Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGUATAN PENDIDIKAN LITERASI DIGITAL BERBASIS VIRTUAL REALITY BAGI GURU IPS DI KABUPATEN KUDUS Asep Ginanjar; Sony Zulfikasari; Aisyah Nur Sayidatun Nisa; Fredy Hermanto; Noviani Achmad Putri; Aan Probo Wiranto; Diah Ayu Puji Lestari; Rafi Larepa Almanda; Tio Putra Refiyan
Harmony: Jurnal Pembelajaran IPS dan PKN Vol. 9 No. 1 (2024): Volume 9 Nomor 1 Mei 2024
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmony.v9i1.21723

Abstract

Era teknologi dan informasi yang semakin maju ini, budaya dengan kearifan lokal tidak boleh dilupakan. Peran kearifan lokal secara kritis mengubah dan membentuk budaya global menjadi bermakna dan sesuai dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat, termasuk di dalamnya dunia pendidikan. Maka dari itu guru saat ini dituntut untuk mampu melestarikan nilai-nilai lokal ditengah arus kemajuan teknologi yang begitu deras. Salah satu upaya yang dapat dilakukan melalui kegiatan pembelajaran dengan menggunakan Virtual Reality oleh guru IPS di Kabupaten Kudus. Kabupaten Kudus kaya akan kearifan lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar IPS seperti Masjid Menara Kudus, Museum Kretek, Situs Pati Ayam, Rumah Tradisional Kudus, dll. Melalui Virtual reality berbasis kearifan lokal ini diharapkan dapat melatih peserta didik untuk melestarikan nilai-nilai konservasi sosial budaya melalui kearifan lokal yang ada di Kabupaten Kudus. Metode pelatihan dalam kegiatan ini yaitu Praktek Pengembangan Masyarakat atau Community Development Practice. Kemampuan dalam mengembangkan media pembelajaran digital yang relevan dengan jaman tentunya merupakan keterampilan yang sangat dibutuhkan oleh guru pada era digital ini. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, guru dapat meningkatkan keterampilan dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis viritual reality. Guru dapat mengemas materi kearifan lokal dalam bentuk digital yang tentunya akan lebih sesuai dengan generasi native digital yang saat ini mendominasi bangku sekolah. In this increasingly advanced era of technology and information, culture and local wisdom must not be forgotten. The role of local wisdom is to critically change and shape global culture to make it meaningful and appropriate to the social and cultural life of society, including the world of education. Therefore, teachers are currently required to be able to preserve local values ​​amidst the rapid flow of technological progress. One effort that can be made is through learning activities using Virtual Reality by social studies teachers in Kudus Regency. Kudus Regency is rich in local wisdom which can be used as a social studies learning resource such as the Kudus Tower Mosque, Kretek Museum, Chicken Starch Site, Kudus Traditional House, etc. Through virtual reality based on local wisdom, it is hoped that it can train students to preserve socio-cultural conservation values ​​through local wisdom in Kudus Regency. The training method in this activity is Community Development Practice. The ability to develop digital learning media that is relevant to the times is certainly a skill that is really needed by teachers in this digital era. Through this community service activity, teachers can improve their skills in developing virtual reality-based learning media. Teachers can package local wisdom material in digital form which will certainly be more suitable for the digital native generation that currently dominates school.
The Role of the Community in Preserving the Jamasan Pusaka Bende Tradition in Bumijawa Village, Tegal Regency: A Study from a Cultural Anthropological Perspective Fifit Asani Putri; Asep Ginanjar
Historia Vol 15 No 1 (2027): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah (Issu in Progress)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/hj.v15i1.15823

