Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengembangan Model Bisnis dan Rantai Nilai Budidaya lebah Apis mellifera.L Skala Kecil dan Menengah di Provinsi Riau Andhika Silva Yunianto; Avry Pribadi; Hery Kurniawan; Ahmad Junaedi; Siti Wahyuningsih; Michael Daru Enggar Wiratmoko
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 18 No 1 (2024): March
Publisher : Faculty of Forestry Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jik.v18i1.6560

Abstract

Beekeeping practice was an alternative livelihood for communities around forest areas, offering a potential solution to reduce conflicts arising from the use and management of this ecosystem. Starting in the COVID-19 pandemic, the government introduced Apis mellifera from Java island into honey production in Sumatra due to its high productivity and adaptability to new environments. Therefore, this research aimed to explore the challenges and develop business models and value chains associated with commercializing Apis mellifera honey. The analysis used a qualitative descriptive method through observation and in-depth interviews with beekeeping entrepreneurs. There were two sales systems. The first was direct from beekeepers, and the second was indirect sales systems facilitated by collectors/industries. The collectors/industries gained a significant profit, approximately IDR. 80,000.00/kg, while beekeepers only received a minimum selling price. Marketing became a significant issue as beekeepers tended to focus more on cultivation efforts, resulting in a simplistic method of honey sales. Consequently, providing maximum economic value to the communities around the forest areas required synergy and assistance from related sectors.
Mangrove State Forest and Communities’ Welfare: A Case Study In Sagulung and Sei Beduk Sub-District, Batam,Indonesia siti wahyuningsih; Andhika Silva Yunianto; Avry Pribadi; Hery Kurniawan; Ahmad Junaedi; Michael Daru Enggar Wiratmoko; Sunardi
Jurnal Archipelago Vol 2 No 02 (2024): Jurnal Archipelago
Publisher : Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69853/ja.v2i02.31

Abstract

Konflik antara masyarakat pesisir di Kecamatan Sagulung dan Bagan, Kota Batam, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan hidup, dan perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait pembalakan liar di hutan bakau negara sudah terjadi bertahun-tahun. Sebaliknya, pemerintah daerah mengembangkan perencanaan kota yang mengalokasikan sebagian kawasan hutan negara untuk beberapa pembangunan. Wawancara semi terstruktur digunakan untuk mengumpulkan informasi dari tokoh masyarakat, pemilik dan pekerja industri arang bakau, LSM dan perwakilan KLHK mengenai pembalakan liar bakau. Masyarakat lokal bersedia menghentikan pembalakan liar dan mencari pekerjaan lain. Namun, masyarakat mengharapkan pemerintah daerah untuk melegalkan industri arang bakau. Sementara itu, LSM tersebut tidak dapat mentolerir penebangan liar di kawasan hutan bakau negara dan berkomitmen untuk menuntut para pembalak liar. Terkait illegal logging, KLHK menampung pengaduan masyarakat mengenai kerusakan hutan dan mengelola konservasi hutan negara. Hutan Lindung Mangrove Matang di Malaysia dan konsesi hutan bakau di Teluk Bintuni dan Kubu Raya, Indonesia, telah mewujudkan hutan bakau lestari dengan menerapkan sistem silvikultur dan peraturan yang tepat dari pihak berwenang. Di sisi lain, budidaya lamun cukup prospektif di Kota Batam. Namun pengumpulan lamun saat ini akan merugikan populasi ikan di masa depan. Kesimpulannya, pengelolaan hutan sangat penting dalam mengembangkan hutan bakau berkelanjutan sebagai penghidupan Masyarakat pesisir.