Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Kadar Air pada Biji Kakao Terhadap Variasi Waktu Penyangraian: Tinjauan Khusus untuk Peningkatan Kualitas Produk: Moisture Content Analysis of Cocoa Beans in Response to Roasting Time Variation: Specific Review for Product Quality Enhancement Nadirah B. Andi Pallawa; Miming Berlian; Sulfianti
Journal of Sustainable Research In Management of Agroindustry (SURIMI) Vol. 4 No. 1 (2024): SURIMI : April 2024
Publisher : Politeknik Negeri Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35970/surimi.v4i1.2264

Abstract

Kadar air dalam biji kakao dianggap penting dalam menentukan kualitas dan aroma produk kakao. Proses penyangraian, terutama variasi waktu penyangraian, menjadi fokus utama dalam mengontrol kadar air dalam biji kakao. Meskipun telah banyak penelitian yang dilakukan mengenai efek parameter penyangraian pada berbagai bahan pangan, penelitian yang mengeksplorasi karakteristik biji kakao setelah penyangraian dengan durasi yang berbeda masih dianggap kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan pengetahuan ini dengan menganalisis kadar air dalam biji kakao yang diberi perlakuan penyangraian dengan variasi waktu. Metode penelitian melibatkan penggunaan biji kakao varietas Forestero yang telah difermentasi dan dikeringkan, serta penyangraian menggunakan suhu awal 135°C dengan durasi 0, 10, 14, dan 18 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan kadar air biji kakao mencapai titik optimal setelah 14 menit penyangraian, di mana penambahan waktu penyangraian lebih lanjut tidak menghasilkan penurunan yang signifikan dalam kadar air. Analisis statistik menegaskan bahwa perlakuan penyangraian selama 10, 14, dan 18 menit menghasilkan hasil yang serupa secara statistik. Temuan ini memberikan wawasan bagi industri kakao untuk mengoptimalkan proses penyangraian guna mencapai tingkat kelembaban yang diinginkan, sambil berkontribusi pada pemahaman ilmiah yang lebih luas tentang pengolahan biji kakao. Implikasi praktis dari penelitian ini dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas produk, sementara kontribusinya terhadap pemahaman teoretis tentang perkembangan flavor kakao dapat menginspirasi penelitian lebih lanjut dalam bidang ini
Pengaruh Waktu Penyangraian Terhadap Aktivitas Antioksidan Biji Kakao Fermentasi Pallawa, Nadirah B. Andi; Salam, Miming Berlian Hi B; Mantoki, Servans
Media Pertanian Vol 10, No 2 (2025): Media Pertanian
Publisher : Program Studi Agroteknologi Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37058/mp.v10i2.15176

