Asyharul Muala
Universitas Islam Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The The Legal Ruling on the Sale of Animal Manure in the Shāfiʿī and Ḥanafī Schools of Islamic Law Asyharul Muala; Muh. Syakur; Mashun Adib; Hasman Zhafiri Muhammad
Jurnal Syariah, Hukum, dan Ekonomi Islam Vol. 3 No. 2 December 2025: Jurnal Syariah, Hukum, dan Ekonomi Islam
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jshei.v3i2.591

Abstract

Artikel ini mengkaji praktik perdagangan kotoran hewan (najāsah) sebagai pupuk organik dari perspektif mazhab fiqih Syafi'i dan Hanafi. Studi ini menemukan bahwa transaksi semacam itu banyak dipraktikkan di Kabupaten Temanggung, di mana kotoran hewan umum digunakan untuk memupuk berbagai tanaman pertanian. Terlepas dari prevalensinya, praktik ini telah menimbulkan perdebatan ilmiah. Imam al-Syafi'i berpendapat bahwa penjualan zat najis (al-najāsah) tidak sah, karena objek penjualan harus suci (ṭāhir). Namun, para ahli hukum Syafi'i kemudian (al-Syafi'iyyah) mengusulkan pendekatan alternatif dengan mengizinkan pengalihan kepemilikan zat najis melalui perjanjian berbasis pertukaran yang tidak merupakan kontrak jual beli formal (ʿaqd al-bayʿ). Sebaliknya, mazhab Hanafi memperbolehkan penjualan barang najis dengan alasan barang tersebut memiliki manfaat nyata dan berguna (manfa'ah). Berdasarkan perspektif hukum tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa perdagangan pupuk kandang di Kabupaten Temanggung sah secara hukum, sesuai dengan pendapat mazhab Hanafi dan pendapat para ahli hukum Syafi'i yang memperbolehkan transaksi yang melibatkan zat najis yang menghasilkan manfaat praktis.
Reconstructing the Meaning of Justice in the Practice of Taʿzir: The Perspective of Equality Before the Law at Miftakhurrosyidin Islamic Boarding School Asyharul Muala; Sumarjoko; Kurnia Laili Khamida
Jurnal Syariah, Hukum, dan Ekonomi Islam Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Syariah, Hukum, dan Ekonomi Islam
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jshei.v4i1.674

Abstract

Indonesia, as a rule-of-law state, is obligated to uphold the principle of equality before the law, as enshrined in Article 27 paragraph (1) of the 1945 Constitution. This study seeks to examine the construction of taʿzir practices at Pondok Pesantren Miftakhurrosyidin Temanggung and to critically analyze how the principle of equality before the law is interpreted and implemented within these practices. Employing a qualitative approach, this research is conducted in a natural setting to obtain a comprehensive and in-depth understanding of the mechanisms underlying the implementation of taʿzir. As a field study, data are gathered through direct observation and engagement with the lived practices in the pesantren, particularly concerning the application of legal equality in disciplinary measures. The findings indicate that the imposition of taʿzir follows an internal adjudicative process informed by a conception of justice aligned with Aristotelian thought, which emphasizes proportionality rather than rigid uniformity. In this framework, justice is realized through the allocation of rights and sanctions in accordance with the specific context and social roles of individuals, allowing for both equal and differentiated treatment where appropriate