Abstract

This study aims to analyze the role of the community in preserving the Jamasan Heirloom Bende Tradition in Bumijawa Village, Tegal Regency, from a cultural anthropological perspective. The Jamasan tradition is a ritual for cleansing heirlooms, rich in historical, symbolic, social, and spiritual values, and is part of the community's collective identity. Amidst the current of modernization, this tradition faces challenges in the form of changing participation patterns and shifting views of the younger generation towards local culture. The study used a descriptive qualitative approach with data collection techniques through in-depth interviews and documentation. Informants included caretakers, young cultural activists, and the Head of Bumijawa Village. Data analysis used the interactive model of Miles and Huberman through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results show that this tradition is interpreted as an expression of gratitude, a symbol of self-purification, and a means of strengthening social solidarity and community identity. Its preservation is supported by the active role of residents and the village government on an ongoing basis.
Integrasi Nilai-Nilai Konservasi pada Tradisi Susuk Wangan dalam Sumber Pembelajaran IPS Shelly Nur Syiva Kusumaningtyas; Asep Ginanjar
(JPAP) Jurnal Praktisi Administrasi Pendidikan Vol. 10 No. 2 (2026): JULI
Publisher : Postgraduate University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpap.v10i2.1603

Abstract

Tradisi lokal memiliki peran penting dalam mendukung pelestarian lingkungan melalui praktik konservasi yang berbasis pada kearifan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai konservasi yang terkandung dalam Tradisi Susuk Wangan di Desa Nogosaren, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, serta mengkaji potensinya sebagai sumber pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposive yang meliputi tokoh masyarakat, perangkat desa, juru kunci, dan masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan tradisi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi untuk menjamin keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Susuk Wangan mengintegrasikan praktik konservasi flora melalui penanaman pohon beringin, konservasi fauna melalui pelepasan ikan dan burung lokal, serta konservasi ekosistem perairan melalui pembersihan sumber mata air. Praktik tersebut tidak hanya memiliki makna simbolis sebagai ungkapan syukur masyarakat, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan dan memperkuat kesadaran ekologis masyarakat. Selain itu, tradisi ini mengandung nilai gotong royong, kepedulian, dan tanggung jawab yang relevan sebagai sumber pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal karena mampu menghubungkan konsep hubungan manusia dengan lingkungan dalam konteks kehidupan nyata. Dengan demikian, Tradisi Susuk Wangan merupakan bentuk konservasi berbasis masyarakat yang mengintegrasikan nilai budaya, pelestarian lingkungan, dan pembelajaran kontekstual.
PENGUATAN DEEP LEARNING MELALUI KEARIFAN LOKAL BERBASIS DIGITAL BAGI GURU IPS DI KABUPATEN BATANG Noviani Achmad Putri; Galih Mahardika Christian; Asep Ginanjar; Dinok Sudiami; Radini Sinta
Harmony: Jurnal Pembelajaran IPS dan PKN Vol. 11 No. 1 (2026): Volume 11 Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmony.v11i1.38509

Abstract

Pendekatan Deep Learning atau pembelajaran mendalam diharapkan menjadi sebuah solusi atas tantangan tersebut. Dilihat dari karakteristik peserta didik pada era digital ini, maka pendekatan Deep Learning dirasa akan lebih optimal jika diimplementasikan dengan mengintegrasikan kearifan lokal yang berbasis digital. Oleh sebab itu, diperlukan guru IPS yang dapat mengaplikasikan pendekatan Deep Learning dengan mengintegrasikan kearifan lokal dalam bentuk digital. Salah satu wilayah yang kaya akan nilai-nilai kearifan lokal yaitu Kabupaten Batang di Jawa Tengah. Banyaknya tradisi serta peninggalan Sejarah yang belum dimanfaatkan secara maksimal mendorong tim memilih Kabupaten Batang untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka optimalisasi penggunaan pendekatan Deep Learning melalui pemanfaatn nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Kabupaten Batang dengan berbasis digital sehingga proses pembelajaran IPS akan lebih mindful, meaningful, dan joyful. Metode kegiatan ini menggunakan metode PRA (Participatory Rural Appraisal) dengan diawali perencanaan yang meliputi mengkaji potensi serta alternatif kegiatan yang dapat dilaksanakan, kemudian tahap pelaksanaan kegiatan yang berfokus pada pembentukan sikap dan prilaku masyarakat untuk terlibat aktif dan inisiatif saling berbagi dan belajar, selama kegiatan secara bersama-sama dievaluasi untuk jadi dasar perbaikan selanjutnya.