Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Pendampingan Kader Kesehatan Berbasis Buku Monitoring terhadap Kepatuhan Terapi Pasien Diabetes Mellitus Supatmi Supatmi
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 6 (2025): Desember 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i6.1157

Abstract

Diabetes Melitus Tipe 2 (DM Tipe 2) merupakan penyakit metabolik kronis dengan prevalensi yang terus meningkat serta berisiko tinggi menimbulkan komplikasi apabila kepatuhan terapi tidak optimal. Rendahnya kepatuhan terapi masih menjadi permasalahan utama yang dipengaruhi oleh keterbatasan pengetahuan pasien, rendahnya motivasi, kurangnya dukungan keluarga, serta minimnya pemantauan berkelanjutan. Intervensi berbasis komunitas melalui pendampingan kader kesehatan yang didukung dengan alat monitoring sederhana berpotensi meningkatkan kepatuhan pasien dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendampingan kader berbasis buku monitoring terhadap kepatuhan terapi pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan pendekatan one-group pretest–posttest. Sampel terdiri dari 25 pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Pundong yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi meliputi edukasi kesehatan, pendampingan kader setiap hari, serta pemantauan minum obat, pola makan, aktivitas fisik, dan kadar gula darah menggunakan buku monitoring selama empat minggu. Tingkat kepatuhan terapi diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) dan catatan dalam buku monitoring. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Sebelum intervensi, sebagian besar responden memiliki tingkat kepatuhan rendah (56%) dan sedang (32%), sementara hanya 12% yang memiliki kepatuhan tinggi. Setelah intervensi, terjadi peningkatan kepatuhan yang signifikan, dengan 68% responden mencapai tingkat kepatuhan tinggi dan 32% kepatuhan sedang. Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna antara skor kepatuhan sebelum dan sesudah intervensi (Z = −4,165; p < 0,001). Pendampingan kader kesehatan berbasis buku monitoring secara signifikan meningkatkan kepatuhan terapi pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Intervensi ini merupakan strategi yang efektif, sederhana, dan mudah diterapkan di masyarakat sebagai upaya pendukung pengelolaan diabetes jangka panjang di layanan kesehatan primer.
GERAKAN "SADAR LEPTO" : SOSIALISASI DAN EDUKASI PHBS GUNA MENEKAN ANGKA KEJADIAN LEPTOSPIROSIS Sri Setyowati; Riza Yulina Amry; Supatmi Supatmi; Parmadi Sigit Purnomo; Suyatno Suyatno
Humanism: Journal of Community Empowerment (HJCE) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Humanism: Journal of Community Empowerment (HJCE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hjce.v8i2.1507

Abstract

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di Indonesia. Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, masih tercatat sebagai wilayah dengan kasus tertinggi mencapai 234 kasus dan 12 kematian. Tingginya curah hujan, sanitasi lingkungan yang buruk, serta minimnya kesadaran masyarakat dalam memutus rantai penularan melalui modifikasi lingkungan rumah tangga menjadi faktor risiko utama penyebaran penyakit ini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Gerakan "SADAR LEPTO" dilaksanakan sebagai upaya preventif berbasis pemberdayaan kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Guyub Waras RT 03 Kepek, Timbulharjo, Sewon, Bantul, mengingat peran strategis perempuan sebagai pengelola sanitasi domestik rumah tangga. Kegiatan ini dihadiri oleh 40 pengurus dan anggota PKK dengan partisipasi serta antusiasme yang tinggi. Hasil evaluasi menunjukkan tingkat pemahaman peserta mencapai target minimal (75%) pada seluruh indikator, yaitu identifikasi gejala awal leptospirosis (87,5%), pengenalan vektor utama penular (95,0%), dan penerapan tindakan PHBS rumah tangga (90,0%). Evaluasi kegiatan dilakukan secara deskriptif melalui observasi partisipasi peserta, diskusi interaktif, dan kemampuan peserta menjawab pertanyaan selama sesi berlangsung. Hasil evaluasi menunjukkan peserta aktif berdiskusi, mampu mengidentifikasi gejala, faktor risiko, dan upaya pencegahan leptospirosis, serta menunjukkan antusiasme dalam mendiskusikan penerapan PHBS di lingkungan rumah tangga.
Translation in English: **Assistance in the Implementation of Comprehensive Integrated Primary Service (ILP) Posyandu at Gunung Krakatau Posyandu Soka Seloharjo Pundong Bantul Yogyakarta** Supatmi Supatmi; Erma Pranawati; Eni Purwaningsih
The Journal of Innovation in Community Empowerment Vol 8 No 1 (2026): Journal of Innovation in Community Empowerment (JICE)
Publisher : Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/jice.v8i1.1765

Abstract

Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) bertujuan mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat dengan menyediakan layanan kesehatan terpadu di tingkat desa atau kelurahan. Program ini mengintegrasikan berbagai layanan kesehatan primer seperti imunisasi, pemantauan gizi, pemeriksaan kesehatan dasar, serta pencegahan dan deteksi dini penyakit. Manfaat Posyandu ILP meningkatkan kesehatan keluarga dan masyarakat, memperluas akses dan cakupan pelayanan kesehatan primer, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, serta memberdayakan masyarakat untuk menjaga kesehatan. Implementasi Posyandu ILP mencakup pendaftaran, penimbangan dan pengukuran, pencatatan dan pemeriksaan, pelayanan kesehatan, penyuluhan, dan validasi data hasil pelayanan. Program ini mendukung pemantauan digital kesehatan warga sehingga deteksi dini penyakit dapat dilakukan lebih cepat tepat sasaran. Cakupan Posyandu ILP memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan bayi hingga lansia. Implementasi posyandu ILP  perlu  persiapan sumberdaya manusia, peralatan, kemampuan kader baik segi ketrampilan skrining penggunaan alat skrining maupun kemampuan pelaporannya. Kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan pendampingan implementasi posyandu ILP yang mampu dilaksanakan sesuai dengan kapasitas sumberdaya dan kondisi lokal Masyarakat di dusun Soka, Seloharjo, Pundong, Bantul Yogyakarta. Pengabdian Masyarakat ini di tujukan untuk seluruh kader posyandu dusun soka dengan jumlah kader 16 orang. Tahapan pelaksanaan kegiatan mulai dari pre test pengetahuan dan ketrampilan yang harus dimiliki kader untuk melaksanakan Posyandu ILP. Hasil pre test peserta 3 orang (18,8 %) baik, 11 orang (68,8%) sedang,   2 orang (12,4 %) kurang. Pembelajaran teori dan pembelajaran ketrampilan dengan kelompok kecil, Role play pelaksanaan Posyandu ILP, kunjungan rumah. Hasil post test pengetahuan dan ketrampilan 12 orang  ( 75%) baik, 4 orang ( 25%) sedang.  Hasil post test sebagai bahan evaluasi dan review materi yang belum di kuasai. Langkah selanjutnya launching posyandu ILP sekaligus sebagai implementasi pembelajaran praktek. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan posyandu dan rencana tindak lanjut serta pendampingan sebanyak 2 kali pelaksanaan posyandu ILP berikutnya. Kesimpulannya kader posyandu Gunung Krakatau dusun Soka mampu melaksanakan  Posyandu ILP.