Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KEGIATAN TRADISI LAMPORAN UNTUK MENGHORMATI LELUHUR DI DESA SONEYAN, MARGOYOSO, PATI Faizuna Tathmainnul Qulub; Siti Karomatun Nadziroh; Yusuf Falaq
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 1 No. 2 (2023): November
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v1i2.299

Abstract

Tradisi lamporan merupakan sebuah tradisi turun temurun yang diwariskan oleh nenek moyang dari desa soneyan sumber, tradisi tersebut diartikan sebagai ritual pengusir roh jahat yang akan mengganggu hewan ternak, warga percaya bahwa dengan melaksanakan tradisi lamporan akan terhindar dari segala macam bencana yang akan menimpa. Tradisi tersebut dilaksanakan pada sabtu pon hingga malam jumat wage pada bulan suro (muharrom), puncaknya yaitu pada malam jumat wage dilaksanakan pawai lamporan dengan berkeliling desa menggunakan kostum dayak dan membawa obor/oncor yang dibuat dari bambu. Obor tersebut dimaksudkan sebagai pengusir dari roh jahat. Setelah pawai acara selanjutnya yaitu kondangan, kondangan tersebut dilakukan dengan berkumpul di perempatan terdekat rumah warga, setiap warga yang mengikuti kondangan membawa nasi untuk ditukar dengan warga lainnya, sebelum nasi tersebut ditukar terlebih dahulu warga melakukan doa bersama atas rasa syukur dengan dilancarkannya tradisi lamporan. Tujuan dari makalah ini untuk mengetahui asal-usul dari tradisi lamporan, apa alasan dari pelestarian tradisi lamporan, apa tujuannya, bagaimana cara mempertahankannya serta bagaimana cara penyajian dari tradisi tersebut. Penulisan dari makalah ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, menngunakan metode ini dimaksudkan agar mengetahui jawaban dari setiap permasalahan yang dihadirkan.  Metode tersebut diterapkan dengan wawancara dan observasi sehingga mendapatkan data yang terpercaya dan tidak ada keraguan didalamnya. Dengan menggunakan metode tersebut maka didapatkan hasil penelitian yang menjawab semua permasalahan yang dimunculkan dan dapat disimpulkan bahwa memang sebuah tradisi harus dilestarikan karena merupakan warisan turun-temurun dari nenek moyang dan sebuah tradisi dapat menjadi identitas dari suatu daerah yang membedakan dengan daerah yang lain. Adapun tradisi lamporan ini merupakan tradisi yang unik yang tidak terdapat pada daerah lain. Maka dari itu penulis sangat setuju dengan konsistensi masyarakat desa soneyan sumber dalam melestarikan tradisi lamporannya. Selain karena memang tradisi harus dilestarikan juga dengan dilaksanakannya sebuah tradisi hubungan antar warga menjadi semakin erat dan semakin tinggi rasa kekeluargaannya.
Makna Filosofis: Mendalami Nilai-nilai Budaya Pada Tradisi Buka Luwur Dan Haul Mbah Rogomoyo Faizuna Tathmainnul Qulub; Dany Miftah M Nur
Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya Vol 8, No 1 (2025): Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni Dan Budaya
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/vh.v8i1.13887

Abstract

Tradisi Buka Luwur dan peringatan haul Mbah Rogomoyo merupakan rangkaian acara seremonial yang diadakan secara rutin oleh masyarakat desa Prokowinong Kaliwungu Kudus. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setiap tanggal 13 Suro (13 Muharam). Tradisi ini dilaksanakan untuk menghormati Mbah Rogomoyo atas jasanya dalam menyebarkan agama Islam dan menciptakan teknik pertukangan rumah Kayu Joglo Pencu khas Kudus. Tujuan dari penulisan ini yaitu untuk mendalami mengenai makna Tradisi Buka Luwur dan peringatan haul Mbah Rogomoyo menurut perspektif Masyarakat desa Prokowinong Kaliwungu Kudus, dan mengetahui prosesi setiap kegiatan yang terdapat pada tradisi tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Kualitatif Deskriptif, teknik pengumpulan data berupa observasi, dokumentasi dan wawancara, data yang terkumpul kemudian diolah dan dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa masyarakat desa Prokowinong rutin melaksanakan tradisi ini setiap tahun, sebagai sarana mempererat antar warga dan meningkatkan rasa solidaritas, selain itu tradisi ini dimaknai oleh masyarakat sebagai rasa hormat mereka kepada Mbah Rogomoyo atas jasanya dalam menyebarkan Agama Islam dan menciptakan teknik pertukangan dalam pembuatan rumah Kayu Joglo Pencu khas Kudus. Selain itu, masyarakat memaknai tradisi ini sebagai sarana untuk mengingat setiap jasa Mbah Rogomoyo.