Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Challenges of Arabic Language Education Students in The 4th Semester of STIT Madani Yogyakarta in Learning Arabic Based on The Use of Technology Mutik Komalasari; Rika Anggraini; Sri Mulyani; Eko Ngabdul Shodikin
Arabiyyatī: Journal of Arabic Language Education Vol. 2 No. 1 (2025): Arabiyyatī: Journal of Arabic Language Education
Publisher : PPPBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65679/arabiyyat.v2i1.285

Abstract

Digital transformation in education has reshaped the paradigm of Arabic language learning in higher education, particularly for female students who face distinctive challenges in adapting technology to master a linguistically complex language. This study aims to analyze and describe the challenges encountered by fourth-semester female students of the Arabic Language Education Study Program at STIT Madani Yogyakarta in technology-based Arabic learning and the strategies they developed to adapt. Employing a qualitative phenomenological approach, data were collected through in-depth semi-structured interviews, observations, and documentation involving four purposively selected female students. The small sample size was intentionally chosen to allow for an in-depth exploration of individual experiences and contextual nuances, consistent with the phenomenological design. Data were analyzed thematically using Braun and Clarke’s framework, emphasizing credibility, transferability, dependability, and confirmability. The findings reveal three main categories of challenges: technical (device limitations, unstable internet, and limited data), psychological (low motivation, distractions, and language anxiety), and socio-economic (financial constraints and an unconducive learning environment). Despite these barriers, participants demonstrated adaptability through self-regulated strategies, including the use of digital platforms, artificial intelligence (AI) tools, and peer collaboration. The novelty of this research lies in its exploration of female student’ lived experiences in Islamic higher education, integrating gender, socio-cultural, and technological perspectives in Arabic language learning. This study highlights the need for hybrid learning models that combine technology with face-to-face interaction, enhance lecturers’ TPACK competencies, and promote gender-responsive curricula for more inclusive Arabic language education in the digital era.
Efektivitas Learning Management System (LMS) Berbasis Syariah dalam Pembelajaran Digital Dedi Sugari; Agustiar Agustiar; Eko Ngabdul Shodikin; Hilalludin Hilalludin; Ayna Wahyuni
An-Nuriyah: Journal Of Islamic Technology And Informatics Education Vol 1 No 04 (2025): An-Nuriyah: Journal Of Islamic Technology And Informatics Education
Publisher : An-Nuriyah: Journal Of Islamic Technology And Informatics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas Learning Management System (LMS) berbasis syariah dalam menunjang pembelajaran digital di lembaga pendidikan Islam. LMS berbasis syariah menjadi inovasi penting dalam era digital karena tidak hanya menyediakan fitur pembelajaran modern, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai etika dan moral Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian kepustakaan (library research) melalui analisis berbagai jurnal terbaru, buku ilmiah, serta dokumen pendidikan Islam yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LMS berbasis syariah mampu memberikan lingkungan belajar yang lebih aman, terarah, dan sesuai dengan prinsip syariah melalui filter konten, etika komunikasi digital, dan fitur pengingat ibadah. Selain itu, kemudahan akses dan fleksibilitas penggunaan meningkatkan motivasi belajar dan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran. Interaksi antara guru dan peserta didik juga menjadi lebih efektif berkat fitur diskusi dan konsultasi yang terkontrol. Evaluasi berbasis syariah memberikan pemantauan yang lebih komprehensif terhadap perkembangan akademik dan karakter peserta didik. Secara keseluruhan, LMS berbasis syariah memiliki dampak positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran digital, baik dari aspek teknis maupun spiritual. Temuan ini memberikan kontribusi bagi pengembangan inovasi pembelajaran digital yang bermutu dan berbasis nilai Islam.
Integrasi Teknologi Augmented Reality terhadap Pembelajaran Fiqh Muamalah Dedi Sugari; Agustiar Agustiar; Eko Ngabdul Shodikin; Hilalludin Hilalludin; Ayna Wahyuni
An-Nuriyah: Journal Of Islamic Technology And Informatics Education Vol 1 No 04 (2025): An-Nuriyah: Journal Of Islamic Technology And Informatics Education
