Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kampung sehat: transformasi masyarakat melalui edukasi PHBS, scabies, malaria, tuberkulosis, hipertensi dan jumat bersih di kampung Yobeh kabupaten Jayapura Ellen R. V. Purba; Ester Rumaseb; Elisabeth Mebri; Gemi Rahayu; Fitri Diah Muspitha; Rospuana Mandowen; Yudi Prayitno
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.24073

Abstract

AbstrakTransformasi masyarakat di kampung Yobeh Jayapura melalui edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta pemahaman mengenai penyakit seperti scabies, malaria, tuberkulosis, dan hipertensi merupakan upaya penting dalam meningkatkan kualitas hidup. Program tambahan seperti "Jumat Bersih" juga memainkan peran krusial dengan mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan kesadaran kolektif, dan mengajarkan tanggung jawab bersama dalam menciptakan lingkungan yang sehat. Melalui kombinasi edukasi kesehatan dan prakarsa komunitas, diharapkan terjadi penurunan prevalensi penyakit dan peningkatan kesejahteraan masyarakat kampung Yobeh secara keseluruhan. Kegiatan tersebut bertujuan untuk membentuk kebiasaan hidup sehat, seperti mencuci tangan, menggunakan air bersih, dan menjaga kebersihan lingkungan, yang efektif dalam mencegah penyakit. Pelaksanaan kegiatan dilakukan di Kampung Yobeh Kabupaten Jayapura Papua pada tanggal tanggal 20 Maret 2024 dengan metode diskusi dan sosialisasi melalui penyuluhan langsung, pelatihan kader kesehatan desa, pemeriksaan kesehatan, edukasi rekayasa lingkungan pencegahan malaria dan Program "Jumat Bersih". Evaluasi dan pemantauan dilakukan secara berkala untuk menilai efektivitas kegiatan dan menentukan langkah-langkah perbaikan yang diperlukan. Kegiatan diikuti oleh masyarakat yang berjumlah 68 orang yang berada di Wilayah Kampung Yobeh Kabupaten Jayapura Papua. Hasil pemberdayaan menunjukan tingkat kesadaran masyarakat tentang pentingnya kebersihan dan pencegahan penyakit meningkat dengan rutin mencuci tangan dengan sabun dan menggunakan air bersih. Peningkatan pengetahuan masyarakat menunjukan bahwa pengetahuan tentang PHBS (83%), scabies (76%), malaria (85%) tuberculosis (80%) dan hipertensi (81%). Pemeriksaan kesehatan rutin berhasil mendeteksi lebih awal kasus hipertensi, sehingga penanganannya lebih cepat dan efektif. Program "Jumat Bersih" berhasil menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, mengurangi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab malaria. Kata kunci: hipertensi; jumat bersih; malaria; scabies; transformasi masyarakat; tuberculosis AbstractThe transformation of the community in Yobeh Jayapura village through education on Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) and understanding of diseases such as scabies, malaria, tuberculosis, and hypertension is an important effort to improve the quality of life. Additional programs such as "Clean Friday" also play a crucial role by encouraging active community participation in maintaining environmental cleanliness, raising collective awareness, and teaching shared responsibility in creating a healthy environment. Through a combination of health education and community initiatives, it is hoped that there will be a decrease in disease prevalence and an improvement in the overall welfare of the Yobeh village community. The activity aims to form healthy living habits, such as washing hands, using clean water, and maintaining a clean environment, which are effective in preventing diseases. The implementation of the activity was carried out in Yobeh Village, Jayapura Regency, Papua on  March 20, 2024 with discussion and socialization methods through direct counseling, training of village health cadres, health checks, environmental engineering education for malaria prevention and the "Clean Friday" Program. Evaluation and monitoring are carried out periodically to assess the effectiveness of activities and determine necessary improvement measures. The activity was attended by a community of 68 people in the Yobeh Village Area, Jayapura Regency, Papua. The results of the empowerment show  that the level of public awareness about the importance of hygiene and disease prevention has increased by regularly washing hands with soap and using clean water. The increase in public knowledge showed that knowledge about PHBS (83%), scabies (76%), malaria (85%), tuberculosis (80%) and hypertension (81%). Routine health checks have succeeded in detecting cases of hypertension early, so that the treatment is faster and more effective. The "Clean Friday" program has succeeded in creating a cleaner and healthier environment, reducing the breeding grounds of mosquitoes that cause malaria. Keywords: hypertension; clean friday; malaria; scabies; community transformation; tuberculosis
Edukasi kesehatan reproduksi sebagai upaya pencegahan perilaku seksual pada remaja di Kampung Skouw Sae Distrik Muara Tami tahun 2025 Fitri Dia Muspitha; Ester Rumaseb; Gemi Rahayu; Sofietje Gentindatu; Elisabeth Mebri; Rospuana Mandowen
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.35567

