Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konsep Perancangan Kebun Binatang dengan Pendekatan Habitat di Bandung, Indonesia Rabita Akbari Sitompul
Journal of Science, Technology, and Visual Culture Vol 1 No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Jurusan Teknologi Produksi dan Industri, Institut Teknologi Sumatera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia saat ini menghadapi tantangan untuk menjaga kelestarian keragaman hayatinya. Salah satu tantangan tersebut adalah ancaman kepunahan satwa disebabkan oleh hilangnya habitat. Kehilangan habitat dapat disebabkan oleh tiga aspek utama, yaitu pertama adalah kerusakan habitat akibat bencana alam, kedua adalah hilangnya habitat akibat alih guna lahan dan ketiga adalah pembunuhan fauna akibat perdagangan yang tidak bertanggung jawab. Untuk menjaga kelestarian satwa dapat dilakukan dengan dua metode, konservasi in situ (didalam habitat) dan konservasi ex situ (diluar habitat). Kebun binatang sebagai bagian dari konservasi ex situ diharapkan dapat menjadi miniatur habitat asli sesuai dengan kebutuhan masing-masing satwa. Akan tetapi, dapat kita lihat bahwa banyak kebun binatang di Indonesia yang belum menerapkan perannya sebagai miniatur habitat sehingga satwa tidak dapat berperilaku bebas sesuai kebutuhannya. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa dan menentukan konsep rancangan dengan pendekatan habitat pada studi kasus kebun binatang Bandung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan perencanaan dan perancangan arsitektur lanskap. Dimulai dari inventarisasi tapak, analisis hingga perumusan konsep. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi dokumentasi dan observasi. Hasil dari penelitian ini berupa konsep perancangan dan diharapkan dapat diterapkan oleh kebun binatang yang ada di Indonesia.
Redefining Tropical Walkability: The Challenge of Thermal Comfort for Captive Pedestrians in ITERA Elisabet Nungky Septania; Stirena Rossy Tamariska; Galuh Fajarwati; Rabita Akbari Sitompul; Adelia Enjelina Matondang; Rendy Perdana Khidmat
Jurnal Arsitektur Vol 16, No 1 (2026): Januari
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36448/ja.v16i1.4646

Abstract

University campuses in hot-humid tropical climates face complex challenges in balancing sustainability visions with user comfort. This study evaluates walkability at Institut Teknologi Sumatera (ITERA), a campus implementing vehicle restriction policies that effectively create a population of "captive pedestrians"dormitory residents with no alternative mode of transport. Utilizing a mixed-methods approach, the research analyzes perceptions from 108 respondents alongside field observations of seven primary pedestrian pathways. The findings indicate that thermal discomfort is the most critical barrier (accounting for 40.6% of complaints), signaling the inadequacy of current landscape designs in mitigating the tropical microclimate. Further analysis reveals spatial injustice, where the route with the highest user volume (Route 7) exhibits the most severe physical degradation, alongside significant gender disparities in safety perceptions. The study concludes that the success of Green Campus policies relies heavily on a paradigm shift from mere pavement provision to comprehensive climate protection. Recommendations emphasize the urgent need for constructing covered walkways and improving crossing facilities to ensure humane, safe, and climate-responsive mobility for the entire academic community.