Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pelatihan Pengembangan Aplikasi Berbasis Web untuk Penilaian dan Umpan Balik Reflektif bagi Guru Bahasa Inggris di SMA Swasta Kabupaten Gresik Muhaimin Abdullah; Ahmad Munir; Widyastuti; Syafi'ul Anam; Lies Amin Lestari; Ali Mustofa
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34697/jai.v5i4.2248

Abstract

Asesmen dan umpan balik merupakan dua komponen krusial dalam pelaksanaan pendidikan formal yang berperan penting dalam mendukung pencapaian tujuan pembelajaran. Namun, dalam praktiknya, kedua aspek ini seringkali menjadi tantangan bagi pendidik, terutama karena kendala teknis yang menghambat kelancaran proses penilaian dan pemberian umpan balik yang efektif. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi berupa aplikasi sederhana yang dirancang secara khusus untuk mengakomodasi kebutuhan asesmen dan umpan balik dalam pembelajaran. Website dipilih sebagai platform utama dalam pengembangan aplikasi ini karena sifatnya yang ringan, mudah diakses, dan kompatibel dengan berbagai jenis perangkat. Pengembangan aplikasi berbasis web dalam kegiatan ini dilakukan secara terstruktur dan tersistematis melalui tahapan analisis masalah, desain aplikasi, uji coba internal, pelatihan penggunaan sistem, dan evaluasi. Kegiatan ini diikuti oleh 37 guru Bahasa Inggris SMA Swasta se-Kabupaten Gresik. Hasil menunjukkan bahwa aplikasi yang didesain dan dikembangkan berfungsi secara efektif sebagai alat bantu yang praktis bagi pendidik dalam melaksanakan penilaian serta memberikan umpan balik reflektif secara lebih efisien dan terstruktur. Selain memudahkan guru, aplikasi ini juga dirancang agar peserta didik dapat menerima umpan balik secara langsung dan tepat waktu, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk memahami proses serta capaian pembelajaran mereka, sekaligus melakukan perbaikan yang diperlukan. Unsur kebaruan dari solusi yang diinisiasi pada kegiatan ini terletak pada penyatuan proses penilaian dan umpan balik dalam satu laman terpadu yang dapat diakses oleh guru maupun siswa, sehingga menciptakan alur komunikasi yang lebih efisien, transparan, dan terstruktur dalam pembelajaran. Selain itu, aplikasi ini dirancang dengan antarmuka yang intuitif dan penggunaan tools yang bersifat self-explanatory, sehingga memudahkan pengguna untuk mengoperasikan sistem tanpa memerlukan pelatihan teknis yang mendalam. Pendekatan ini memungkinkan implementasi teknologi yang lebih inklusif dan adaptif di lingkungan sekolah.
NEGOTIATING ENGLISH USE IN COASTAL TOURISM : DECOLONIZING ELT AND COMMUNICATIVE FUNCTIONALITY Faiqoh Tsuroya; Ahmad Munir; Muhaimin Abdullah
JEE (Journal of English Education) Vol. 12 No. 1 (2026): JEE (Journal of English Education)
Publisher : English Study Program University of Pasir Pengaraian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30606/jee.v12i1.4469

Abstract

This study investigates the tension between institutional English norms and students’ lived communicative practices in a coastal tourism context, addressing a gap in decolonizing ELT research that has largely focused on classroom-based discourse rather than real-life interaction. Using an exploratory qualitative design, the study involved one English teacher and nine senior high school students in Situbondo, East Java, Indonesia, who regularly interacted with international tourists in local tourism settings. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and documentation, and analyzed thematically. The findings reveal a mismatch between classroom-oriented English instruction, which prioritizes grammatical correctness and native-speaker norms, and tourism-based communication, which relies on intelligibility, code-mixing, gestures, and adaptive meaning-negotiation strategies. The study offers originality by situating decolonizing ELT within everyday tourism interaction and by foregrounding local English practices as legitimate communicative resources in an Indonesian coastal context. These findings suggest the need for a more contextual, communicative, and experience-based ELT pedagogy that aligns classroom learning with learners’ real-world social and economic language needs.