Ashlih Muhammad Dafizki
Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tradisi Budendo Pelaku Nikah Sumbang Perspektif Sosiologi Hukum Islam Ashlih Muhammad Dafizki; Edi Rosman; Busyro Busyro
USRATY : Journal of Islamic Family Law Vol 1, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/usraty.v1i2.7530

Abstract

Pernikahan sumbang yang terjadi di antara anak keturunan dari saudara laki-laki dan anak keturunan dari saudara perempuan berkonsekuensi pada denda adat bagi pasangan yang melangsungkannya disebut dengan budendo. Penelitian ini bertujuan pada eksplorasi: 1) makna adat tradisi budendo pada nikah sumbang; 2) faktor-faktor penyebab terjadinya nikah sumbang; dan 3) implikasi tradisi budendo terhadap pelaksanaan nikah sumbang bagi masyarakat Desa Semurup, Kecamatan Air Hangat, Kabupaten Kerinci. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara dengan narasumber terkait dengan judul pembahasan serta literatur yang berhubungan dengan nikah sumbang. Hasil dari penelitian ini adalah; 1) tradisi budendo bermakna sebuah rangkaian acara adat yang bertujuan untuk memintakan denda adat kepada pasangan yang melakukan pernikahan sumbang, dan juga untuk menghilangkan kemudhoratan dari pernikahan yang telah mereka laksanakan; 2) faktor pendorong terjadinya pernikahan sumbang disebabkan beberapa hal antara lain, perjodohan, mempererat tali persaudaraan, suka sama suka, kemurnian keturunan dan mempertahankan harta; 3) implikasi yang ditimbulkan dari tradisi budendo ini berupa kepatuhan terhadap hukum dan untuk menertibkan masyarakat dengan cara membayar denda adat.The occurrence of intermarriage between descendants of male relatives and descendants of female relatives resulting in customary fines for the couple who conduct it is known as "budendo." This study aims to explore: 1) the cultural significance of the budendo tradition in intermarriages; 2) the factors contributing to intermarriages; and 3) the implications of the budendo tradition on the execution of intermarriages in the Semurup village, Air Hangat Subdistrict, Kerinci Regency. This research utilizes a qualitative methodology. It involves conducting interviews with relevant informants on the subject matter and reviewing literature related to intermarriages. The findings of this study are as follows: 1) the budendo tradition signifies a series of customary proceedings aimed at seeking customary fines from couples engaged in intermarriage and also at eliminating any harm resulting from the marriage they have undertaken; 2) the driving factors behind intermarriages include arranged marriages, strengthening familial ties, mutual affection, preserving lineage purity, and safeguarding wealth; 3) the implications arising from the budendo tradition encompass compliance with customary law and maintaining societal order by paying customary fines.
Tradisi Yasinan dan Jamuan Makan sebagai Manifestasi Maqashid As-Syari’ah dalam Masyarakat Desa Gunung Labuh, Kabupaten Kerinci Faizin; Ashlih Muhammad Dafizki
Journal of Islamic Law and Wisdom Vol. 1 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Program Studi Magister Hukum Islam - UIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/jilaw.v1i2.10251

Abstract

This study explores how the Yasinan and communal meal tradition held for seven consecutive days after a person’s death in Gunung Labuh Village, Kerinci Regency, serves as a manifestation of maqashid as-shari‘ah within the community’s socio-religious life. The tradition is not merely a ritual but a cultural expression that strengthens social solidarity and reflects moral and spiritual values. The main research question addresses how the principles of hifz al-din (preservation of religion), hifz al-nafs (preservation of life), and hifz al-mal (preservation of wealth) are embodied in this practice. Using a qualitative case study approach, data were collected through interviews with religious leaders, community figures, and bereaved families, alongside relevant literature analysis. The findings reveal that this tradition reflects a harmonious balance between Islamic teachings and local wisdom, where collective prayer, mutual cooperation, and charity embody the essence of maqashid al-shari‘ah. Hence, the Yasinan and communal meal practice in Gunung Labuh illustrates the dynamic integration of spiritual devotion and social solidarity within the lived experience of the Muslim community.   Penelitian ini membahas bagaimana tradisi Yasinan dan jamuan makan selama tujuh hari berturut-turut setelah kematian di Desa Gunung Labuh, Kabupaten Kerinci, berfungsi sebagai manifestasi maqashid as-syari‘ah dalam kehidupan sosial keagamaan masyarakat. Tradisi ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga wadah penguatan solidaritas sosial dan ekspresi nilai-nilai kemanusiaan. Pertanyaan utama penelitian ini adalah bagaimana nilai-nilai maqashid as-syari’ah, khususnya hifz al-din, hifz al-nafs, dan hifz al-mal, termanifestasi dalam praktik Yasinan dan jamuan makan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, melalui wawancara dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan keluarga penyelenggara tradisi, serta analisis literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini merepresentasikan keseimbangan antara ajaran Islam dan kearifan lokal, di mana doa bersama, gotong royong, dan sedekah menjadi sarana pemeliharaan agama, jiwa, dan harta. Dengan demikian, praktik Yasinan dan jamuan makan di Desa Gunung Labuh merupakan wujud harmonisasi antara nilai spiritual dan sosial yang hidup secara dinamis dalam bingkai maqashid as-syari‘ah.