Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Teacher's Journey in Understanding, Interpreting, and Applying the Concept of Merdeka Belajar in IPAS Learning Zulia Nurul Faizah; Hayuni Retno Widarti; Sri Rahayuningsih; Shirly Rizki Kusumaningrum; Radeni Sukma Indra Dewi
Ta'dib Vol 27, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/jt.v27i1.12199

Abstract

The concept of merdeka belajar is a characteristic of the kurikulum merdeka. This concept is the basis for teachers in implementing learning, including in the IPAS subject. The purpose of this study is to describe how teachers understand, interpret, and apply independent learning in IPAS learning as well as efforts to continue to fight for IPAS learning with interesting presentations. Data were obtained through interviews, observations, documentation at SDN Banaran 2 Kandangan Kediri which were then described qualitatively descriptively, analyzed using the Miles and Huberman technique, and validated by triangulation. The results of this study show that the merdeka mengajar platform is a medium for teachers to understand merdeka bealajar, reflection on recognizing themselves and their role as educators as an effort to interpret merdeka bealajar, and the obligation to complete independent training on the merdeka mengajar platform; binding policies from structural education authorities from sub-districts and school clusters; and the absence of guidelines that truly integrate science and social studies in learning are the difficulties of teachers in implementing merdeka bealajar. This research can be a consideration for policy holders, curriculum developers, and education practitioners as an effort to optimally implement the independent curriculum.
Curriculum learning organization (study at Madrasah Ibtidaiyah) Zulia Nurul Faizah; Oktaviani Adhi Suciptaningsih; Siti Faizah
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 4 (2024): Inovasi Kurikulum, November 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i4.75807

Abstract

The role of the curriculum for educational units is absolute. Therefore, curriculum development must be adjusted to the madrasah environment's identity and potential, including in organizing learning. The organization of learning is closely related to the learning process. This can also be one of the community's attractions to the madrasah. This study aims to examine the components of organizing intracurricular, co-curricular, and extracurricular learning at MI Miftahul Ulum Bukur. Researchers used interviews and documentation. The research findings state that intracurricular learning on national content is arranged and carried out according to the guidelines of the Ministry of Education, Culture, Research and Technology and the Decree of the Minister of Religion but also maintains the potential of teachers such as maintaining science and social studies subjects that apply in each semester for all levels of grades III-VI. The local content that is applied shows the madrasah's identity, such as Mabadi, 'Alala, and BTQ. Co-curricular learning is carried out through P5RA activities, and the selection of activities is based on the needs and availability of surrounding resources. Extracurricular learning as an effort of madrasah to achieve in non-academic fields offers scouting activities, drumband, qira'at, banjari, speech (English and Indonesian), calligraphy, and English. This research can be used as a reference for other madrasahs to observe, imitate, and modify the organization according to their educational units. AbstrakPeran kurikulum bagi satuan pendidikan adalah hal yang mutlak. Oleh karenanya, pengembangan kurikulum harus disesuaikan dengan identitas dan potensi lingkungan madrasah termasuk dalam mengorganisasikan pembelajaran. Pengorganisasian pembelajaran memiliki keterkaitan yang erat dengan proses pembelajaran. Pula hal ini bisa menjadi salah satu daya tarik masyarakat terhadap madrasah. Penelitian ini bertujuan mengkaji komponen pengorganisasian pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler MI Miftahul Ulum Bukur. Peneliti menggunakan wawancara dan dokumentasi. Temuan penelitian menyatakan bahwa pembelajaran intrakurikuler pada muatan nasional disusun dan dilakukan sesuai pedoman Kemdikbudristek dan Keputusan Menteri Agama namun juga tetap mempertahankan potensi guru seperti mempertahankan mata pelajaran IPA dan IPS berlaku di tiap semester untuk semua jenjang kelas III-VI. Sedangkan muatan lokal yang terapkan benar-benar menunjukkan identitas madrasah seperti Mabadi, ‘Alala, dan BTQ. Pembelajaran kokurikuler dilaksanakan melalui kegiatan P5RA dan pemilihan kegiatannya berdasarkan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya sekitar. Pembelajaran ekstrakurikuler sebagai upaya madrasah untuk berprestasi dibidang non akademik menawarkan kegiatan pramuka, drumband, qira’at, banjari, pidato (bahasa Inggris dan bahasa Indonesia), kaligrafi, serta bahasa Inggris. Penelitian ini bisa dijadikan referensi bagi madrasah lain untuk mengamati, meniru, dan memodifikasi pengorganisasian tersebut sesuai satuan pendidikannya.Kata Kunci: ekstrakurikuler; intrakurikuler; kokurikuler; kurikulum
Pengembangan Modul Ajar IPAS Berbasis Visual Media Sosial Untuk Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Zulia Nurul Faizah; Oktaviani Adhi Sucipttaningsih
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 13 No. 3 (2024): DIDAKTIKA Agustus 2024
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.896

Abstract

Media sosial tidak lepas dari kehidupan siswa sebagai akibat dari pesatnya perkembangan teknologi. Namun, hal itu tidak diiringi dengan fondasi kebijaksanaan dalam beraktifitas di media sosial. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan modul ajar dengan konsep visual media sosial yang sebagai kampanye bijak menggunakan media sosial. Modul ajar dikembangkan melalui tahapan model pengembangan 4D (Define-Design-Develop-Dissemination). Pengembangan ini berdasarkan data dari hasil wawancara dengan guru kelas IV dan diperkuat dengan literatur review baik ilmiah dan non ilmiah. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV jenjang Sekolah Dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul ajar yang dikembangkan mendapatkan presentase hasil 85% dengan kategori sangat layak. Modul ajar diharapkan menjadi sarana siswa dalam memahami peran, tugas, tanggung jawab, dan interaksi sosial didalam masyarakat digital dengan selalu menjaga adab di media sosial sebagai wujud usaha menciptakan masyarakat yang beradab dan sesuai dengan profil pelajar Pancasila.