Publisher : An-Nuriyah: Journal Of Islamic Technology And Informatics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi digital mendorong munculnya inovasi baru dalam dunia pendidikan, termasuk pemanfaatan Augmented Reality (AR) dalam pembelajaran Fiqh Muamalah. AR hadir sebagai media yang mampu menyajikan visualisasi interaktif, simulasi akad, serta ilustrasi proses transaksi syariah secara konkret sehingga membantu peserta didik memahami konsep muamalah yang cenderung abstrak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian literatur untuk menganalisis efektivitas AR sebagai media pembelajaran dalam konteks fikih muamalah. Berbagai sumber buku, artikel ilmiah, dan dokumen akademik dianalisis untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai manfaat, potensi, dan tantangan penggunaan AR. Hasil kajian menunjukkan bahwa AR meningkatkan motivasi belajar, memperkuat pemahaman konsep, serta memperkaya pengalaman belajar peserta didik melalui pendekatan visual dan interaktif. AR juga membantu guru dalam menyampaikan materi secara lebih sistematis, menarik, dan relevan dengan perkembangan ekonomi digital modern. Meskipun demikian, implementasi AR dihadapkan pada kendala seperti ketersediaan perangkat, kompetensi guru, dan kebutuhan pengembangan konten syariah yang akurat. Secara keseluruhan, AR memiliki prospek kuat sebagai media pembelajaran inovatif yang mampu menjembatani teori dan praktik muamalah, sekaligus memperkuat integrasi teknologi dalam pendidikan Islam. Oleh karena itu, pengembangan AR dalam pembelajaran Fiqh Muamalah penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang adaptif, aplikatif, dan berorientasi syariah.
Pemanfaatan Big Data dalam Meningkatkan Manajemen Pendidikan Islam Era Society 5.0 Dedi Sugari; Agustiar Agustiar; Eko Ngabdul Shodikin; Hilalludin Hilalludin; Ayna Wahyuni
An-Nuriyah: Journal Of Islamic Technology And Informatics Education Vol 1 No 04 (2025): An-Nuriyah: Journal Of Islamic Technology And Informatics Education
Publisher : An-Nuriyah: Journal Of Islamic Technology And Informatics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan Big Data menjadi salah satu tonggak penting dalam transformasi manajemen pendidikan Islam pada era Society 5.0 yang menuntut integrasi teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Big Data memungkinkan lembaga pendidikan mengelola informasi dalam jumlah besar secara lebih akurat, cepat, dan efisien sehingga mendukung pengambilan keputusan yang strategis dan tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan efektivitas pemanfaatan Big Data dalam meningkatkan mutu manajemen pendidikan Islam, khususnya pada aspek perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, serta pengembangan program pembelajaran. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian literatur melalui analisis mendalam terhadap buku, artikel ilmiah, dan laporan riset lima tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa Big Data mampu memperkuat proses monitoring peserta didik, meningkatkan akurasi evaluasi kinerja guru, serta mengoptimalkan layanan administrasi berbasis digital. Selain itu, Big Data mendukung pengembangan kurikulum adaptif yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Namun demikian, tantangan seperti keterbatasan SDM, keamanan data, dan kesiapan infrastruktur digital masih menjadi hambatan utama. Dengan pengelolaan yang tepat, Big Data memiliki prospek yang sangat strategis untuk mendorong manajemen pendidikan Islam menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berorientasi pada kualitas keberlanjutan.
Model Manajemen Berbasis Pesantren dalam Penguatan Karakter Peserta Didik Dedi Sugari; Agustiar Agustiar; Eko Ngabdul Shodikin; Hilalludin Hilalludin; Ayna Wahyuni
El-Mudarris: Jurnal Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Sekolah Vol. 1 No. 01 (2025): El-Mudarris: Jurnal Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Sekolah
Publisher : El-Mudarris: Jurnal Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Sekolah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Penelitian ini mengkaji model manajemen berbasis pesantren sebagai pendekatan strategis dalam memperkuat karakter peserta didik di lembaga pendidikan Islam. Model ini berangkat dari tradisi pesantren yang selama berabad-abad terbukti efektif membentuk pribadi santri yang berakhlak, disiplin, mandiri, dan berkomitmen tinggi terhadap nilai-nilai moral. Latar belakang penelitian muncul dari kebutuhan sekolah dan madrasah modern untuk mengimplementasikan pola manajemen yang tidak semata menekankan aspek administratif, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai pendidikan karakter yang hidup dalam keseharian peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian kepustakaan melalui penelusuran konsep, teori, dan hasil penelitian yang relevan mengenai manajemen pesantren, pendidikan karakter, dan model kelembagaan Islam. Hasil analisis menunjukkan bahwa manajemen berbasis pesantren memiliki enam elemen utama yang berperan signifikan dalam penguatan karakter: kepemimpinan kiai yang karismatis, pembiasaan 24 jam melalui sistem asrama, internalisasi nilai melalui keteladanan, pembelajaran terpadu antara ilmu agama dan keterampilan hidup, disiplin yang ditopang oleh regulasi bernilai moral, serta budaya kolektif yang menekankan kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Keenam elemen tersebut saling menguatkan dan membentuk ekosistem pendidikan yang holistik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model manajemen berbasis pesantren dapat menjadi inspirasi pengembangan karakter di sekolah modern karena menggabungkan kontrol sosial, nilai spiritual, dan pembiasaan jangka panjang yang terbukti efektif membentuk kepribadian berkarakter kuat.
GENEALOGI KUASA DAN PENGETAHUAN: DEKONSTRUKSI PERAN MADRASAH SEBAGAI INSTRUMEN HEGEMONI IDEOLOGI NEGARA PADA MASA DINASTI ABBASIYAH Eko Ngabdul Shodikin; Sa’adi; Rahmat Hariyadi
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10078

