Welem Linggi Turupadang
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbandingan Pertumbuhan Dan Kualitas Rumput Laut (Kappaphycus striatum) Dengan Penerapan Metode Budidaya Keramba POD Dan Metode Longline Di Desa Huilelot Pulau Semau Nusa Tenggara Timur Indriyani Kaolang Sindrang; Yuliana Salosso; Welem Linggi Turupadang
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 2 (2025): April 2026 (In progress)
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i2.7561

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan dan kualitas rumput laut Kappaphycus striatum yang dibudidayakan menggunakan dua metode berbeda, yaitu keramba Portable Offshore Device (POD) dan longline, di perairan Batuhopon, Desa Huilelot, Pulau Semau, Kabupaten Kupang. Perbedaan metode budidaya diduga berpengaruh terhadap laju pertumbuhan biomassa, insidensi penyakit ice–ice, serta kondisi kualitas lingkungan selama pemeliharaan. Penelitian dilaksanakan selama 45 hari menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 30 titik sampel, masing-masing metode terdiri atas 15 titik dengan berat bibit awal 100 gram. Parameter yang diamati meliputi laju pertumbuhan rata-rata, laju pertumbuhan spesifik (SGR), pertumbuhan berat mutlak, insidensi penyakit ice–ice, serta kualitas air (suhu, salinitas, pH, kedalaman, kecerahan, dan kecepatan arus). Analisis data dilakukan menggunakan uji t independen untuk mengetahui perbedaan signifikan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode longline memberikan pertumbuhan biomassa yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan keramba POD. Nilai pertumbuhan rata-rata harian dan pertumbuhan mutlak pada longline meningkat konsisten hingga akhir pengamatan, sedangkan pada metode POD mengalami penurunan tajam mulai minggu ke-5. SGR pada longline juga lebih tinggi dan stabil, sementara metode POD menunjukkan penurunan hingga bernilai negatif pada minggu akhir. Selain itu, insidensi penyakit ice–ice pada metode POD jauh lebih tinggi dibandingkan longline, terutama pada minggu ke-6. Kondisi ini terkait dengan sirkulasi air yang kurang optimal, shading antar thallus, dan fluktuasi kualitas air yang lebih besar pada keramba POD. Secara keseluruhan, metode longline terbukti lebih efektif untuk budidaya K. striatum karena mampu menghasilkan pertumbuhan yang optimal, menekan risiko penyakit, serta memberikan kondisi lingkungan yang lebih mendukung. Temuan ini dapat menjadi acuan dalam pengembangan budidaya rumput laut yang lebih efisien dan berkelanjutan.Kata kunci : K. striatum, keramba POD dan longline, pertumbuhan spesifik (SGR), berat mutlak, insidensi ice–ice, kualitas air.
OPTIMALISASI LOKASI PENANAMAN RUMPUT LAUT KAPPAPHYCUS ALVAREZII UNTUK MENINGKATKAN KELANGSUNGAN HIDUP, PETUMBUHAN MUTLAK DAN KANDUNGAN KARAGENAN Graselia Fallo; Ade Yulita H. Lukas; Welem Linggi Turupadang
Jurnal Aquatik Vol 9 No 1 (2026): Edisi Maret 2026
Publisher : Nusa Cendana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kappaphycus alvarezii is a high-value seaweed commodity widely cultivated as a primary source of carrageenan. The success of its cultivation is strongly influenced by environmental conditions, including the planting distance from the shoreline, which may affect water quality and growth performance. This study aimed to assess the effect of different planting distances on growth, survival rate, and carrageenan content of K. alvarezii. The experiment was conducted for 45 days in Oenaek waters using a Completely Randomized Design (CRD) with three treatments and three replicates, namely planting distances of 100 m (A), 300 m (B), and 500 m (C) from the shoreline. Data were analyzed using ANOVA, followed by post-hoc tests at a 95% confidence level when significant differences were observed. Results revealed that planting distance significantly affected absolute growth (p<0.05), with the highest value recorded in treatment C (500 m) at 163.11 ± 0.31 g. The highest carrageenan content was obtained in treatment B (300 m) at 18.226%, while survival rate reached 100% across all treatments. These findings highlight that planting distance influences both growth and carrageenan yield, suggesting that site selection should be aligned with production objectives, whether to maximize biomass or optimize carrageenan content. Keywords: Kappaphycus alvarezii, survival, absolute growth, carrageenan, water quality