Ipah Ema Jumiati
Program Studi Administrasi Publik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerapan Pekarangan Rumah Lestari Oleh Kelompok Wanita Tani Dalam Menunjang Ketahanan Pangan Keluarga Di Kelurahan Sawah Luhur Kecamatan Kasemen Kota Serang Ipah Ema Jumiati; Rina Yulianti; Indar Kustiningsih
BANTENESE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 6 No. 1 (2024): Bantenese : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Pusat Studi Sosial dan Pengabdian Masyarakat Fisipkum Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/ps2pm.v6i1.7581

Abstract

Pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia. Bila pemenuhan akan hal tersebut tidak dapat tercapai maka, berarti akan mengancam keberlangsungan hidup manusia. Kelurahan Sawah luhur yang merupakan wilayah pemukiman serta perdagangan dan bisnis, minim sekali memiliki wilayah pertanian, sehingga untuk pemenuhan kebutuhan pangan masih bergantung kepada pasokan dari luar wilayahnya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka perlu pemanfaatan potensi lokal yaitu lahan pekarangan pemukiman yang belum dikelola yaitu melalui program Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Pada program tersebut, menjadikan Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai subjek pemberdayaan, dengan tujuan program yaitu tercapainya kemandirian dan ketahanan pangan rumah tangga. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengidentifikasi pemberdayaan KWT melalui program P2L di kota Serang terutama di Kelurahan Sawah Luhur serta faktor penghambatnya dan upaya untuk mengatasi kendala tersebut. Pemberdayaan KWT melalui program P2L di Desa Sawah Luhur, Kota Serang, telah berlangsung seiring dengan pelaksanaan pengembangan masyarakat, pengembangan usaha, pengembangan lingkungan dan pembinaan kelembagaan di bidang pemerintahan dan pelaporan. Oleh karena itu, upaya Dinas Ketahanan Pangan Kota Serang untuk mengantisipasi kendala tersebut antara lain melakukan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan seperti Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Serang, penyuluh, ketua dan anggota KWT. Pemberdayaan KWT melalui program P2L di Kota Serang khususnya di kelurahan Sawah belum optimal karena masih terdapat beberapa kendala yang ditemui dalam beberapa aspek pemberdayaan, oleh karena itu diperlukan beberapa langkah untuk mengatasi kendala tersebut.
Penguatan Kapasitas Aparatur Desa dalam Pengelolaan Aset Desa melalui Pelatihan Manajemen Aset di Desa Sukabares Kabupaten Serang Maulana Yusuf; Rahmawati Rahmawati; Ardiyansah Ardiyansah; Ipah Ema Jumiati
WINDRADI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): June
Publisher : P3M FIA UNKRIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61332/windradi.v4i1.554

Abstract

Village asset management is an essential component of village governance that supports accountability, transparency, and the optimal utilization of local resources. However, village officials often face challenges related to asset inventory, administration, legal status, and asset utilization in accordance with applicable regulations. This community service program aimed to strengthen the capacity of village officials in managing village assets through asset management training conducted in Sukabares Village, Waringin Kurung District, Serang Regency. The program was implemented through educational sessions, training workshops, interactive discussions, and practical assistance in preparing village asset administration documents. The training materials covered fundamental concepts of asset management, asset inventory procedures, legal audits, asset valuation, asset optimization strategies, as well as monitoring and control mechanisms. Participants included village officials, members of the Village Consultative Body (BPD), village asset managers, and community representatives. The results demonstrated an improvement in participants’ understanding of proper village asset governance, particularly regarding asset recording procedures, ownership identification, and inventory administration practices. Furthermore, participants were able to identify key challenges in village asset management and formulate practical solutions to address existing issues. The program contributed positively to enhancing institutional capacity and promoting more accountable, transparent, and sustainable village asset governance. The findings indicate that capacity-building initiatives through training can serve as an effective strategy to improve village asset management practices and support good governance at the village level.