Bencana banjir merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia dan tidak terkecuali ibu kota Provinsi Sumatera Utara yaitu Kota Medan. Untuk mitigasi bencana banjir yang bertujuan meminimalisir kerugian akibat dampak banjir maka diperlukan peta kawasan rentan bencana alam khususnya genangan banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan peta genangan banjir sungai Babura yang melintasi kawasan kota Medan akibat meluapnya sungai Babura dengan metode Geomorphic Flood Index (GFI) dan metode GFI modifikasi dari software QGIS. Data masukan dari perangkat ini adalah data hasil olahan data Digital Elevation Model (DEM) seperti Fill DEM, Arah Aliran, dan Akumulasi Aliran untuk hasil akhir peta genangan banjir. Dalam melakukan penelitian ini dilakukan pengumpulan data yang mencakup data curah hujan dari BMKG, data DEM, peta digital Daerah Aliran Sungai (DAS) Babura dan data tata guna lahan. Dari hasil pemodelan, genangan banjir terjadi di berbagai jenis tutupan lahan dengan perkebunan sebagai daerah terluas yang terdampak dengan luas 236,79 ha. Genangan ini juga terjadi di daerah permukiman dan tempat kegiatan sosial ekonomi dengan luas genangan 76,06 ha. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa Kecamatan Medan Polonia dan Kecamatan Medan Johor mengalami banjir dengan dampak terbesar seluas 25,67 ha dan 18,19 ha. Selain itu, Kecamatan Pancur Batu, Kecamatan Medan Baru, Kecamatan Medan Tuntungan, dan Kecamatan Medan Maimun juga terdampak banjir dengan luas 3 ha s.d. 10 ha, diikuti Kecamatan Medan Selayang dan Kecamatan Namorambe dengan luas banjir kurang dari 1 ha.