Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH DAYA DUKUNG SUBGRADE TERHADAP KEDALAMAN RUTTING PADA KONSTRUKSI PERKERASAN LENTUR Syamsul Arifin
Jurnal Sains dan Teknologi Tadulako Vol 7 No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.631 KB) | DOI: 10.22487/jstt.v7i2.373

Abstract

Output yang perlu diketahui dalam merancang konstruksi perkerasan lentur AC WC adalah seberapa lama infrastruktur tersebut dapat memberikan pelayanan berdasarkan kualitas dan akumulasi beban yang tersedia. Dengan kata lain selama pelayanan diharapkan tidak terjadi kerusakan konstruksi yang berarti. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi umur layan jalan saat mulai retak halus dan menentukan kedalaman rutting untuk permukaan perkerasan lentur. Metode penelitian yang digunakan adalah HDM III dan AASHTO 1986 dan IRC Nomogram: 37-2001 digunakan untuk merencanakan tebal total kostruksi perkerasan baru berdasarkan parameter nilai CBR tanah dasar dari 2% sampai 10%. Penelitian ini dilakukan dengan survei lapangan berupa pengambilan sampel briket dan volume lalu lintas (LHR). Pengambilan sampel briket dilakukan di 6 lokasi, masing-masing di STA: KM 00 + 300, STA: KM 00 + 350, dan STA: KM 00 + 375. Survei volume lalu lintas dilakukan selama 2 hari yaitu hari Senin (mewakili kerja hari) dan Sabtu (mewakili hari libur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) TYN terpanjang adalah 4,70 tahun, terjadi pada Wt 0,23 msa, dan dengan persentase pertumbuhan kendaraan sebesar 2,5%. TYN terkecil yaitu 0,49 tahun akan terjadi pada saat Wt 2,49 msa dengan laju pertumbuhan kendaraan sebesar 10%. 2) Besarnya RDM-NC tergantung pada besarnya akumulasi Wt dan nilai CBR tanah dasar. Semakin besar CBR tanah dasar maka semakin kecil rutting yang didapat dari perhitungan nilai RDM-NC untuk CBR tanah dasar masing-masing 3,45 mm, 3,42 mm, 3, 41 mm, 3,40 mm, 3,39 mm, 3,36 mm, 3,34 mm, 3,33 mm, 3,31 mm, dan 3,28 mm.
THE EFFECT OF THE ELASTICITY MODULUS OF ASPHALTED SURFACES ON RUTTING DEPTH ON NARROW CRACKING CONDITIONS Kumara, A. A Brigita A.; Arifin, Syamsul; Bahar, Taslim
Berkala Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi Vol. 1 No. 1 (2023): Berkala Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi
Publisher : Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Jember dan Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The increase in traffic growth on the Taweli - Pantoloan section, also increased the traffic load that passes through the section and caused rutting and cracking. The modulus elasticity is an important factor that affects the performance of asphalt pavement, therefore it is necessary to predict when narrow cracking, wide cracking, 50% cracking, and rutting will occur. HDM III is used to predict when it will occur, from CBR subgrade and annual average daily traffic data on Tawaeli – Pantoloan section, the pavement performance is planned for 5,10, 15, and 20 years. From the results of the study, it was found that the increasing road performance, the greater the value of the traffic load, which in increasing the thickness of asphalt pavement, and the faster the road will experience narrow cracking, wide cracking, and 50% cracking. Variation of modulus elasticity gives that the lower the modulus elasticity of asphalt mixture (SME), the faster the cracks occur on the asphalt pavement and vice versa. The effect of narrow cracking (TYN), wide cracking (TYW), and 50% cracking on the depth of rutting (RDM) are directly proportional. ABSTRAK  Pertumbuhan lalu lintas yang semakin meningkat di Ruas Jalan Taweli – Pantoloan mengakibatkan peningkatan beban lalu lintas yang melewati jalan tersebut dan mendorong terjadinya kerusakan berupa rutting dan retak pada perkerasan jalan. Modulus elastisitas merupakan faktor penting yang akan mempengaruhi kinerja perkerasan aspal, sehingga perlu diketahui bagaimana pengaruh modulus elastisitas terhadap prediksi waktu