Zalili Sailan
Universitas Halo Oleo

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

MAKSIM KESANTUNAN BERBAHASA WAWONII Pita Delima; Zalili Sailan; La Yani Konisi
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 4 No. 2 (2019): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maksim Kesantunan Berbahasa Wawonii yang dilakukan di Desa Munse Kecamatan Wawonii Timur, penulisan ini dilatarbelakangi penggunaan bahasa daerah yang saat ini kerap menggunakan bahasa-bahasa yang dinilai kurang santun. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana kesantunan berbahasa masyarakat Wawonii yang berkaitan dengan maksim-maksim kesantunan berbahasa. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran-gambaran penggunaan maksim kesantunan berbahasa Wawonii di Desa Munse Kecamatan Wawonii Timur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik cakap semuka, yaitu, langsung mengetahui kondisi geografis setiap daerah pengamatan yang mungkin turut berperan bagi perkembangan isolek pada daerah pengamatan itu sendiri. Teknik catat, yaitu teknik yang digunakan dengan cara mencatat percakapan dan teknik rekam yaitu teknik yang digunakan untuk merekam percakapan seluruh pembicaraan informan dilingkungan Desa Munse Kecamatan Wawonii Timur. Dari hasil penelitian yang dilakukan mengenai Maksim Kesantunan Berbahasa Wawonii di Desa Munse Kecamatan Wawonii Timur maka penulis dapat menyimpulkan bahwa ditemukan gambaran-gambaran penggunaan maksim berbahasa Wawonii di lingkungan Desa Munse Kecamatan Wawonii Timur menggunakan maksim kesantunan berbahasa, maksim kesantunan yang dimaksud yaitu maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim perendahan hati, maksim kesetujuan, maksim kesimpatian, maksim pertimbangan.
KONFLIK TOKOH DALAM NOVEL AKU VS SEPATU HAK TINGGI KARYA MARIA ARDELIA Yasin Suratno; Zalili Sailan; Irianto Ibrahim
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 4 No. 3 (2019): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan konflik internal dan konflik eksternal tokoh yang terdapat dalam novel Aku vs Sepatu Hak Tinggi karya Maria Ardelia. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif yang tidak menggunaka prinsip-prinsip statistik, melainkan berpedoman pasda teori-teori sastra yang berkaitan dengan penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teks yang mengandung konflik tokoh dalam novel Aku vs Sepatu Hak Tinggi karya Maria Ardelia dengan sumber data berupa novel Aku vs Sepatu Hak Tinggi karya Maria Ardelia yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama cetakan pertama, Juni 2004 yang terdiri atas 358 halaman. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik analisis isi. Teknik analisis data menggunakan pendekatan objektif yang memusatkan perhatian pada unsur-unsur yang akan dianalisis. Dari hasil penelitian ini penulis menyimpulkan bahwa konflik yang terdapat dalam novel Aku vs Sepatu Hak Tinggi karya Maria Ardelia ini berupa konflik internal dan konflik eksternal. Adapun konflik internal yaitu konflik batin yang dialami tokoh novel Aku vs Sepatu Hak Tinggi. Sedangkan konflik eksternal yaitu konflik sosial dan konflik elemental yang dialami tokoh novel Aku vs Sepatu Hak Tinggi karya Maria Ardelia.
DEIKSIS PERSONA DALAM BAHASA MUNA Bella Fatahu Rahmah; Zalili Sailan; Erny Harijaty
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 4 No. 4 (2019): JURNAL BASTRA EDISI OKTOBER 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk dan makna kata deiksis persona dalam bahasa Muna. Jenis penelitian ini yaitu desktiptif kualitatif, penelitian kualitatif selalu bersifat deskriptif, artinya data yang dianalisis dan hasil analisisnya berbentuk deskriptif fenomena. Penelitian ini menggunakan metode lapangan yang menyajikan data dan fenomena-fenomena yang berdasarkan data empiris yang ditemukaan oleh peneliti. Sumber data dalam penelitian ini adalah data bahasa lisan yang berupa tuturan-tuturan dalam berbagai peristiwa bahasa Muna yang bersumber dari penutur asli bahasa muna. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah teknik rekam dan teknik catat. Teknik analisis data menggunakan pendekatan pragmatik, pendekatan pragmatik digunakan sebagai upaya interpretasi makna dengan penafsiran yang tepat berdasarkan konteks yang ada dalam deiksis persona pada bahasa daerah Muna. Berdasarkan pembahasan hasil penelitian, dapat disimpulakan sesuai dengan pronomina persona maka deiksis persona dalam bahasa Muna terdiri dari tiga bentuk yaitu Deiksis persona pertama terbagi dua yaitu persona pertama tunggal yang terdiri dari morfem bebas dan morfem terikat dan persona pertama jamak yang terdiri dari morfem bebas serta morfem terikat. Deiksis persona kedua terdiri dari deiksis persona kedua tunggal yang terbagi dua yaitu persona kedua tunggal yang terdiri dari morfem bebas dan morfem terikat dan persona kedua jamak yang terdiri dari morfem bebas serta morfem terikat. Deiksis persona ketiga terbagi dua yaitu deiksis persona ketiga tunggal yang terdiri dari morfem bebas morfem terikatnya dan persona ketiga jamak yang terdiri dari morfem bebas serta morfem terikat Deiksis persona bahasa Muna dalam situasi tertentu bisa digantikan oleh deiksis tempat.