Abstract

The struggle between educational institutions and political power structures is a historical phenomenon that demands a critical reading of the power-knowledge relationship within the classical Islamic civilizational tradition. This research aims to deconstruct the role of the madrasah as an instrument of state ideological hegemony during the Abbasid Dynasty. Utilizing a qualitative-historical design with a Foucauldian genealogical approach, this study uncovers how the madrasah was operated as a discursive apparatus to produce a "regime of truth". Data were sourced from a corpus of primary texts, including classical Arabic manuscripts, waqfiyah documents, and prosopographical analysis of scholarly biographies. The research findings indicate that: (1) the institutionalization of the madrasah, particularly the Nizamiyah network, functioned as a technology of power to consolidate Sunni orthodoxy and eliminate alternative narratives; (2) the system of waqf patronage and the bureaucratization of the ijazah created a structural dependence of the ulema on the state, thereby limiting intellectual autonomy ; and (3) there were dynamics of resistance from alternative institutions, such as Sufi ribats, which offered spiritual autonomy outside of state hegemonic control. This research concludes that the madrasah was not merely a neutral institution for knowledge transmission, but rather a technology of governmentality that regulated religious subjects to align with the state’s political agenda. The implications of this study offer a critical framework for the analysis of the politics of knowledge within contemporary Islamic educational institutions. ABSTRAK Pergumulan antara institusi pendidikan dan struktur kekuasaan politik merupakan fenomena historis yang menuntut pembacaan kritis terhadap relasi kuasa-pengetahuan dalam tradisi peradaban Islam klasik. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi peran madrasah sebagai instrumen hegemoni ideologi negara pada masa Dinasti Abbasiyah. Dengan menggunakan desain kualitatif-historis dan pendekatan genealogi Foucauldian, studi ini membongkar bagaimana madrasah dioperasikan sebagai aparatus diskursif untuk memproduksi "rezim kebenaran". Data bersumber dari korpus teks primer seperti manuskrip Arab klasik, dokumen waqfiyah, serta analisis prosopografis terhadap biografi ulama. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) institusionalisasi madrasah, khususnya jaringan Nizamiyah, berfungsi sebagai teknologi kekuasaan untuk mengonsolidasi ortodoksi Sunni dan mengeliminasi narasi alternatif; (2) sistem patronase wakaf dan birokratisasi ijazah menciptakan ketergantungan struktural ulama terhadap negara yang membatasi otonomi intelektual; dan (3) terdapat dinamika resistensi dari institusi alternatif seperti ribat sufi yang menawarkan otonomi spiritual di luar kontrol hegemonik negara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa madrasah bukan sekadar lembaga transmisi pengetahuan netral, melainkan teknologi governmentality yang mengatur subjek religius agar selaras dengan agenda politik negara. Implikasi studi ini menawarkan kerangka kritis bagi analisis politik pengetahuan dalam institusi pendidikan Islam kontemporer.
The Epistemological Evolution of the Integration of Knowledge: From al-Faruqi’s Islamization of Knowledge towards Amin Abdullah’s Interconnection and Kuntowijoyo’s Prophetic Social Science Eko Ngabdul Shodikin; Miftahuddin; Mansur
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 1 Februari 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i1.810

Abstract

The challenges of modernity and the complexity of social crises demand a repositioning of Islamic education so that it does not become trapped in the dichotomy of secular and normative sciences. To address this need, this study aims to examine and synthesize the epistemological evolution of the discourse on the integration of knowledge through a comparative analysis of the thoughts of Ismail Raji al-Faruqi, M. Amin Abdullah, and Kuntowijoyo. Employing a qualitative approach with a library research design and content analysis techniques, this study dissects the fundamental structures of the primary literature of these three figures to trace their ontological, epistemological, and axiological frameworks. The results of the study indicate a linear and complementary paradigm shift. This evolution was initiated by methodological purification efforts through al-Faruqi's Islamization of Knowledge, then progressed toward an open interdisciplinary dialogue through Amin Abdullah's Integration-Interconnection paradigm, and culminated in practical field transformation through Kuntowijoyo's Prophetic Social Sciences. The conclusion of this study confirms that these three concepts do not negate one another, but rather form a complete continuum of the "Prophetic Integration" model. The epistemology of Islamic scholarship has proven to have maturely evolved from a mere instrument of cognitive-textual transmission into an instrument of social engineering. This tripartite construction provides both a philosophical and tactical foundation for higher education institutions to produce advanced graduates who are not only theoretically sound but also capable of operationalizing knowledge as a concrete tool for solving socio-humanitarian problems.