terjadinya kerusakan retak halus, retak lebar, retak 50% dan kedalaman rutting yang terjadi. Dalam memprediksi waktu terjadinya kerusakan terrsebut digunakan model HDM III, dari data CBR tanah dasar dan LHR di Ruas Jalan Tawaeli – Pantoloan direncanakan umur layanan selama 5, 10, 15 dan 20 tahun. Dari hasil penelitian didapatkan semakin meningkat masa layan maka semakin besar nilai beban lalu lintasnya, mengakibatkan semakin tebal lapis permukaan beraspal dan semakin cepat jalan tersebut diprediksi mengalami retak halus, retak lebar dan retak 50%. Dengan variasi modulus elastisitas didapatkan semakin rendah nilai modulus elastisitas campuran beraspal (Sme) maka semakin cepat terjadinya retak pada suatu perkerasan jalan dalam melayani beban lalu lintas yang ada dan begitu sebaliknya. Pengaruh Retak Halus (TYN), Retak Lebar (TYW) dan Retak 50% terhadap kedalaman Rutting (RDM) yaitu semakin lama masa layan suatu jalan sampai terjadinya retak halus, retak lebar dan retak 50% maka semakin dalam rutting yang terjadi.
THE EFFECT OF CBR VALUES ON THE SUBGRADE LAYER ON RUTTING DEPTH ON FINE CRACKS IN ASPHALT PAVEMENTS Amalia, Rizki; Arifin , Syamsul; Nurdin, Sukiman
Berkala Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi Vol. 1 No. 1 (2023): Berkala Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi
Publisher : Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Jember dan Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Problems in the basic soil layer, which is generally sandy soil will greatly affect the life of the planned cracking and rutting in the construction of the paved layer. The purpose of this study was to determine the effect of CBR values on the Subgrade layer on the life of the paved road pavement plan until there began to be a fine crack on the paved road surface and predict the depth of rutting on the road surface when fine cracks began to occur. The method used in this study is the Determination of TYN and RDM Values using the HDM III. Based on the results of the analysis, it can be seen that the higher the CBR value, the longer it takes for a pavement to experience fine cracks as well as at the life of plans of 10, 15, and 20 years where the CBR value is directly proportional to the length of time a fine crack occurs. Predicted intensity of rutting (Decrease) at the time of the fine crack at the age of the 5-year plan, there was a decrease of 3.01 mm after 8.14 years of the road being opened. At the age of the 20-year plan, the value decreased by 2.33 mm after 5.438 years of the road being opened.
PENYULUHAN TEKNIK PEMBESIAN, PENGERJAAN SLOOF DAN TIANG RUMAH RAMAH GEMPA Setiawan, Arief; Ramlan, Ratnasari; Arifin, Syamsul; Bahar, Taslim
Nemui Nyimah Vol. 1 No. 2 (2021): Nemui Nyimah
Publisher : FT Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/nm.v1i2.25

Abstract

Kota Palu merupakan salah satu daerah di Indonesia yang termasuk dalam kategori rawan gempa. Posisi sesar Palu Koro yang melintasi wilayah Kota Palu menyebabkan kejadian gempa dapat terjadi setiap saat. Kondisi ini mengharuskan struktur bangunan di wilayah Kota Palu harus ramah terhadap gempa bumi. Untuk mendapatkan bangunan yang ramah gempa, ada beberapa cara yang dapat dilakukan misalnya lokasi bangunan di tanah keras. Namun keahlian tukang bangunan menjadi salah satu syarat mutlak untuk mendapatkan bangunan yang ramah lingkungan tersebut. Sayangnya, mayoritas tukang bangunan di Kota Palu belum memiliki keahlian dalam struktur ramah gempa. Dengan demikian perlu dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan penyuluhan tentang teknik pembesian, sloof dan tiang bagi bangunan rumah ramah gempa. Mitra yang ikut dalam penyuluhan tersebut adalah kelompok tukang bangunan pada proyek Tadulako Permai. Hasil kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi mitra dalam menambah pengetahuan mengenai teknik pembesian, pengerjaan sloof dan tiang bagi rumah ramah gempa.