Penyuluh pertanian berperan penting dalam mendukung pembangunan pertanian melalui peningkatan kapasitas petani, diseminasi inovasi, dan pendampingan penerapan teknologi. Namun, peningkatan kompetensi penyuluh masih menghadapi berbagai tantangan yang berasal dari faktor internal maupun eksternal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kompetensi penyuluh pertanian, mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi peningkatan kompetensi, serta merumuskan strategi peningkatan kompetensi penyuluh pertanian di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Penelitian menggunakan metode survei dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Responden terdiri atas penyuluh pertanian dan pengurus kelompok tani yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif, Matriks IFAS, Matriks EFAS, Matriks IE, dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi penyuluh pertanian secara umum berada pada kategori baik berdasarkan persepsi penyuluh maupun petani. Analisis IFAS menghasilkan skor 3,07 yang menunjukkan kondisi internal tergolong kuat, sedangkan analisis EFAS menghasilkan skor 3,00 yang menunjukkan lingkungan eksternal memberikan peluang yang besar bagi peningkatan kompetensi penyuluh. Posisi strategi berada pada Kuadran I (Grow and Build), sehingga strategi yang direkomendasikan berfokus pada peningkatan kompetensi teknis dan digital penyuluh, pengembangan penyuluhan berbasis digital yang dipadukan dengan penyuluhan tatap muka, serta penguatan koordinasi dan kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan.Kata kunci: SWOT, IFAS, EFAS, penyuluhan digital, pengembangan kapasitas