Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Histopathological Transformation in Medullary Thyroid Carcinoma (MTC) With Poorly Differentiated Thyroid Carcinoma (PDTC): a Case Study of Aggressive Thyroid Cancer in An 18-Year-Old Female Juli Jamnasi; Jonas A. Bangun; Ronald T. H. Tambunan; Juli Yosa Mega; Paul S. Lumban Tobing; Tengku M. Fauzi
Majalah Ilmiah METHODA Vol. 15 No. 2 (2025): Majalah Ilmiah METHODA
Publisher : Universitas Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46880/methoda.Vol15No2.pp221-224

Abstract

Medullary Thyroid Carcinoma (MTC) is a type of thyroid cancer originating from C cells, while Poorly Differentiated Thyroid Carcinoma (PDTC) is a more aggressive form with poor differentiation. The transformation between these two types can affect prognosis and treatment strategies. This study analyzes an 18-year-old female patient presenting with neck swelling and difficulty swallowing. The initial diagnosis of MTC was established through fine-needle aspiration biopsy (FNAB), and after surgical resection, histopathological analysis was conducted to evaluate any transformation to PDTC. Histopathological findings revealed MTC areas with high calcitonin-producing C cells. However, there were also areas exhibiting characteristics of PDTC, including increased mitotic activity, necrosis, and loss of calcitonin expression. This transformation indicates a shift from a more indolent cancer form to a more aggressive one. The transformation from MTC to PDTC in a young patient underscores the importance of careful monitoring and thorough histopathological evaluation. Appropriate management and understanding of these changes are crucial for improving treatment outcomes. Further studies are needed to elucidate the molecular mechanisms underlying this transformation.
FORMULASI NANOPARTIKEL DARI LIMBAH EKSTRAK KULIT NANAS (Ananas comosus L.) DALAM BENTUK TEH SEDUHAN Sofia Rahmi; Rika Puspita Sari; Nurul Dahlia Harahap; Jekson Martiar Siahaan; Juli Yosa Mega; Yosy Cinthya Eriwaty Silalahi
FARMASAINKES JURNAL FARMASI SAINS dan KESEHATAN Vol. 5 No. 2 (2026): FARMASAINKES JURNAL FARMASI SAINS dan KESEHATAN
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/farmasainkes.v5i2.6263

Abstract

Limbah kulit nenas memiliki kandungan gizi karbohidrat, protein, gula reduksi, serat kasar dan air. Kulit nenas juga memiliki metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Spesifikasi dari senyawa flavonoid ekstrak kulit nenas yaitu senyawa kuersetin. Limbah kulit nenas jika dikonsumsi dalam bentuk rebusan kurang diminati karena berbau langu atau jamu. Penelitian ini dilakukan untuk memanfaatkan limbah kulit nanas menjadi sediaan nanopartikel dalam bentuk teh seduhan. Pembuatan nanopartikel ekstrak diawali dari pembuatan ekstrak dan kemudian dilakukan pencampuran dengan bahan kitosan serta NaTPP dengan perbandingan (1:1:1; 1:5:1 dan 1:10:1), kemudian dihomogenizer dengan kecepatan 4000 rpm selama 90 menit dan freeze drying selama 1x24 jam untuk mendapatkan nanopartikel kering. Dilakukan evaluasi sediaan seperti organoleptis, ukuran partikel, dan zeta potensial. Hasil yang pada organoleptis yaitu berwarna coklat, berbau khas dan berbentuk bubuk. Hasil ukuran partikel diperoleh F3 memiliki ukuran partikel terkecil (145,267±0.06) nm dan zeta potensial (30.27±0.12) mV. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu F3 (ekstrak:kitosan:NaTPP dengan perbandingan 1:10:1) memiliki hasil terbaik dibandingkan formula lainnya.