Abstract

Abstrak Masa remaja merupakan fase transisi yang rentan terhadap berbagai perilaku berisiko, termasuk perilaku seksual pranikah. Minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dapat mendorong remaja untuk melakukan aktivitas seksual tanpa pemahaman yang memadai mengenai risiko kesehatan dan sosial yang ditimbulkan. Edukasi reproduksi menjadi salah satu strategi penting dalam pencegahan perilaku seksual berisiko. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi peran edukasi reproduksi dalam meningkatkan pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi dan mengurangi kecenderungan mereka terhadap perilaku seksual berisiko. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan metode pemberdayaan masyarakat melalui  penyuluhan yang dilakukan dengan pendekatan partisipatif dan terstruktur. Kegiatan ini dimulai dengan melakukan survei awal untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan dan kebutuhan kesehatan masyarakat khusunya pada remaja . selanjutnya diadakan sesi penyuluhan melalui ceramah, diskusi terkait kesehatan reproduksi. Kegiatan ini di ikuti oleh 25 Remaja di Kampung Skouw Sae . Evaluasi dan pemantauan dilakukan secara berkala untuk menilai efektifitas kegiatan ini setelah serangkaian sesi penyuluhan, remaja menjadi lebih memahami pengertian, penyebab, dampak yang terjadi dan cara pencegahan. Hasil menunjukkan bahwa edukasi reproduksi yang diberikan secara komprehensif sejak dini dan melalui pendekatan yang sesuai dengan usia, mampu meningkatkan kesadaran remaja dan menurunkan angka perilaku seksual yang tidak sehat. Dengan demikian penting bagi keluarga dan masyarakat untuk bersinergi dalam menyediakan edukasi reproduksi yang efektif bagi remaja Kata kunci: edukasi reproduksi; remaja; perilaku seksual; kesehatan reproduksi. Abstract Adolescence is a transitional phase that is vulnerable to various risky behviors, including premarital sexual behavior. Lack of knowledge about reproductive health can encourage adolescents to engage in sexual activity without adequate understanding of the health and social riska involved. Reproductive education is an important strategy ini preventing risky sexual behavior. This activity aims to evaluate the role of reproductive education in improving adolescents understanding of reproductive health and reducing their tendency towards risky sexual behavior. The implementation of the activity is carried out using the community empowerment method through counseling carried out with a participatory and structured approach. This activity begins with conducting an initial survey to identify the level of knowledge and health needs of the community, especially adolescents. Then a counseling session is held through lectures, discussions related to reproductive health. This activity was attended by 25 adolescents in skouw sae village. Evalution and monitoring are carried out periodically to assess the effectiveness of this activity after a seires of counseling session, adolescents become more aware of the meaning , causes, impacts thet occur and how to prevent it. The results show that reproductive education provided comprehensively from an early age and through an approach that is appropriate to age and culture, can  increase adolescent awareness and reduce the number of unhealthy sexual behaviors. Thus, it is important for families and communities to work together to provide effective reproductive education for adolescents. Keywords: reproductive education; adolescents; sexual behavior; reproductive health.
Pembinaan dan penyegaran kader posyandu lansia di Kampung Sereh Distrik Sentani Kabupaten Jayapura Frans Manangsang; Ester Rumaseb; Ellen R.V. Purba; I Ketut Swastika; Rospuana Mandowen; Sri Rejeki Pongtiku; Dedri Manemi; Nurhaniati Surbakti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.27373

