Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengembangan Dan Pemasaran Hasil Pertanian Melalui E-Commerce Dan Media Sosial di Dusun Jurang Magelang Dhea Octavia Saputri; Cicilia Selita Dewi; Dinda Jatiasih Alimaskus; Fahri Rafif Ararik; Wahyu Bagus Hindrawan; Azhfar Farza Mahendra; ikhsan Fauzi Adha
AKM Vol 5 No 1 (2024): AKM : Aksi Kepada Masyarakat Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat - Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Syariah (STEBIS) Indo Global Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36908/akm.v5i1.1167

Abstract

Pengembangan teknologi telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di Indonesia. Salah satu dampak utamanya adalah perubahan dalam pola pikir dan perilaku masyarakat, yang beralih ke teknologi modern untuk memenuhi kebutuhannya. Kemajuan teknologi memengaruhi sektor ekonomi, terutama dengan meningkatkan ketergantungan pada media dan teknologi dalam aktivitas perdagangan dan bisnis. E-commerce merupakan sebuah terobosan terbaru dalam sektor ekonomi yang berkembang seiring perkembangan teknologi. Terbukti dengan jumlah pengguna e-commerce yang mencapai angka yang signifikan. Masyarakat dapat memasarkan segala jenis hasil produk serta usahanya dalam e-commerce. Dusun Jurang merupakan daerah di Magelang Jawa Tengah yang mayoritas penduduknya adalah petani cabai yang memiliki potensi besar dalam pengelolaan hasil tani cabai. Terdapat peluang untuk mengembangkan produk lokal seperti cabai bubuk, yang memiliki potensi besar untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat, baik di dalam negeri maupun di pasar global. Tetapi masih terdapat beberapa kendala dalam pengembangan usaha dan pembangunan komunitas. Diharapkan dengan membangun rantai pasokan yang efisien dan berkelanjutan, serta memperhatikan inovasi produk dan strategi pemasaran yang tepat, dapat menciptakan nilai tambah bagi masyarakat lokal serta memberikan kontribusi pada pengembangan ekonomi yang berkelanjutan. Melalui pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan, dapat menciptakan perubahan positif dalam perilaku masyarakat dan memberikan manfaat sosial serta lingkungan yang berkelanjutan.
KRISIS LEGITIMASI BRAND DALAM KONFLIK SPONSORSHIP FESTIVAL MUSIK PESTAPORA 2025 Rahma Novita Alim Putri; Alya Dwi Salsabila; Ikhsan Fauzi Adha
Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol. 11 No. 2 (2026): EDISI APRIL
Publisher : Laboratorium Ilmu Komunikasi Fisip UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jikuho.v11i2.2048

Abstract

Festival musik tidak lagi sekadar ruang hiburan, tetapi arena komunikasi publik tempat nilai, identitas, dan legitimasi brand dinegosiasikan. Konflik sponsorship Festival Musik Pestapora akibat keterlibatan PT Freeport Indonesia menunjukkan bagaimana kerja sama ekonomi dapat memicu krisis legitimasi simbolik di ruang budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana legitimasi sponsor diproduksi, diperdebatkan, dan dinegosiasikan dalam komunikasi publik festival. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough untuk membaca dimensi teks, praktik diskursif, dan praktik sosiokultural dari pernyataan resmi penyelenggara, pernyataan musisi, pemberitaan media, dan komentar publik di media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelenggara membangun legitimasi secara pragmatis melalui bahasa administratif, sementara musisi dan publik memproduksi narasi moral yang mempertanyakan keselarasan nilai sponsor dengan identitas festival. Ketegangan antara kapital ekonomi dan nilai budaya memicu erosi legitimasi moral dan menghambat pembentukan legitimasi kognitif. Penelitian menunjukkan bahwa dalam industri kreatif, legitimasi brand sangat bergantung pada pengakuan moral komunitas budaya. Secara teoritis, studi ini memperluas pemahaman mengenai sponsorship dengan menempatkannya sebagai praktik komunikasi simbolik yang melibatkan negosiasi legitimasi dalam ruang budaya festival. Temuan ini juga memberikan implikasi praktis bagi penyelenggara festival dan perusahaan sponsor untuk mempertimbangkan keselarasan nilai antara brand dan identitas budaya festival sebelum menjalin kerja sama sponsorship.