultaneous test results showed that self-esteem and peer attachment simultaneously had a significant effect on Problematic Internet Use (PIU) with an F value of 56.355 and a significance value of 0.000 (p<0.05). The coefficient of determination test showed an R Square value of 0.228, indicating that self-esteem and peer attachment contributed 22.8% to Problematic Internet Use (PIU). This study showed that peer attachment was more dominant in influencing Problematic Internet Use (PIU) among young adults in Karawang Regency
Kepuasan Hubungan Romantis pada Dewasa Awal: Peranan Attachment Avoidant dan Strategi Resolusi Konflik Inten Mayada; Cempaka Putrie Dimala; Anggun Pertiwi
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i3.7968

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh attachment avoidant dan strategi resolusi konflik terhadap kepuasan hubungan romantis pada individu dewasa awal berusia 18–29 tahun. Masa dewasa awal merupakan fase penting dalam pembentukan hubungan romantis yang sehat dan memuaskan, namun keberadaan konflik dan gaya kelekatan yang tidak aman, seperti attachment avoidant, dapat memengaruhi dinamika hubungan tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas, melibatkan 350 responden yang sedang atau pernah menjalani hubungan romantis. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Relationship Assessment Scale (RAS), Experiences in Close Relationships Questionnaire-Revised (ECR-R), dan Conflict Resolution Styles Inventory (CRSI). Analisis data mencakup uji normalitas, linearitas, regresi berganda, dan kategorisasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa attachment avoidant tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan hubungan romantis, sedangkan strategi resolusi konflik berpengaruh signifikan dan negatif terhadap kepuasan hubungan romantis. Secara simultan, attachment avoidant dan strategi resolusi konflik berpengaruh signifikan terhadap kepuasan hubungan romantis dengan kontribusi sebesar 64,1%. Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan strategi resolusi konflik yang kurang adaptif, seperti menghindari konflik, akan menurunkan tingkat kepuasan dalam hubungan romantis. Temuan ini menegaskan pentingnya kemampuan pasangan dalam menerapkan strategi penyelesaian konflik yang konstruktif untuk meningkatkan kualitas dan kepuasan hubungan romantis pada masa dewasa awal.