Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pendidikan Anak dalam Keluarga (Studi Atas Kitab Tarbiyah Al-Aulad Fi Dau’i Al-Kitab Wa Al-Sunnah Karya ‘Abd Al-Salam Ibn ‘Abd Allah As-Sulaiman) Ailman Akbar Hasibuan; Hasan Bakti Nasution; Mohammad Al Farabi
JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL Vol. 5 No. 6 (2024): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Oktober - November 2024)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v5i6.3026

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendidikan anak dalam keluarga sebagaimana yang tertuang dalam kitab Tarbiyah al-Aulad fi Dau’i al-Kitab wa al-Sunnah karya Syekh ‘Abd Al-Salam Ibn ‘Abd Allah As-Sulaiman, serta mengkaji tahapan-tahapan pendidikan anak dan relevansi konsep pendidikan keluarga di era modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi naskah. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis isi. Hasil penelitian ini mengungkap sebanyak 22 pokok bahasan terkait pendidikan anak dalam keluarga yang diklasifikasikan ke dalam enam (6) kategori utama. Berdasarkan tahapan-tahapan pendidikan anak dalam keluarga, pokok-pokok tersebut dikelompokkan lagi ke dalam lima (5) tahapan. Pokok-pokok pendidikan yang pokok meliputi: Pendidikan akhlak yang terdiri dari empat pokok bahasan utama: pertama, berusaha untuk memperbaiki diri; kedua, menumbuhkan budi pekerti dan akhlak yang baik; ketiga, bersikap lemah lembut dan suka bermain; dan keempat, mendidik anak agar mencintai ulama dan pemimpin (ulil amri). Dalam konsep pendidikan akidah, ada dua hal pokok yang harus ditanamkan: pertama, mengajarkan anak kalimat tauhid; dan kedua, menanamkan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mendidik anak agar menaati keduanya. Konsep pendidikan ibadah juga penting, meliputi sembilan hal pokok: mengumandangkan adzan di telinga bayi yang baru lahir, melakukan tahnik, memberikan nama dan kuniyah yang baik, mendoakan anak, menunaikan aqidah, menjauhkan rumah dari permainan dan alat musik yang sia-sia, menjaga rumah dengan bacaan Al-Qur'an, dzikir, dan doa, serta mengajarkan anak tentang doa dan mempelajari Al-Qur'an. Pendidikan sosial (muamalah) meliputi empat hal pokok: menyampaikan kabar gembira setelah kelahiran anak (al-bisyaroh), memilih pasangan yang baik, memilih sekolah yang baik, dan memilih teman yang baik. Untuk pendidikan seksual, dianjurkan untuk membaca dzikir sebelum suami istri berhubungan badan. Terakhir, pendidikan jasmani mencakup tiga aspek kunci: menjaga kehamilan, mencukur rambut bayi, dan menyusui.
THE POLITICAL SPIRITUALITY OF TUAN GURU BATAK SABBAN RAJAGUKGUK: MODERATING SOCIAL AND POLITICAL COHESION IN NORTH SUMATRA Rakhmat Syawal; Hasan Bakti Nasution; Mardian Idris Harahap
JHSS (JOURNAL OF HUMANITIES AND SOCIAL STUDIES) Vol 9, No 2 (2025): Journal of Humanities and Social Studies
Publisher : UNIVERSITAS PAKUAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jhss.v9i2.12618

Abstract

This research analyzes the spiritual-political perspectives and contributions of Tuan Guru Batak (TGB) Syekh Ahmad Sabban Rajagukguk amidst the challenges of polarization and the politicization of religion in North Sumatra. As a Sufi scholar and intellectual figure, TGB offers a model that bridges spirituality with the realities of practical politics. Employing a qualitative method with a case study approach, data were collected through in-depth interviews, observation, and documentary studies. Thematic analysis was utilized to identify and elaborate on the meanings derived from the data. The findings indicate that TGB’s spirituality is neither apolitical nor escapist; rather, it serves as an ethical and practical foundation for socio-political engagement. He views politics as an instrument for da’wah (Islamic propagation) aimed at realizing the common good (kemaslahatan), not merely as an arena for power struggles. TGB’s contributions are multidimensional: intellectually, he emerges as a scholar-academic who integrates tradition with modern science; socio-politically, he acts as a moral actor and mediator who safeguards social cohesion; and in terms of leadership, he bequeaths an inclusive and transformative neo-Sufi model. By rejecting identity politics and promoting Sufistic moderation, TGB demonstrates that spirituality can be a crucial counterbalancing force in preserving diversity and strengthening the foundations of democracy. This model offers relevant inspiration for religious leadership in the contemporary era.