Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

9. TEKNOLOGI KOMUNIKASI SELULER BERBASIS GENERASI (G) Rasiman, Yoseph; Ketty; Novie
Jurnal TNI Angkatan Udara Vol 2 No 3 (2023): Jurnal TNI Angkatan Udara Triwulan Ketiga
Publisher : Staf Komunikasi dan Elektronika, TNI Angkatan Udara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62828/jpb.v2i3.77

Abstract

Penggunaan istilah 'teknologi' (bahasa Inggris: technology) telah berubah secarasignifikan lebih dari 200 tahun terakhir. Sebelum abad ke-20, istilah ini merujuk pada pengkajian ilmuterapan. Kemudian pengertian technology berubah pada permulaan abad ke-20 ketika para ilmuwanAmerika, yang dimulai oleh Thorstein Veblen, menerjemahkan gagasan-gagasan dari konsepJerman, Technik, menjadi technology. Teknologi tidak harus berwujud benda, seperti Alat, danmesin, tetapi juga dapat berupa teknologi virtual, seperti perangkat lunak. Dalam konteks ini,teknologi merupakan pengetahuan tentang bagaimana cara memadukan sumber-sumber, gunamenyelesaikan masalah, memenuhi kebutuhan, atau memuaskan keinginan. "Teknologi stateof-the-art" (teknologi termutakhir, sekaligus tercanggih) merujuk pada teknologi tinggi yangtersedia bagi kemanusiaan di ranah manapun. Selain itu, teknologi juga merupakan terapanmatematika (applied mathematics), sains, dan berbagai seni untuk faedah kehidupan. Sebuahcontoh adalah bangkitnya teknologi komunikasi, yang memperkecil hambatan interaksi sesamamanusia, yang berbasis pada perkembangan Internet dan komputer.
Penginjilan di Pedalaman Kalimantan Barat Ketty
ICHTUS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 2 (2021): November
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63830/kbrt9g66

Abstract

Abstract: Evangelism is God's command written in the book of Matthew 28:19-20 which is known as theGreat Commission. One task is to preach the good news or news of salvation in Jesus Christ. This is doneby calling it out and can also be done by teaching like a student and by testifying based on what thepreacher of the Gospel experienced. Evangelism is desired by God as a task that is carried out collectivelyand continuously in all places until Jesus comes a second time to pick up His people. Failure to carry outthis Great Task means violating God's will or denying the grace that has been received. The task ofevangelism cannot be denied or neglected because the news concerns the salvation of the souls of manypeople loved by the Giver of the command, in this case God himself. However, various obstacles areencountered when evangelism is carried out in a community in a certain area. Evangelists must findeffective ways or strategies to ensure that the Gospel being preached is accepted by listeners. Evangelismcarried out specifically by Indonesian evangelists in several remote areas in West Kalimantan must applyan effective evangelism model to overcome various obstacles in conveying the Gospel.Keywords: evangelism, models, obstacles and solutions.Abstrak: Penginjilan merupakan perintah Allah yang tertulis dalam kitab Matius 28:19-20 yangdikenal dengan Amanat Agung. Satu tugas untuk memberitakan kabar baik atau kabarkeselamatan di dalam Yesus Kristus. Dilakukan dengan cara menyerukannya dan dapat jugadilakukan dengan mengajar seperti kepada seorang murid serta dengan bersaksi berdasarkan apayang dialami oleh pemberita Injil tersebut. Penginjilan dikehendaki Allah sebagai tugas yangdilaksanakan secara bersama-sama dan terus-menerus ke segala tempat sampai Yesus datangkedua kali untuk menjemput umat-Nya. Kelalaian melaksanakan Tugas Agung tersebut berartimelanggar kehendak Tuhan atau pengingkaran terhadap anugerah yang telah diterima. Tugaspenginjilan tidak dapat dibantah atau dilalaikan karena berita itu menyangkut keselamatan jiwabanyak orang yang dikasihi oleh Pemberi perintah dalam hal ini adalah Allah sendiri. Tetapiberbagai hambatan ditemui saat penginjilan dilakukakan pada suatu masyarakat dalam daerahtertentu. Para penginjil harus menemukan cara atau strategi yang efektif upaya Injil yangdiberitakan dapat diterima oleh pendengar. Penginjilan yang dilakukan secara khusus olehpenginjil Indonesia di beberapa daerah terpencil di Kalimantan Barat harus menerapkan modelpenginjilan yang efektis untuk mengatasi berbagai hambatan dalam penyampaian Injil.Kata kunci: penginjilan, model, hambatan dan solusi.
Hubungan Metode Pembelajaran Storytelling Terhadap Minat Belajar Pendidikan Agama Kristen Siswa Kelas II di SD Pelita Harapan Pontianak Kota Pontianak Korina; Elia; Ketty
International Journal of Theology and Religious Studies(IJTRS) Vol 2 No 1 (2026): JTRS
Publisher : Perkumpulan Masyarakat Teolog Indonesia (PEMASTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study is grounded in the need for engaging instructional methods to enhance students’ learning interest, particularly in Christian Religious Education (CRE) at the elementary level. One such method is storytelling, which conveys content through compelling and meaningful narratives to increase student engagement during the learning process. This research aimed to examine the relationship between the storytelling method and second-grade students’ learning interest in CRE at Pelita Harapan Elementary School, Pontianak. A quantitative approach with a correlational design was employed. The population consisted of all 31 second-grade students at the school. A saturated sampling technique was used, with the entire population serving as the research sample. Data were collected using questionnaires developed from indicators of the storytelling method and student learning interest. The findings indicate a positive relationship between the storytelling method and students’ learning interest in CRE. Implementing storytelling created a more engaging learning experience, facilitated students’ comprehension of the material, and increased their attention and participation during instruction. In conclusion, the storytelling method is positively associated with second-grade students’ learning interest in CRE at Pelita Harapan Elementary School, Pontianak. Thus, storytelling can serve as an effective alternative instructional strategy for enhancing students’ learning interest in Christian Religious Education. Keywords: storytelling method, learning interest, Christian Religious Education, elementary school students Penelitian ini dilatar belakangi oleh pentingnya penggunaan metode pembelajaran yang menarik untuk meningkatkan minat belajar siswa, khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) di sekolah dasar. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode storytelling (bercerita), yaitu metode pembelajaran yang menyampaikan materi melalui cerita yang menarik dan bermakna sehingga dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara metode storytelling dengan minat belajar Pendidikan Agama Kristen siswa kelas II di SD Pelita Harapan Pontianak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II SD Pelita Harapan Pontianak yang berjumlah 31 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampel jenuh, sehingga seluruh anggota populasi dijadikan sebagai sampel penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket yang disusun berdasarkan indikator metode storytelling dan minat belajar siswa. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik statistik korelasi untuk mengetahui tingkat hubungan antara kedua variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara metode storytelling dengan minat belajar Pendidikan Agama Kristen siswa kelas II di SD Pelita Harapan Pontianak. Penerapan metode storytelling memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik, membantu siswa memahami materi pembelajaran dengan lebih mudah, serta meningkatkan perhatian dan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Semakin baik penerapan metode storytelling, maka semakin tinggi pula minat belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode storytelling memiliki hubungan yang positif terhadap minat belajar Pendidikan Agama Kristen siswa kelas II di SD Pelita Harapan Pontianak. Oleh karena itu, metode storytelling dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Kata Kunci : Metode storytelling, minat belajar, Pendidikan Agama Kristen, siswa sekolah dasar