Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Contradictory Language Styles in the Novels of Jatuh dan Cinta by Boy Chandra: Anggun Tara Febriyanti, Memmy Dwi Jayanti, Yayan Sudrajat Anggun Tara Febriyanti; Memmy Dwi Jayanti; Yayan Sudrajat
Journal of Instructional Development, Innovation, and Evaluation Vol. 1 No. 01 (2022): Reguler ISSUE | 2022
Publisher : PT. Lancar Media Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1234/jidie.v1i01.17

Abstract

The purpose of this study is to interpret the types of comparative figure of speech used in Boy Candra's novel “Ingkar” and their implications for learning Indonesian. This study uses a qualitative descriptive research method. This research as a whole utilizes interpretation in presenting data in descriptive form. The research method in this study uses documentation techniques. The instrument in this research is the researcher himself as a human instrument. The findings of comparative figure of speech in Boy Candra's novel Ingkar found 250 data with 68 sentences of comparative figure of speech, 27 sentences of metaphorical figure of speech, 62 sentences of personification figure of speech, 40 sentences of depersonification figure of speech, 12 sentences of allegorical figure of speech, 22 sentences of antithesis figure of speech , figure of speech pleonasm and tautology as many as 11 sentences, figure of speech periphrasis as many as 3 sentences, and figure of speech anticipation as much as 5 sentences. The dominant comparative figure of speech in Boy Candra's novel Ingkar , namely the comparison figure of speech for the category of parables as many as 68 sentences with a percentage. Key words: Figurative Language, Comparative Figure Of Speech, Refusing Novel, Indonesia language Instructional
TOPONIMI NAMA-NAMA KALURAHAN DI KOTA BEKASI (KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK) Rosmalia Herawati; Memmy Dwi Jayanti; Yulia Agustin; Ahmad Khoiril Anam
Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 13 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/lgrm.v13i3.12657

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui asal-usul dan makna penamaan kelurahan di Kota Bekasi berdasarkan beberapa aspek, yaitu aspek perwujudan, kemasyarakatan, dan kebudayaan. Penulis berharap para pembaca dapat memahami proses pembentukan nama dan sejarah penamaan kelurahan di Kota Bekasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, di mana penulis harus mencari narasumber dan melakukan wawancara. Setelah itu, penulis mengategorikan nama-nama kelurahan tersebut ke dalam beberapa aspek: aspek perwujudan yang terdiri dari latar perairan, latar rupa bumi, dan latar lingkungan alam; aspek kemasyarakatan yang terdiri dari kedudukan seseorang, profesi, dan pekerjaan; serta aspek kebudayaan yang terdiri dari folklor, mitos, dan sistem kepercayaan. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dalam menyusun langkah kerja. Setelah melakukan wawancara dan mengategorikan penamaan kelurahan ke dalam beberapa aspek, penulis menarik kesimpulan bahwa toponimi dan makna nama-nama kelurahan di Kota Bekasi didominasi oleh aspek perwujudan dengan rincian sebagai berikut: indikator latar lingkungan alam sebesar 40,6%, indikator latar perairan sebesar 17%, dan indikator latar rupa bumi sebesar 1,7%. Pada aspek kemasyarakatan, kedudukan seseorang memiliki persentase 15,2%, profesi 3,3%, dan pekerjaan 1,7%. Pada aspek kebudayaan, sistem kepercayaan memiliki persentase terbesar yaitu 10,3%, folklor 8,5%, dan mitos 1,7%. Secara keseluruhan, aspek perwujudan paling dominan dalam penamaan kelurahan di Kota Bekasi dengan persentase sebesar 60%, diikuti oleh aspek kemasyarakatan dan aspek kebudayaan masing-masing dengan persentase sebesar 20%.