Fenomena mengenai perawatan orang tua lanjut usia semakin menjadi perhatian yang penting untuk dipahami, melihat kondisi sosial yang menunjukan banyak orang tua terlantar dan tidak mendapat perhatian yang seharusnya khususnya dari keluarga inti yaitu anak. Isu tersebut semakin menarik dari sudut anak tunggal sebagai status dalam keluarga yang tidak memiliki saudara untuk berbagi tugas dalam memberikan perawatan kepada orang tua. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana anak tunggal khususnya Generasi Z memandang peran caregiver dan membentuk makna dalam diri mereka yang dari berbagai nilai budaya. Hasil penelitian pertama menunjukan caregiver dimaknai sebagai wujud kasih sayang, timbal balik dan bakti yang besar dan tidak perlu dipertanyakan kembali untuk merawat orang tua atas pengorbanan yang telah diberikan kepada diri mereka. Temuan kedua menunjukan bahwa nilai budaya dalam keluarga menjadi faktor yang mempengaruhi proses komunikasi mengenai tanggung jawab merawat orang tua, melalui perbedaan latar belakang budaya tidak menghasilkan makna yang saling bertentangan melainkan memperkaya cara Generasi Z memahami dan menjalankan tanggung jawab merawat orang tua. Hasil penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya memiliki peran besar dalam membentuk cara pandang Generasi Z terhadap tanggung jawab merawat orang tua. Meskipun berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, para informan memiliki makna yang serupa mengenai pentingnya merawat orang tua, sehingga penelitian ini dapat menjadi dasar bagi penguatan pendidikan karakter, nilai kekeluargaan, dan penyusunan kebijakan yang mendorong keterlibatan keluarga dalam perawatan lansia.