Perkembangan teknologi jaringan seluler generasi kelima (5G) menghadirkan peningkatan signifikan dalam hal kapasitas data, efisiensi jaringan, dan kualitas layanan dibandingkan generasi sebelumnya. Dalam implementasinya, terdapat dua pendekatan arsitektur utama, yaitu Non-Standalone (NSA) dan Standalone (SA), yang memiliki karakteristik serta keunggulan masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan arsitektur 5G NSA dan SA berdasarkan beberapa parameter teknis utama, meliputi struktur core network, latency, kompleksitas deployment, serta dukungan terhadap fitur-fitur lanjutan 5G. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dengan pendekatan kualitatif, melalui pengumpulan dan analisis sumber ilmiah bereputasi yang dipublikasikan pada periode 2020–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur NSA masih bergantung pada infrastruktur LTE melalui Evolved Packet Core (EPC), sehingga memungkinkan proses deployment yang lebih cepat dan efisien dari sisi biaya, namun memiliki keterbatasan dalam mendukung fitur-fitur lanjutan 5G secara optimal. Sebaliknya, arsitektur SA menggunakan 5G Core (5GC) berbasis cloud-native yang memberikan fleksibilitas, skalabilitas, serta dukungan penuh terhadap fitur seperti network slicing dan komunikasi dengan latency rendah. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa NSA lebih sesuai sebagai solusi awal implementasi 5G, sedangkan SA merupakan arah pengembangan utama jaringan 5G di masa depan untuk mendukung layanan yang lebih kompleks dan kritis.