p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Sylva Scienteae
Muhammad Faisal Mahdie
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Identifikasi Senyawa Kimia Asap Cair Cangkang Kemiri (Aleurites moluccana Wild) Grade Premium dengan Menggunakan Zeolit Aktif dan Arang Aktif Alaban Hanifa Arsya; Muhammad Faisal Mahdie; Noor Mirad Sari
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i2.8925

Abstract

Liquid smoke is acetic acid produced from the dry condensation process of raw materials and followed by condensation. Liquid smoke content Liquid smoke contains cellulose, hemicellulose and lignin which are influenced by the type of wood, moisture content and combustion temperature. The Batu Kura Forest Farmers Group (KTH) is one of the liquid smoke producers that utilizes candlenut shells as a raw material for making liquid smoke. Identification of chemical compounds from liquid smoke produced is important to optimize the benefits of liquid smoke. The purpose of this study was to identify the chemical compounds contained in premium grade hazelnut shell liquid smoke. Purification of grade 3 liquid smoke is carried out by distillation and filtration methods using active zeolite and alaban activated charcoal then the resulting liquid smoke becomes premium grade candlenut shell liquid smoke. After that identify the chemical content of premium grade candlenut shell liquid smoke using a Gas Chromatography Mass Spectrometry (GC-MS) tool. The results showed that there were 11 peaks and contained 27 chemical components with the most dominant compounds being Toluene at 56.35%, 3-Penten-2-one,4-methyl at 35.84%, Cyclohexane, methyl at 5.30%, Phenol,2-methoxy 0.99%, Phenol,2-methoxy-4-(1-propenyl) 0.22%.Asap cair merupakan asam cuka yang dihasilkan dari proses pengembunan kering bahan baku dan dilanjutkan dengan kondensasi. Kandungan asap cair Asap cair memiliki kandungan selulosa, hemiselulosa dan lignin yang dipengaruhi oleh jenis kayu, kadar air dan suhu pembakaran. Kelompok tani Hutan Batu Kura (KTH) merupakan salah satu produsen asap cair yang memanfaatkan cangkang kemiri sebagai bahan baku pembuatan asap cair. Identifikasi senyawa kimia dari asap cair hasil produksi penting dilakukan untuk mengoptimalkan manfaat dari asap cair. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi senyawa kimia yang terdapat pada asap cair cangkang kemiri grade premium. Pemurnian asap cair grade 3 dilakukan dengan metode destilasi dan filtrasi menggunakan zeolit aktif dan arang aktif alaban kemudian asap cair yang dihasilkan menjadi asap cair cangkang kemiri grade premium. Setelah itu mengidentifikasi kandungan senyawa kimia asap cair cangkang kemiri grade premium menggunakan alat Gas Chromatography Mass Spektrometry (GC-MS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 11 puncak dan mengandung senyawa kimia sebanyak 27 komponen senyawa kimia dengan senyawa yang paling dominan yaitu Toluene sebesar 56,35%, 3-Penten-2-one,4-methyl sebesar 35,84%, Cyclohexane,methyl sebesar 5,30%, Phenol,2-methoxy sebesar 0,99%, Phenol,2-methoxy-4-(1-propenyl) sebesar 0,22%.
KARAKTERISTIK BIOPELET SERBUK KAYU MAHONI (Swietenia mahagoni) DAN SEKAM PADI (Oryza sativa) Jory Chantona; Muhammad Faisal Mahdie; Zainal Abidin
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 2 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 2 Edisi APRIL 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i2.18945

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi biopelet dari limbah serbuk kayu mahoni dan sekam padi, dengan tujuan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia (SNI). Biopelet dipilih sebagai sumber energi biomassa alternatif untuk mengatasi masalah kerapatan energi rendah serta tantangan dalam penanganan, penyimpanan, dan transportasi. Penelitian ini mengevaluasi karakteristik biopelet, termasuk kerapatan, kadar air, kadar abu, zat terbang, karbon terikat, dan nilai kalor. Hasil penelitian diperoleh yaitu kerapatan tertinggi dicapai oleh intervensi A dengan nilai 0,6336%, dan terendah oleh intervensi E dengan nilai 0,4423%. Kadar air tertinggi terdapat pada intervensi B, yaitu 19,2820%, dan terendah pada intervensi E dengan nilai 10,6140%. Kadar abu tertinggi pada intervensi A adalah 0,634%, adapun terendah pada intervensi E adalah 0,442%. Zat terbang tertinggi pada intervensi B mencapai 9,999%, dan terendah pada intervensi E dengan nilai 5,538%. Karbon terikat tertinggi terdapat pada intervensi A dengan nilai 79,8257%, sedangkan terendah pada intervensi E dengan nilai 46,4626%. Nilai kalor tertinggi tercatat pada intervensi A dengan 4004,43 kal/g, dan terendah pada intervensi E dengan 3844,75 kal/g. Penelitian ini menunjukkan variasi karakteristik biopelet berdasarkan intervensi yang diberikan. Intervensi A memberikan kerapatan dan nilai kalor tertinggi, sementara intervensi E menunjukkan hasil terendah pada parameter yang diukur.