Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sasak Traditional Marriage System in Avoiding Conflict and Preventing Disharmony Between Families in the Modern Era M. Qamaruzzam Alawiyyin Batin Zohiro; Paenal Juni Harian; Khairul Nur Hazami; Santiani Santiani; Ananda Wahidah
JED (Jurnal Etika Demokrasi) Vol 9, No 1 (2024): JED (Jurnal Etika Demokrasi)
Publisher : Universitas of Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/jed.v9i1.13074

Abstract

Family encouragement and custom often force someone to get married even though the person is not fully ready, often creating conflict within the family. This research reveals that the Sasak traditional marriage system on Lombok Island legalizes kidnapping marriages so that the potential for conflict is increasingly wide open. This study aims to examine and analyze the role of the Sasak marriage customary system in an effort to reduce the potential for conflict due to merarik kodek which can result in disharmony between the couple's families. This research uses a qualitative method with an ethnographic approach carried out through observation and in-depth interviews conducted with 19 informants. The results show that conflicts that can occur due to child marriage can be mitigated by the merarik customary system, even though the custom itself triggers potential conflicts that can result in disharmony between the couple's families. The first three processes of merarik, namely maling, besejati and selabar, will create the potential for conflict, and the next three processes, ngawinan, nyongkolan and bales lampak nae, will reduce the potential for conflict. So, it is concluded that the Sasak marriage system can reduce conflict due to the tradition of merarik kodek.
Awig-Awig Pernikahan Desa Sengkerang Sebagai Bentuk Perlawanan Simbolik Kaum Subaltern Terhadap Polarisasi Gender Paenal Juni Harian; Nadira Baenarti; Dinda Juliana Novita; Imam Malik
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4b (2025): Edisi Khusus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4b.3586

Abstract

Perempuan di negara dunia ketiga seperti Indonesia yang populer dengan sebutan kaum subaltern seringkali mendapat perlakuan subordinasi disebabkan polarisasi gender yang menenggelamkan hak dan status sosial mereka. Mengakarnya budaya patriarki menjadikan polarisasi gender masih subur di Indonesia, tidak terkecuali di Pulau Lombok yang masyarakatnya cenderung masih memiliki prinsip dan pola pikir konservatif karena memegang teguh warisan nilai nenek moyang. Mengacu pada kondisi demikian, Desa Sengkerang di Kabupaten Lombok Tengah membuat sebuah awig-awig pernikahan sebagai simbol perlawanan atas polarisasi gender dan menguatkan kedudukan kaum perempuan di masyarakat. Awig-awig tersebut berisi ketentuan bahwa mahar perempuan (pisuke) ditentukan besarannya berdasarkan tingkat pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji awig-awig pernikahan di Desa Sengkerang sebagai bentuk perlawanan simbolik yang dilakukan oleh kaum subaltern terhadap polarisasi dan stereotip gender yang mengakar dalam masyarakat. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data diperoleh dari wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumen lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awig-awig pernikahan tidak hanya berfungsi sebagai aturan normatif yang mengatur hubungan sosial, tetapi juga sebagai ruang negosiasi dan penegasan identitas kaum subaltern dalam menolak pembatasan-pembatasan peran gender yang konvensional. Awig-awig tersebut mengandung nilai-nilai yang menempatkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai bagian integral dari tata sosial desa. Dengan demikian, awig-awig pernikahan di Desa Sengkerang memberikan kontribusi penting dalam melawan dominasi patriarki melalui representasi simbolik yang memperkuat suara dan posisi kaum subaltern dalam struktur sosial. Temuan ini membuka wawasan baru tentang hubungan antara tradisi lokal dan dinamika perlawanan sosial terhadap ketidaksetaraan gender.