Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyalahgunaan Narkoba Pada Warga Binaan Re-habilitasi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kota Banjar Reni Hertini; Intanti Kurnia; Aneng Yuningsih
Tasikmalaya Nursing Journal Vol. 1 No. 2 (2023): Tasikmalaya Nursing Journal
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37160/tnj.v1i2.319

Abstract

ABSTRAK Tujuan: Peningkatan kasus penyalahgunaan Napza di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Hasil survey data dilakukan pada tanggal 7 Maret 2022 di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kota Banjar di dapatkan hasil bahwa selama tiga bulan terakhir ada 265 warga binaan kasus penyalahgunaan Napza. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penyalahgunaan narkoba pada klien rehabilitasi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kota Banjar. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 36 anggota program rehabilitasi penyalahgunaan narkoba di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kota Banjar, dengan menggunakan teknik total sampling. Jelaskan metode penelitian mencakup jenis penelitian, desain, populasi, teknik sampling, jumlah sampel, metode penyajian data, metode analisa data, instrumen penelitian. Hasil: Faktor individu berada dalam kategori tidak berpengaruh, yaitu sebanyak 21 orang (58,3%). Faktor lingkungan yang masuk kategori tidak berpengaruh sebanyak 21 orang (58,3%). Faktor keluarga termasuk dalam kategori berpengaruh, yaitu 28 orang (77,8%). Kesimpulan: Terdapat pengaruh faktor lingkungan terhadap penyalahgunaan narkoba terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba dengan p value sebesar 0,003. Dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi penyalahgunaan narkoba pada klien rehabilitasi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB di Kota Banjar adalah faktor lingkungan.
Peran Perempuan dalam Merawat Lansia Demensia: Analisis Family Burden di Wilayah Pasir Muncang Ferdinan Sihombing; Tuti Rosdiana; Reni Hertini; Bani Sakti; Lesta Livolina Simamora; Emilia Putri Parera
Jurnal Kesehatan Elisabeth Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Kesehatan Elisabeth: Juli 2025
Publisher : Stikes Elisabeth Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70378/8fmnbm27

Abstract

Peningkatan jumlah lansia di Indonesia turut meningkatkan prevalensi demensia yang berdampak pada kebutuhan perawatan jangka panjang oleh keluarga. Kondisi ini menimbulkan beban emosional, fisik, sosial, dan ekonomi, khususnya bagi caregiver perempuan di lingkungan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik caregiver perempuan dan tingkat beban keluarga (family burden) dalam merawat lansia dengan demensia di wilayah Pasir Muncang, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling terhadap 60 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas caregiver adalah perempuan (86,7%) dan berpendidikan terakhir Sekolah Dasar (65%). Sebanyak 75% responden mengalami beban ringan dan 25% mengalami beban sedang. Tidak ditemukan responden dengan beban berat maupun tanpa beban. Temuan ini menunjukkan bahwa perempuan dengan latar pendidikan rendah memegang peranan penting dalam perawatan lansia demensia, namun tetap berisiko mengalami tekanan jangka panjang. Diperlukan intervensi berbasis komunitas melalui edukasi, pelatihan keterampilan merawat, dan dukungan sosial untuk meningkatkan kapasitas caregiver serta menurunkan risiko family burden.
Sentuhan Harmoni: Efektivitas Terapi Lima Jari dalam Mengurangi Kecemasan dan Kuali-tas Tidur pada Warga Binaan Pemasyarakatan Reni Hertini; siti Rohimah; Enik Suharyanti; Aneng Yuningsih
Tasikmalaya Nursing Journal Vol. 3 No. 01 (2025): Tasikmalaya Nursing Jurnal
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37160/tnj.v3i01.739

