Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

DINAMIKA EKOSISTEM INDUSTRI MUSIK INDONESIA PADA MASA PANDEMI COVID-19 Puji Hastuti, S.Sos.
Masyarakat Indonesia Vol 46, No 2 (2020): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v46i2.918

Abstract

Tulisan ini bermaksud menguraikan kehidupan pekerja dalam ekosistem industri musik Indonesia yang mengalami perubahan pada masa Pandemik Covid-19. Ekosistem industri musik yang semula sangat mengandalkan ruang pertemuan fisik dan komunal harus beradaptasi dengan kebijakan pembatasan sosial akibat pandemik. Kondisi tersebut yang menarik perhatian penulis untuk mengamati dinamika kehidupan para pekerja industri musik dalam menghadapi keterbatasan tersebut. Dalam kurun waktu ditetapkannya kebijakan pembatasan sosial hingga adaptasi kebiasaan baru atau dikenal dengan new normal, penulis melakukan pengamatan terhadap kegiatan pekerja industri musik yang ditampilkan dalam beberapa platform media digital. Hasilnya, penulis menemukan geliat para pekerja industri musik Indonesia dalam menghadapi pandemik Covid-19 mencakup beberapa aspek berikut: 1) solidaritas komunal, 2) adaptasi kebiasaan, 3) eksplorasi ruang komunal digital, dan 4) masa kontemplasi dan menghasilkan karya baru. Kesimpulan dari hasil temuan tersebut, pandemik Covid-19 telah menumbuhkembangkan kembali semangat komunalitas, meski sekaligus juga menampilkan celah bagi absennya peran negara terhadap jaminan kesejahteraan pekerja industri musik yang layak. Disamping menguatnya ikatan komunalitas pekerja, keterbatasan akibat pandemik justru membuka peluang usaha lain bagi para pekerja industri musik. Terakhir, pandemik Covid-19 dapat menjadi momentum bagi era baru ekosistem industri musik Indonesia dengan kemajuan teknologi pertunjukan digital dan rilisan karya baik audio maupun video yang dapat digarap menggunakan media rekam sederhana dari rumah atau home recording.
Migrasi dalam perspektif semiotika etnodemografi dan gender: Kasus masyarakat di hulu Sembakung, Kalimantan Utara Puji Hastuti
Jurnal Kependudukan Indonesia Vol 17, No 1 (2022)
Publisher : Research Centre for Population, National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jki.v17i1.701

Abstract

State border areas are often considered rigid and isolated spaces, and this assumption is usually not in accordance with reality on the ground. Communities in border regions of Indonesia have kinship ties across countries, such as life across borders that occur in the upper Sembakung River. The river flows in the border area of North Kalimantan and upstream in Sabah, Malaysia. The problem occurs when to conduct social interaction, the population in the border area must conduct various negotiations on the rules of the spatial state. The natural morphology of the Sembakung River crossing connects the ethnic interactions of the population at the country's borderline, which is often assumed to threaten sovereignty. The concentration of state territory space, a legacy of colonial cartography, is not in line with the social boundaries of the population formed by the natural morphology of the Sembakung River channel, which provides space for residents to penetrate state boundaries. This paper explores cross-border interactions through the flow of the Sembakung River, which is strengthened by life cycle rites through the Mauss gift scheme, which is prone to creating marginalization of women. Cross-border social ties have penetrated rigid territorial boundaries. This situation resulted in the infiltration of economic commodities mobility intertwined with people's cultural activities in hulu Sembakung, a group of population with dual citizenship, and the practice of rites of exchange that are vulnerable to women's marginalization.
LUNANG TLA OTA INE: MEMAHAMI KEBUDAYAAN KOMUNITAS ADAT PUNAN ADIU DAN PRAKTIK DISKURSIF PELESTARIAN HUTAN Puji Hastuti
Masyarakat Indonesia Vol 49, No 1 (2023): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v49i1.1232

Abstract

Lunang Tla Ota Ine merupakan falsafah hidup komunitas Punan Adiu di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara dalam mengelola hutannya. Secara harfiah, “Lunang Tla Ota Ine” dimaknai oleh komunitas sebagai hutan adalah air susu ibu. Konsep budaya ini mencerminkan pandangan hidup dan hubungan yang mendalam antara komunitas Punan Adiu dengan ekosistem hutan yang menjadi tempat tinggal mereka. Artikel ini menggunakan pendekatan antropologi budaya untuk memahami bagaimana pandangan hidup dan hubungan antara masyarakat Punan Adiu dan ekosistem hutam mereka yang tercermin dalam konsep budaya “Lunang Tla Ota Ine”. Dalam kerangka antropologi budaya, "Lunang Tla Ota Ine" menunjukkan kompleksitas budaya dan ekologi yang tumbuh bersama dalam kehidupan sehari-hari komunitas Punan Adiu. Hutan bukan hanya sekadar sumber daya alam, tetapi juga merupakan aspek kultural dan spiritual yang penting dalam kehidupan komunitas Punan Adiu. Falsafah  Lunang Tla Ota Ine yang dibahas dalam artikel ini meliputi penjagaan hutan melalui hubungan budaya dan lingkungan, peran komunitas adat dalam pelestarian lingkungan, dan peran komunitas adat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Hasilnya, “Lunang Tla Ota Ine” mencerminkan sistem nilai, praktik kehidupan sehari-hari, dan interaksi sosial di antara anggota komunitas Punan Adiu yang tinggal dalam ekosistem hutan secara lintas generasi. Lunang Tla Ota Ine menjadi praktik diskursif pengelolaan hutan dari komunitas adat Punan Adiu berpotensi menjadi pusaka budaya yang menyelamatkan dunia. 
Embodied Technology: The Hybrid Cultural Materiality of the Tempayan in Hulu Sembakung Afdil Hafidh; Puji Hastuti
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 9, No 2 (2026): June
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.9.2.271-284

Abstract

Technology in anthropological inquiry is not understood merely as an instrumental device, but rather as embodied materiality relations, movements, and meanings sedimented within an object. Drawing on Martin Heidegger’s notion of technology as enframing, this article explores the tempayan in the culture of the Hulu Sembakung community as a form of embodied technology enacted through ritual practices and social life. The tempayan emerges as a hybrid cultural materiality, the product of a historical synthesis between Chinese porcelain ceramics and local systems of meaning reproduced through ritual. Through the process of enframing, the tempayan is positioned as a ritual technology detached from the logic of its material origins, in contrast to the way porcelain is understood within Chinese culture. The Hulu Sembakung community engages in a process of revealing the tempayan through cultural rites that reinforce social cohesion, including within the context of cross-border relations. By employing a materiality-based approach across space and time, this article demonstrates how the mobility of the tempayan records historical networks and human movements that often diverge from the state’s territorial logic. Such mobility of cultural materiality generates friction with state materiality—that is, the state’s attempt to produce sovereignty through static territorial regulation. The findings of this article affirm that embodied cultural materiality, as exemplified by the tempayan in Hulu Sembakung, is capable of penetrating and unsettling the mythologised boundaries of sovereignty imposed by the state.