Abstract

Biji kakao (Theobroma cacao) merupakan sumber antioksidan alami yang potensial, terutama senyawa polifenol, yang keberadaannya dapat terpengaruh oleh proses pengolahan, termasuk penyangraian. Proses penyangraian berperan penting dalam menentukan kualitas akhir kakao, tidak hanya dari sisi sensori tetapi juga bioaktivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh waktu penyangraian (10, 14, 18, dan 22 menit) terhadap aktivitas antioksidan biji kakao fermentasi. Analisis dilakukan menggunakan metode DPPH dan dinyatakan dalam nilai IC50 (mg/mL) dengan Rancangan Acak Lengkap satu faktor. Hasil menunjukkan perbedaan signifikan antar perlakuan (p 0,05), di mana aktivitas antioksidan tertinggi (IC50 terendah sebesar 6,29 - 4,45 mg/mL) diperoleh pada penyangraian selama 22 menit. Peningkatan aktivitas ini diduga terkait dengan pembentukan senyawa hasil reaksi Maillard. Dalam kondisi penelitian pada suhu 135 'C, waktu penyangraian 22 menit memberikan aktivitas antioksidan tertinggi sehingga dapat dipertimbangkan sebagai waktu yang paling menguntungkan. Namun, studi optimasi lebih lanjut dengan variasi suhu dan kondisi proses lain masih diperlukan untuk menetapkan waktu penyangraian yang benar-benar optimal.  Cocoa beans (Theobroma cacao) are a rich source of natural antioxidants, particularly polyphenolic compounds, the stability of which may be affected by post-harvest processing, including roasting. Roasting plays a crucial role in shaping the sensory quality of cocoa and influencing its bioactivity. This study aimed to evaluate the effects of different roasting durations (10, 14, 18, and 22 min) on the antioxidant activity of fermented cocoa beans. Antioxidant activity was measured using the DPPH method and expressed as IC50 (mg/mL) under a completely randomized design. Significant differences were observed among the treatments (p 0.05), with the highest antioxidant activity (lowest IC50 of 6.29 ± 4.45 mg/mL) achieved after 22 min of roasting. This enhancement is likely associated with the formation of Maillard reaction products during roasting. Under the roasting conditions applied in this study (135 °C), a duration of 22 min provided the highest antioxidant activity and can be considered the most favourable time. Nevertheless, further optimisation studies involving different temperatures and processing conditions are required to establish the truly optimal roasting time. 
Optimasi Suhu Pemanasan Minuman Fungsional Ubi Jalar Ungu : Bioaktif, BAL dan Organoleptik Basrin, Fitriani; Sulfianti, Sulfianti; Berlian, Miming; Andi Pallawa, Nadirah B; Indriasari, Yuanita; If'all, If'all; Chaniago, Ramadhani
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 19, No 3 (2025): TEKNOTAN, Desember 2025
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol19n3.10

Abstract

Tren gaya hidup sehat mendorong pengembangan minuman fungsional berbasis ubi jalar ungu karena praktis, bergizi, dan digemari masyarakat. Namun, tantangan utama terletak pada proses pengolahan, khususnya pemanasan. Antosianin sangat sensitif terhadap suhu tinggi, pH, oksidasi, dan cahaya, sehingga mudah terdegradasi selama pemrosesan. Selain itu, viabilitas bakteri asam laktat sebagai mikroba probiotik sangat bergantung pada suhu pemrosesan. Untuk perlu dilakukan kajian tentang pengaruh suhu pemanasan terhadap bioaktif, viabilitas bakteri asam laktat dan organoleptik minuman fungsional ubi jalar ungu agar diperoleh suhu pemrosesan yang optimal. Penelitian ini didesain menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan faktor suhu pemanasan yaitu 70oC; 80oC; 90oC; 100oC. Perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga diperoleh 20 sampel percobaan yang diuji kadar antosianin, aktivitas antioksidan, total bakteri asam laktat dan tingkat kesukaan secara organoleptik (uji hedonik) menggunakan 20 orang panelis terlatih. Perlakuan pemanasan dengan berbagai suhu (70 – 100oC) terbukti berpengaruh signifikan terhadap bioaktif seperti kadar antosianin dan aktivitas antioksidan, viabilitas bakteri asam laktat, dan tingkat kesukaan minuman fungsional ubi jalar ungu, dimana penggunaan suhu 70oC masih dapat mempertahankan bioaktif dari produk minuman fungsional dengan kadar antosianin sebesar 81,72 mg/L dan aktivitas antioksidan (IC50) sebesar 11,61 µg/mL (aktivitas antioksidan sangat kuat). Untuk viabilitas BAL perlakuan suhu 70 – 100oC terbukti menurunkan jumlah BAL yang ada di dalam produk secara signifikan (<107 CFU/L) dengan total BAL berkisar 0,0407 – 6,06 x 104 CFU/L. Sementara tingkat kesukaan secara organoleptik diperoleh suhu 80oC mampu menghasilkan produk minuman fungsional yang paling disukai oleh panelis baik tekstur (4,5), rasa (4,55), aroma (3,65) dan warnanya (3,45).