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) rentan mengalami gangguan kecemasan dan tidur akibat tekanan dan stresor lingkungan. Intervensi non-farmakologis, seperti terapi komplementer berbasis dapat menjadi alternatif yang aman dan efektif untuk mengatasi kecemasan dan meningkatkan kualitas tidur pada warga binaan. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas terapi lima jari dalam mengurangi kecemasan dan meningkatkan kualitas tidur pada warga binaan pemasyarakatan.Kecemasan dan gangguan tidur merupakan tanda genjala dari gangguan psikologis yang sering dialami oleh warga binaan, yang dapat berdampak pada kesejahteraan mental dan perilaku mereka. Terapi lima jari, yang melibatkan teknik relaksasi melalui jari-jemari, dipercaya dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan dan membantu meningkatkan kualitas tidur. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain pre-test dan post-test pada 40 warga binaan yang mengalami kecemasan tingkat ringan hingga sedang. Sebelum dan setelah intervensi, tingkat kecemasan peserta diukur menggunakan skala kecemasan yang telah tervalidasi dan kualitas tidur diukur dengan tes Pittsburgh Sleep Quality Index. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan 17 responden mengalami perubahan skor kecemasan dari cemas sedang menjadi cemas ringan, kemudian 22 responden mengalami peningkatan kualitas tidur dari kategori buruk menjadi baik. Temuan ini mendukung hipotesis bahwa terapi lima jari dapat menjadi intervensi yang efektif untuk mengurangi kecemasan pada warga binaan, serta memberikan pendekatan alternatif yang dapat diterapkan dalam sistem rehabilitasi mental di lembaga pemasyarakatan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan program rehabilitasi psikologis yang lebih holistik dalam konteks pemasyarakatan.
Strengthening The Soul to Preserve Culture: Hangasa Juice Therapy on Sleep Quality and Anxiety to Prevent Psychosocial Mental Emergencies in Class IIB Correctional Centre, Banjar City Reni Hertini; Siti Rohimah; Asri Aprilia Rohman
Viva Medika Vol 17 No 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/vm.v17i3.1556

Abstract

Correctional Inmates (WBP) in prisons are vulnerable to experiencing anxiety and sleep disorders due to environmental pressure. This study tested the effectiveness of hangasa juice, a herbal-based non-pharmacological intervention, in reducing anxiety and improving sleep quality in inmates at Class 2B Prison in Banjar City. A quantitative approach with a quasi-experimental one-group pretest-posttest design was used, involving WBP as the sample. The results show that the significance of the pre-test and post-test results on anxiety levels is 0.331>0.05 and the results of sleep quality show that the significance of the pre-test and post-test results is 0.199>0.05 collected using the PSQI and SAS/SRAS questionnaires. The results showed a decrease in anxiety levels and an increase in sleep quality after the intervention, although not statistically significant. These findings indicate the potential of hangasa juice in overcoming anxiety and improving sleep quality, in line with previous research that research results show that hangasa contains flavonoids, alkaloids, tannins and essential oils, which have biological activity that is good for health. Extracts from Hangasa have significant antioxidant activity. These properties are in line with the antioxidant and antimicrobial properties of the essential oils contained in this plant. So this research opens up opportunities for further research with a stronger design to test its effectiveness and explore its mechanism of action.
Implementation of MENTARI (Mental Health Remaja Indonesia) Application Innovation Assessment for Early Detection of Adolescent Mental Health at SMPN 1 Purwadadi Reni Hertini; Tita Rohita; Daniel A. Wibowo
Pengabdian: Jurnal Abdimas Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/abdimas.v2i2.812

Abstract

Background. Indonesia is one of the developing countries with a significant number of mental health patients. The prevalence of emotional disorders with symptoms of depression and anxiety among the population continues to increase, leading to a rising tendency for self-harm and suicide. Suicide cases in Indonesia can reach up to 10,000 or equivalent to one suicide case every hour. Purpose. The aim of this community service is to provide early detection for adolescents by introducing an application named MENTARI (Indonesian Adolescent Mental Health) Assessment. Method. The implementation is carried out by guiding students to download the MENTARI Assessment application available on the Playstore. Users will directly know their results whether they are normal, borderline, or below the threshold (abnormal). Results. Based on the results of the implementation of the MENTARI application innovation, it can be concluded that the majority of the emotional category is below the threshold, the majority of the behavior category is below the threshold, the majority of the hyperactivity category has normal results, the peer category has normal results, and the prosocial category also has normal results. For the difficulty level in grade 7, there is a difficulty level of 62.5%, grade 8 has a difficulty level of 8.02%, and for grade 9, the difficulty level is 6.41%. Conclusion. Adolescence is a period filled with changes and challenges, both physically, emotionally, and socially. Challenges such as puberty, changes in social roles, and adaptation to the environment can lead to pressure and stress. If unable to cope with these challenges, adolescents are at risk of experiencing emotional problems and significant stress in their lives. Therefore, early detection through applications like MENTARI is crucial to provide appropriate interventions and support adolescents in facing these challenges.