Nurainiah, Nurainiah
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Serambi Tarbawi

KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU DALAM PERSPEKTIF IBNU JAMA`AH Nurainiah Nurainiah
Serambi Tarbawi Vol 6, No 2 (2018): Serambi Tarbawi
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.142 KB) | DOI: 10.32672/tarbawi.v6i2.694

Abstract

Masalah kepribadian guru menjadi perioritas utama dan perhatian besar di kalangan ulama dari masa ke masa. Sehingga banyak di antara mereka seperti al-Ghazali, Imam al-Nawawi, al-Zarnuji, Ibnu Khaldun dan lain sebagainya telah berusaha menyusun beberapa kompetensi kepribadian yang perlu dimiliki oleh guru. Demikian pula yang dilakukan oleh Badruddin Muhammad ibn Ibrahim ibn Sa’ad Allah ibn Jama’ah ibn Hazim ibn Shakhr ibn Abd Allah al-Kinany atau lebih dikenal dengan Ibnu Jama`ah. Beliau lahir di Hamwa (Mesir), pada malam Sabtu, tanggal 4 Rabi’ul Akhir, 639 H/ 1241 M, dan wafat pada pertengahan malam akhir hari Senin, tanggal 21 Jumadil ‘Ula tahun 733 H/1333 M, dan dimakamkan di Qirafah (Mesir). Dalam kitabnya Ibnu Jama`ah bernama Tadzkirah Al-Sami` wa al-Mutakllim fi Adab al-`alim wa al-Muta`allim, dan al-Fikr al-Tarbawi`Inda Ibnu Jama`ah, beliau memaparkan beberapa adab dan akhlak yang harus dimiliki oleh seorang pendidik/guru, secara garis besar berkaitan dengan kompetensi kepribadian, seperti  sopan, khusu, tawadhu, tunduk pada Allah swt dan selalu mendekatkan diri pada-Nya, baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Salah satu bentuk yang dapat membantu guru untuk mencapai akhlak mulia adalah zuhud terhadap dunia dan qona’ah. Selain karakteristik akhlak mulia, Ibnu Jama’ah juga menuntut agar guru memiliki karakteristik keagamaan, seperti melaksanakan syiar Islam, melaksanakan amalan sunat baik perkataan maupun perbuatan, seperti membaca al-Qur’an, dzikir dalam hati ataupun lisan, menjaga wibawa Nabi saw ketika disebut namanya, juga bergaul dengan akhlak mulia.Kata Kunci: Kompetensi, Kepribadian Guru
PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF IBNU KHALDUN Nurainiah Nurainiah
Serambi Tarbawi Vol 7, No 1 (2019): Serambi Tarbawi
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.711 KB) | DOI: 10.32672/tarbawi.v7i1.1374

Abstract

Ibnu Khaldun adalah Abdullah abd al-Rahman Abu Zayd Ibn Muhammad Ibn Khaldun. Ia lahir di Tunisia pada awal bulan Ramadhan 732 H (27 Mei 1332 M) dan wafat di Kairo pada tanggal 25 Ramadhan 808 H (19 Maret 1406 M). Ibnu khaldun adalah seorang filsuf sejarah yang berbakat dan cendekiawan terbesar pada zamannya, salah seorang pemikir terkemuka yang pernah dilahirkan. Pendidikan Ibn Khaldun berpijak pada asumsi dasar bahwa manusia pada dasarnya “tidak tahu” (jahil), ia menjadi “tahu” (‘alim) dengan belajar. Berkaitan dengan klasifikasi ilmu, Ibn Khaldun mempunyai dualitas sikap terhadap ilmu naqli dan ilmu ‘aqli. Terkait dengan ilmu naqli ia menganggapnya sebagai sesuatu yang disyari’atkan oleh Tuhan pada kita (masyru’at lana). Mengenai ilmu ‘aqli (rasio) dipandang sebagai sesuatu yang lumrah bagi manusia dan tidak hanya milik suatu agama. Ilmu-ilmu ‘aqli (rasio) dipelajari oleh penganut seluruh agama. Dari aspek metode, Ibn Khaldun tidak menyukai pembelajaran dengan menggunakan sistem hafalan, karena dianggap tidak efektif dan efiesen. Adapun metode yang membawa pengaruh positif dan paling efektif adalah memulai dengan yang umum (global) kemudian berangsur-angsur ke arah terinci dan dengan metode keteladanan serta metode dialog dan diskusi.
Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam Nurainiah Nurainiah
Serambi Tarbawi Vol 1, No 1 (2013): Serambi Tarbawi
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1821.998 KB) | DOI: 10.32672/tarbawi.v1i1.1198

Abstract

Guru Pendidikan  Agama Islam sebagai salah satu tenaga pendidikan di sekolah dituntut untuk memiliki kemampuan profesional, karena mendidik adalah tugas utama yang diemban kepadanya. Posisi guru di sekolah sebagai tenaga pendidik dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembankan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, dan penelitian serta melakukan pengabdian masyarakat. Apabila guru memiliki kompetensi profesional, maka dengan mudah guru tersebut dapat menjadikan atau melahir anak didik yang bermutu dan berdaya guna, karena melalui kompetensi ini para anak didik akan memahami dan menguasai materi pelajaran yang disampaikan oleh guru yang memiliki kompetensi ini. Salah satu ciri-ciri yang profesional adalah guru tersebut dapat menguasai bahan atau materi yang akan diajarkan kepada anak didik.
MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT AL-QUR`AN Nurainiah Nurainiah
Serambi Tarbawi Vol 8, No 1 (2020): Serambi Tarbawi
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/tarbawi.v8i1.3319

