Lely Nur Tachi
Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kesantunan Imperatif dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII SMP Negeri 3 Kebasen Periode Februari Tahun 2023 Lely Nur Tachi; Siti Fathonah
Metafora: Jurnal Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Vol 10, No 1 (2023): April
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/mtf.v10i1.17854

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kesantunan imperatif pada tuturan deklaratif dan tuturan interogatif guru dan siswa di SMP Negeri 3 Kebasen. Masalah pokok dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Bagaimana kesantunan imperatif pada tuturan deklaratif dan interogatif pada guru dan siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia Periode Februari tahun 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti mengambil data lisan dengan cara merekam percakapan guru dan siswa, mentranskipkan percakapan, mengklarifikasikan percakapan ke dalam data yang akan di analisis. Data tersebut akan dikaji menggunakan teori Kunjana Rahardi. Hasil penelitian menunjukan bahwa percakapan guru dan siswa SMP Negeri 3 Kebasen sudah memenuhi kesantunan imperatif. Tuturan yang bermakna imperatif meliputi: (1) tuturan yang bermakna imperatif dalam tuturan deklaratif dengan rincian: (a) tuturan deklaratif suruhan, (b) tuturan deklaratif ajakan, (c) tuturan deklaratif permohonan, (d) tuturan deklaratif persilaan, dan (e) tuturan deklaratif larangan, dan (2) tuturan yang bermakna imperatif dalam tuturan interogatif dengan rincian: (a) tuturan interogatif perintah, (b) tuturan interogatif ajakan, (c) tuturan interogatif permohonan, (d) tuturan interogatif persilaan, dan (e) tuturan interogatif larangan.
REPRESENTASI KEBAHAGIAAN DAN OBSESI CINTA DALAM PUISI PEMUJA KARYA MELINDA WAHYU GIANTI: ANALISIS PSIKOLOGI SASTRA Lely Nur Tachi; Eko Suroso
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.11373

Abstract

The poem “Pemuja” by Melinda Wahyu Gianti represents the psychological complexity of human emotions in confronting happiness and love obsession. This study aims to reveal the symbolic meaning of happiness and love obsession through a qualitative approach using semiotic and hermeneutic methods based on Sigmund Freud’s psychoanalytic theory. Data were obtained from the poem text and analyzed by interpreting signs, symbols, and the mental structure of the lyrical persona. The findings show that the happiness expressed in the lines “Rona merona wajah memesona” and “Tawa memecah suasana” reflects external joy controlled by the ego to channel the impulses of the id. Meanwhile, the obsession with love appears in “Kekasih bilang akan datang ke pelaminan” and “Tak mau pinta untuk datang ke perpisahan”, indicating an excessive desire for emotional possession. The conflict among the id, ego, and superego forms the inner tension of the persona in balancing personal desire and social norms. Thus, the poem illustrates that genuine happiness and love are not solely derived from emotional satisfaction but from moral awareness and self-control. This study reinforces the notion that literature serves as a  xreflection of the human psyche, containing profound psychological meanings. ABSTRAK Puisi Pemuja karya Melinda Wahyu Gianti merepresentasikan kompleksitas psikologis manusia dalam menghadapi kebahagiaan dan obsesi cinta. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik kebahagiaan dan obsesi cinta dalam puisi tersebut melalui pendekatan kualitatif dengan metode semiotik dan hermeneutik yang berpijak pada teori psikoanalisis Sigmund Freud. Data diperoleh dari teks puisi yang dianalisis dengan menafsirkan tanda-tanda, simbol, serta struktur kejiwaan tokoh lirik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan yang tampak pada larik “Rona merona wajah memesona” dan “Tawa memecah suasana” merupakan bentuk ekspresi lahiriah yang dikendalikan oleh ego untuk menyalurkan dorongan id. Sementara itu, obsesi cinta muncul pada larik “Kekasih bilang akan datang ke pelaminan” dan “Tak mau pinta untuk datang ke perpisahan” yang memperlihatkan hasrat kepemilikan berlebihan terhadap objek cinta. Konflik antara id, ego, dan superego menjadi dasar terbentuknya ketegangan batin tokoh lirik dalam menyeimbangkan hasrat pribadi dan norma sosial. Dengan demikian, puisi ini menggambarkan bahwa kebahagiaan dan cinta sejati tidak hanya berakar pada pemenuhan emosi, tetapi juga pada kesadaran moral dan pengendalian diri. Hasil penelitian ini mempertegas bahwa karya sastra merupakan cermin kejiwaan manusia yang menyimpan makna psikologis mendalam.