The poem “Pemuja” by Melinda Wahyu Gianti represents the psychological complexity of human emotions in confronting happiness and love obsession. This study aims to reveal the symbolic meaning of happiness and love obsession through a qualitative approach using semiotic and hermeneutic methods based on Sigmund Freud’s psychoanalytic theory. Data were obtained from the poem text and analyzed by interpreting signs, symbols, and the mental structure of the lyrical persona. The findings show that the happiness expressed in the lines “Rona merona wajah memesona” and “Tawa memecah suasana” reflects external joy controlled by the ego to channel the impulses of the id. Meanwhile, the obsession with love appears in “Kekasih bilang akan datang ke pelaminan” and “Tak mau pinta untuk datang ke perpisahan”, indicating an excessive desire for emotional possession. The conflict among the id, ego, and superego forms the inner tension of the persona in balancing personal desire and social norms. Thus, the poem illustrates that genuine happiness and love are not solely derived from emotional satisfaction but from moral awareness and self-control. This study reinforces the notion that literature serves as a xreflection of the human psyche, containing profound psychological meanings. ABSTRAK Puisi Pemuja karya Melinda Wahyu Gianti merepresentasikan kompleksitas psikologis manusia dalam menghadapi kebahagiaan dan obsesi cinta. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik kebahagiaan dan obsesi cinta dalam puisi tersebut melalui pendekatan kualitatif dengan metode semiotik dan hermeneutik yang berpijak pada teori psikoanalisis Sigmund Freud. Data diperoleh dari teks puisi yang dianalisis dengan menafsirkan tanda-tanda, simbol, serta struktur kejiwaan tokoh lirik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan yang tampak pada larik “Rona merona wajah memesona” dan “Tawa memecah suasana” merupakan bentuk ekspresi lahiriah yang dikendalikan oleh ego untuk menyalurkan dorongan id. Sementara itu, obsesi cinta muncul pada larik “Kekasih bilang akan datang ke pelaminan” dan “Tak mau pinta untuk datang ke perpisahan” yang memperlihatkan hasrat kepemilikan berlebihan terhadap objek cinta. Konflik antara id, ego, dan superego menjadi dasar terbentuknya ketegangan batin tokoh lirik dalam menyeimbangkan hasrat pribadi dan norma sosial. Dengan demikian, puisi ini menggambarkan bahwa kebahagiaan dan cinta sejati tidak hanya berakar pada pemenuhan emosi, tetapi juga pada kesadaran moral dan pengendalian diri. Hasil penelitian ini mempertegas bahwa karya sastra merupakan cermin kejiwaan manusia yang menyimpan makna psikologis mendalam.