Abstract

Manajemen pendidikan merupakan aktivitas untuk memobilisasi dan memadukan segala sumber daya pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya. Sumber daya yang dimobilisasi dan dipadukan untuk mencapai tujuan pendidikan meliputi 3 M (Man, Money dan Material). Unsur manajemen menurut ajaran al-Qur’an adalah berpengetahuan luas, kreatif, inisiatif, peka, lapang dada, dan selalu tanggap, bertindak adil dan jujur serta konsekuen, bertanggung jawab, selektif terhadap informasi, memberi peringatan dan memberi petunjuk serta pengarahan. Sedangkan prinsip manajemen yaitu ikhlas, kejujuran, amanah, adil, tanggungjawab, dinamis, praktis dan fleksibel. Sistem manajemen dalam pendidikan Islam diharapkan dapat memberikan warna bahkan mengarahkan ke  arah yang lebih bermanfaat. Dalam aplikasinya, peranan manajemen sangat ditentukan oleh fungsi-fungsi manajemen, fungsi manajemen tersebut adalah sebagai perencanaan (planing), pengorganisasian (organizing), penggerakan (actuating), dan pengawasan (controling). Semua fungsi manajemen tersebut merupakan inti dari manajemen itu sendiri. Fungsi tersebut merupakan proses yang harus dilaksanakan oleh semua pihak yang terlibat dalam sebuah organisasi. Fungsi-fungsi inilah yang akan menentukan berhasil tidaknya kinerja manajemen.
METODE PENGAJARAN AGAMA ISLAM TERHADAP KAUM IBU DI DESA DAYAH MEUNARA KECAMATAN KUTAMAKMUR KABUPATEN ACEH UTARA Nurainiah Nurainiah
Serambi Tarbawi Vol 7, No 2 (2019): Serambi Tarbawi
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.406 KB) | DOI: 10.32672/tarbawi.v7i2.1799

Abstract

Pengajaran agama Islam merupakan salah satu masalah yang harus ditanggapi dan ditangani secara serius, karena orang-orang yang kurang mendalaminya bisa salah paham terhadap ajaran agama. Pengajaran agama hendaknya mendapat tempat yang teratur dan seksama, sehingga mendapat perhatian yang semestinya. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sistem pengajaran agama Islam terhadap kaum ibu, metode apa saja yang di pakai dan hambatan apa saja yang dialami dalam pengajaran agama Islam terhadap kaum ibu di Desa Dayah Meunara Kecamatan Kutamakmur Kabupaten Aceh Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, sedangkan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pengajaran agama Islam dilaksanakan sesuai dengan permintaan para peserta, tidak mempergunakan sistem sebagaimana layaknya pendidikan umum dengan sistem klasikal, karena pendidikan ini bersifat non formal dan dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu.  Metode yang digunakan dalam pelaksanaan pengajaran bagi kaum ibu mengikuti kebiasaan yang sudah berlaku umum yaitu ustadz membaca kitab, sedangkan peserta mendengar, kemudian pengajar memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya. Sedangkan kendala yang sering dialami dalam mengikuti pengajian adalah pembagian waktu. Di mana waktu yang tersedia sangat sempit, karena sebagai ibu rumah tangga diharuskan mengurus keluarga dan biasanya pagi hari sibuk ke sawah.
Sistem Pendidikan Dayah Tradisional di Aceh Nurainiah Nurainiah

Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/tarbawi.v9i1.5054

Abstract

Dayah is the earliest educational institution in the archipelago. In the context of Aceh, dayah is not only a center for Islamic education, but also as a very important center for da'wah and social empowerment. In modern life, even though the dayah has not lost its role and function as a forum or study of science, even though many modern educational institutions have sprung up. Dayah as a center of traditional education in Aceh still survives without having to abandon its unique characteristics. The uniqueness of dayah education to date is its consistent education system. The focus of the study is the yellow book text in bare Arabic (without shakal). The education system commonly used in recitation and studying standard books in the dayah is the teacher reading the book, translating, then explaining the intent and purpose, while the students listen and pay attention to the reading with full concentration. For mubtadi students, the teacher usually reads slowly and translates word for word literally, so that they are easy to respond to and understand. In addition, the education system developed is Muzakarah or Munablood, Majlis Ta`lim and Muhadharah. In general, there are similarities in all dayahs regarding the main subjects taught, such as knowledge of Islamic law (Fiqh Science), grammar (Nahwu and Neuroscience), Tawhid and interpretation. Dayah has four significant uses as a center of religious learning, a bulwark against forces against colonial penetration, an agent of development and as a school for the community.
Perkembangan Pendidikan Islam di Afrika Utara: Pendidikan Islam di Sudan Nurainiah Nurainiah

Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/tarbawi.v10i1.5068

Abstract

Education in Sudan is free and compulsory for all children aged 6 to 13 years. Education starts with basic education for eight years, then secondary education for three years. The education level was changed to 6+3+3 format in 1990. The language of instruction used at all levels is Arabic. School locations are concentrated in a number of urban areas, a number of schools in the South and West have been damaged or even destroyed by the conflict. In the field of formal education, Sudan has many well-known universities that are tens or even hundreds of years old. Among these universities are Khartoum University, Omdurman Islamic University, El-Nilein University, Khartoum International Institute of Arabic, Al Quran Al Karim University and the youngest is the International University of Africa. The education system in Sudan starts with Primary School, then Secondary School. The level above it is Vocational/Technical Education and Training or University/College Education. In addition, there are Preservice Teacher Training and In Service Teacher Training. Non-formal education, in Sudan there are many scientific assemblies that use the talaqqi system through masyakhs who are spread almost all over Sudan.