Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

TYPOLOGY OF ROCK ART AT THE WAKUNTAI CAVE SITE IN MUNA REGENCY, SOUTHEAST SULAWESI Muh. Aprisal Oka; Hasdairta Laniampe; Asma Sari
SANGIA: Jurnal Penelitian Arkeologi Vol 8 No 1: Juni 2024
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v8i1.2544

Abstract

Wakuntai Cave site is a site that has rock arts. This research was conducted in Liang Kabori Village, Lohia District, Muna Regency with the aim of knowing the typology of rock arts in Wakuntai Cave. The methods used include primary data collection through field observations and map making using ArcMap 10.8 software, as well as classification methods. The collected data were then classified or grouped based on the attributes contained in the rock arts. This research managed to find 112 rock arts from 23 panels. The classification results show that there are four rock art motifs, namely human, animal, geometric and abstract motifs, which are then identified into 12 typologies.
NILAI BUDAYA DALAM CERITA RAKYAT MASYARAKAT BAJO DI DESA MEKAR KECAMATAN SOROPIA KABUPATEN KONAWE Hasdairta Laniampe; La Niampe; Mursin; Alias
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 9 No. 3 (2024): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v9i3.528

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi "Nilai Budaya Dalam Cerita Rakyat Masyarakat Bajo Di Desa Mekar Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe." Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita-cerita rakyat masyarakat Bajo adalah jendela penting untuk memahami nilai-nilai budaya, kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya laut, dan peran cerita rakyat dalam pendidikan budaya. Penelitian ini menyoroti pentingnya pelestarian warisan budaya ini melalui pendokumentasian, pendidikan budaya di sekolah, dan upaya kolaboratif antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga terkait. Kesimpulannya, pelestarian nilai budaya masyarakat Bajo di Desa Mekar adalah tugas bersama yang memiliki implikasi penting untuk keberlanjutan budaya dan lingkungan.
ANALISIS NARASI LISAN MASYARAKAT NAMBO TENTANG PENYAKIT DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEPATUHAN BEROBAT DI PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT Hasdairta Laniampe; Bainudin; Irawati Tapasi; Taufiq Said
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 1 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JANUARI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i1.2300

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh narasi lisan masyarakat Nambo tentang penyakit terhadap perilaku mereka dalam mencari pengobatan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui teknik triangulasi yang meliputi wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Subjek penelitian melibatkan tokoh masyarakat, dukun/tradisional healer, serta tenaga medis di Desa Nambo, Kota Kendari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengambilan keputusan pengobatan didorong oleh Explanatory Model of Illness yang mengklasifikasikan penyakit ke dalam ranah medis-biologis dan spiritual-nonmedis. Narasi lokal mengaitkan penyakit spiritual dengan etiologi personalistik yang dipandang berada di luar jangkauan layanan medis formal. Selain itu, protokol budaya bersyarat sering kali mewajibkan pelaksanaan ritual tradisional sebelum intervensi medis diperbolehkan. Akibatnya, layanan kesehatan formal kerap diposisikan sebagai pilihan terakhir atau alternatif sekunder. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketidakpatuhan dan keterlambatan dalam pengobatan medis bersumber dari konflik antara etiologi budaya dan protokol medis formal. Oleh karena itu, disarankan agar Puskesmas menerapkan pendekatan Culturally Sensitive Care (pelayanan yang peka terhadap budaya) guna menjembatani kesenjangan antara narasi medis dan narasi lokal, sehingga dapat meningkatkan kepatuhan pasien serta efektivitas pelayanan kesehatan di masyarakat yang bersifat pluralistik.