Ridha Ghina Nurjanah
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan kejadian dispepsia dengan kebutuhan istirahat tidur pada mahasiswa S1 keperawatan Ridha Ghina Nurjanah; Ahmad Purnama Hudayana; Ria Inriyana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.239

Abstract

Background: Functional Dyspepsia is a group of symptoms in the upper digestive tract which are characterized by pain or discomfort in the pit of the stomach, stomach feeling bloated, feeling full quickly, and nausea and vomiting without any organic abnormalities and generally occurs in the productive age. Symptoms of dyspepsia will get worse if not treated quickly, such as avoiding the factors that cause it. Bad lifestyle factors are the biggest contributor to the incidence of dyspepsia, one of which is the lack of need for sleep rest. Purpose: To determine the relationship between the need for sleep rest and the incidence of dyspepsia in undergraduate nursing students. Method: Quantitative descriptive research with a cross sectional approach. The sampling technique is total sampling with a sample size of 153 respondents. Data collection uses PADYQ and PSQI instruments. The statistical analysis test in this research used descriptive and Pearson correlation (p<0.05). Results: Shows that there is a significant relationship between the need for sleep rest and the incidence of dyspepsia (p-value = 0.000), obtained a positive value or in the same direction (r = 0.396). Conclusion: The need for poor sleep rest greatly influences the increase in dyspepsia symptoms. Suggestion: Students can carry out self-management to fulfill the need for good sleep rest by paying attention to various factors that trigger and prevent it, such as managing good sleep duration, managing sleep patterns, comfort while sleeping, and managing lifestyle patterns.   Keywords: Dyspepsia; Nursing; Sleep Rest.   Pendahuluan: Dispepsia Fungsional merupakan sekumpulan gejala pada saluran pencernaan atas yang ditandai dengan adanya rasa nyeri atau tidak nyaman pada ulu hati, perut terasa kembung, cepat kenyang, serta mual muntah tanpa adanya kelainan organik dan umumnya terjadi pada usia produktif. Gejala dispepsia akan semakin buruk jika tidak ditangani dengan cepat seperti menghindari faktor-faktor penyebabnya. Faktor gaya hidup yang buruk penyumbang terbesar kejadian dispepsia, salah satunya adalah kurangnya kebutuhan istirahat tidur. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kebutuhan istirahat tidur dengan kejadian dispepsia pada mahasiswa S1 Keperawatan. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yaitu total sampling dengan jumlah sampel 153 responden. Pengumpulan data menggunakan instrumen yang PADYQ dan PSQI. Uji analisis statistik dalam penelitian ini menggunakan deskriptif dan pearson correlation (p<0.05). Hasil: Menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebutuhan istirahat tidur dengan kejadian dispepsia (p-value = 0.000), didapatkan nilai positif atau searah (r = 0.396). Simpulan: Kebutuhan istirahat tidur yang buruk sangat berpengaruh terhadap peningkatan gejala dispepsia. Saran: Mahasiswa dapat melakukan self management untuk pemenuhan kebutuhan istirahat tidur yang baik dengan memperhatikan berbagai faktor pencetus dan pencegahannya seperti pengaturan durasi tidur yang baik, pengelolaan pola tidur, kenyamanan saat tidur, dan pengaturan pola gaya hidup.   Kata Kunci: Dispepsia; Istirahat Tidur; Keperawatan.
Effect Of PROM and Hand Grip Ball Exercise in Stroke Patient With Left Hemiparesis : A Case Report Ridha Ghina Nurjanah; Popon Haryeti
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.46993

Abstract

Hemiparesis is a common complication after stroke that causes decreased muscle strength and mobility. This condition becomes more complex when accompanied by comorbid diseases such as Systemic Lupus Erythematosus (SLE), thus requiring a more integrated rehabilitation approach. This study aims to provide the effect of a combination of Passive Range of Motion (PROM) training and finger grip ball training on increasing muscle strength in infarction stroke patients with left hemiparesis and SLE comorbidity. The intervention was carried out in the stroke unit for four consecutive days, twice a day, with a duration of 20 minutes of PROM and 7–10 minutes of finger grip ball training each session. Muscle strength assessment was carried out using the Manual Muscle Testing (MMT) Scale before and after the intervention. The results showed that before therapy, the strength of the left extremity muscles was at a minimal contraction level (score 1/5), and increased to being able to perform active movements against moderate resistance (score 4/5) after the intervention. During therapy, no side effects were found, and the patient was able to tolerate the exercise well. These findings support that the combination of PROM and finger grip ball exercises can be an effective and safe non-pharmacological rehabilitation strategy to improve muscle strength in Ny. R stroke patients with hemiparesis and SLE comorbidity. Hemiparesis merupakan komplikasi umum pasca-stroke yang menyebabkan penurunan kekuatan dan mobilitas otot. Kondisi ini menjadi lebih kompleks apabila disertai penyakit komorbid seperti Lupus Eritematosus Sistemik, sehingga memerlukan pendekatan rehabilitasi yang lebih terintegrasi. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kombinasi latihan Passive Range of Motion (PROM) dan latihan bola genggam jari terhadap peningkatan kekuatan otot pada pasien stroke infark dengan hemiparesis sinistra dan komorbid LES. Intervensi dilakukan di unit stroke selama empat hari berturut-turut, dua kali sehari, dengan durasi 20 menit PROM dan 7–10 menit latihan bola genggam jari setiap sesi. Penilaian kekuatan otot dilakukan menggunakan skala Manual Muscle Testing (MMT) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil menunjukkan bahwa sebelum terapi, kekuatan otot ekstremitas kiri berada pada tingkat kontraksi minimal (skor 1/5), dan meningkat menjadi mampu melakukan gerakan aktif melawan resistensi sedang (skor 4/5) setelah intervensi. Selama terapi, tidak ditemukan efek samping, dan pasien mampu mentoleransi latihan dengan baik. Temuan ini mendukung bahwa kombinasi PROM dan latihan bola genggam jari menjadi strategi rehabilitasi nonfarmakologis yang efektif dan aman untuk meningkatkan kekuatan otot pada Ny.R pasien stroke dengan hemiparesis dan LES.