Abstract

AbstrakKader Posyandu Lansia di Kampung Sereh, Distrik Sentani, menghadapi keterbatasan dalam pemahaman terkait penanganan kesehatan lansia, minimnya pelatihan berkala, serta kurangnya motivasi dalam menjalankan tugas. Kondisi ini mengakibatkan penurunan efektivitas pelayanan dan pendampingan kesehatan bagi warga lansia. Oleh karena itu, pembinaan dan penyegaran dilakukan untuk meningkatkan kapasitas kader dan mendukung keberlanjutan program Posyandu Lansia secara optimal. Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam melakukan skrining, pencegahan, dan pengendalian penyakit degenerative untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Metode pelaksanaan pengabdian masyarakat untuk pembinaan dan penyegaran kader posyandu lansia melibatkan beberapa tahapan utama yang berlangsung dari April-September 2024 terhadap 10 kader posyandu lansia. Pertama, dilakukan persiapan yang meliputi identifikasi kebutuhan kader melalui survei awal dan koordinasi dengan stakeholder terkait. Pelaksanaan kegiatan meliputi pelatihan intensif bagi kader posyandu yang mencakup teori dan praktik terkait hipertensi, asam urat, dan diabetes mellitus. Setelah pelatihan, dilakukan penyegaran materi secara berkala serta pendampingan dan monitoring untuk memastikan penerapan pengetahuan dan keterampilan di lapangan. Evaluasi kegiatan menunjukkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader. Setelah mengikuti pelatihan, terdapat peningkatan pengetahuan kader sebesar 35%, dari rata-rata awal 60% menjadi 95%. Keterampilan praktis kader dalam melakukan skrining dan edukasi kesehatan juga meningkat sebesar 40%, dari 55% menjadi 95%. Peningkatan juga tergambar dalam partisipasi kader yang lebih aktif dalam kegiatan posyandu, yang berkontribusi pada peningkatan kualitas layanan kesehatan lansia di wilayah tersebut. Penerapan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan berkontribusi pada pengurangan ketidakhadiran masyrakat dan peningkatan deteksi dini penyakit, dengan potensi dampak positif jangka panjang bagi kesehatan lansia di Kampung Sereh. Kata kunci: pembinaan; kader posyandu; penyakit degenerative; lansia; Jayapura. AbstractThe elderly Posyandu cadres in Kampung Sereh, Sentani District, face limitations in their understanding of elderly health management, a lack of regular training, and reduced motivation in performing their duties. These challenges have resulted in decreased effectiveness in providing health services and assistance to the elderly population. Therefore, this training and capacity-building initiative aims to enhance the cadres' competencies and ensure the sustainability of the elderly Posyandu program effectively. The activity aims to improve the knowledge and skills of cadres in screening, prevention, and control of degenerative diseases to improve the quality of life of the elderly. The method of implementing community service for the development and refreshment of elderly posyandu cadres involves several main stages that take place from April to September 2024. First, preparations were made which included the identification of cadre needs through initial surveys and coordination with relevant stakeholders. The implementation of the activity includes intensive training for posyandu cadres which includes theory and practice related to hypertension, gout, and diabetes mellitus. After the training, periodic refreshments of material are carried out as well as mentoring and monitoring to ensure the application of knowledge and skills in the field. Eavluasi activities show significant results in improving the knowledge and skills of cadres. After participating in the training, there was an increase in cadre knowledge by 35%, from the initial average of 60% to 95%. The practical skills of cadres in conducting health screening and education also increased by 40%, from 55% to 95%. The increase is also reflected in the participation of cadres who are more active in posyandu activities, which contributes to improving the quality of elderly health services in the region. The application of knowledge and skills gained through training contributes to reducing community absenteeism and improving early detection of diseases, with potential long-term positive impacts on the health of the elderly in Kampung Sereh. Keywords: construction; posyandu cadres; degenerative diseases; the elderly; Jayapura.