Penelitian ini membahas dinamika pembentukan China-Japan-South Korea Free Trade Agreement (CJK FTA) dengan fokus pada perspektif Jepang. CJK FTA merepresentasikan ambisi besar integrasi ekonomi Asia Timur yang melibatkan tiga kekuatan utama yakni Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Meski negosiasi telah berlangsung sejak 2013 dan mencakup 16 putaran hingga 2022, belum ada kesepakatan final karena kompleksitas perbedaan ekonomi, geopolitik, dan strategi antarnegara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan studi literatur dengan pengumpulan data dari dokumen-dokumen sekunder lainnya seperti artikel jurnal, berita, laporan ekonomi, dokumen pemerintah, dan sumber internet. Menggunakan konsep economic cooperation dan FTA, penelitian ini menunjukkan Jepang menghadapi dilema strategis dalam merespons peluang dan tantangan FTA ini: di satu sisi, ingin memperluas pengaruh normatifnya dalam perdagangan regional, namun di sisi lain, harus mempertimbangkan sensitivitas domestik dan risiko ketergantungan pada Cina dan Korea Selatan. Meskipun Jepang telah menunjukkan ketertarikan terhadap China-Japan-Korea Free Trade Agreement (CJK FTA), negara ini belum menunjukkan komitmen politik yang signifikan. Jepang lebih tertarik pada perjanjian CJK FTA tingkat tinggi yang mencakup liberalisasi yang lebih komprehensif, termasuk liberalisasi investasi, aliran modal, layanan, hak kekayaan intelektual, kebijakan lingkungan, dan ketenagakerjaan. Kata Kunci: CJK FTA, Sikap Jepang, Economic Cooperation, FTA.