Ibnu Sodiq
Universitas Negeri Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Jejak Historis Dan Perkembangan Pengobatan Sangkal Putung Di Indonesia Leo Saputro; Ibnu Sodiq; Fadly Husain
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 10 No 2 (2025): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v11i2.7297

Abstract

Penelitian ini membahas tentang pengobatan tradisional sangkal putung dan perkembangannya secara historis dari masa ke masa. Dimana pengobatan tradisional ini masih ada dan berkembang di masyarakat Indonesia sejak lama. Dengan bergantinya masa dari masa pra kolonial, masa kolonial hingga masa kemerdekaan, keberadaan praktik pengobatan tradisional sangkal putung masih diterima oleh masyarakat hingga saat ini yang menjadi alternatif pengobatan modern yang tidak sepenuhnya merambah pada lingkungan pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki jejak sejarah pengobatan Sangkal Putung di Indonesia dengan menempatkannya dalam konteks sejarah sosial dan budaya. Penelitian ini berupaya mengungkapkan asal-usul dan perkembangan praktik Sangkal Putung, pola pewarisan pengetahuan antar generasi, serta dinamika posisinya dalam sistem pengobatan masyarakat dari waktu ke waktu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan fokus pada kajian kepusatakaan dan penelusuran historis. Metode ini dipilih dengan tujuan utama penelitian tidak untuk melakukan pengujian hipotesis atau mengukur variabel secara kuantitatif, tetapi untuk memahami dan menyusun ulang kisah pengobatan tradisional khususnya praktik pengobatan Sangkal Putung yang dilihat dari aspek sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Sangkal Putung adalah salah satu jenis pengobatan tradisional yang masih eksis hingga saat ini, terutama dalam penanganan patah tulang. Secara sejarah, praktik ini telah ada sejak zaman pra-kolonial sebagai bagian dari pengobatan rakyat dan dijalankan oleh orang-orang yang memiliki keahlian khusus serta pengakuan sosial. Dalam masa kolonial, keterbatasan dan diskriminasi dalam layanan medis modern membuat masyarakat lokal tetap bergantung pada pengobatan tradisional, termasuk Sangkal Putung. Setelah merdeka, meskipun sistem kesehatan modern mulai dibangun, Sangkal Putung terus hidup berdampingan dengan pengobatan medis dalam pola pengobatan ganda. Keberadaan praktik ini hingga saat ini menunjukkan kuatnya kepercayaan masyarakat dan menegaskan posisi Sangkal Putung sebagai bagian dari identitas budaya dan sejarah kesehatan di Indonesia.
The Role of Mohammad Ichsan in Indonesian Foreign Diplomacy 1945-1960 Ihzanda Shibawati; Ibnu Sodiq
Historia Vol 15 No 1 (2027): HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah (Issu in Progress)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/hj.v15i1.16034

Abstract

This study aims to analyze the role of Mohammad Ichsan in Indonesia's foreign diplomacy during the early years of independence. The study is motivated by the tendency of Indonesian diplomatic historiography to focus primarily on major figures such as Soekarno and Mohammad Hatta, while the contributions of other diplomats like Mohammad Ichsan have received far less scholarly attention. This research employs the historical method with a descriptive qualitative approach, following the stages of heuristics, verification, interpretation, and historiography. The sources used in this study include archival documents, photographic archives, and relevant secondary literature. The findings indicate that Mohammad Ichsan did not merely perform administrative duties as a diplomat but also served as a symbolic representative of the state, an actor in socio-cultural diplomacy, and part of the institutional consolidation of Indonesian diplomatic missions abroad. Through various diplomatic and ceremonial activities in Bangkok, he contributed to affirming the presence and legitimacy of the Republic of Indonesia in the international arena. This study highlights the importance of supporting diplomats in the practice of Indonesian diplomacy in the post-independence period.