Lembaga Pendidikan harus berupaya melindungi siswa yang lemah agar tidak terjadinya cyberbullying didalam sebuah Lembaga Pendidikan. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk memanalisir terjadinya cyberbullying di lingkungan sekolah dengan memanfaatkan pendekatan berbasis kearifan lokal. Metode penelitian ini yaitu penelitian kualitatif deskriptif jenis penelitiannya studi kasus dilapangan. Teknik pengumpulan datanya yaitu observasi, wawancara, dokumen, buku, penelitian terdahulu, serta jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini. Lokasi penelitian ini yaitu di SMKN 1 Kota Pariaman. Hasil penelitian ini mengidentifikasi tiga aspek utama: pertama, penerapan nilai-nilai kearifan lokal dilakukan dengan mengintegrasikannya dalam kurikulum tersembunyi, kegiatan keagamaan seperti pembacaan Yasin dan program Al-Qur'an, program penguatan karakter, aktivitas ekstrakurikuler, serta kerja sama sekolah dengan institusi keagamaan. Tim anti-bullying yang terdiri dari siswa, guru pendidikan agama, guru BK, dan tenaga kependidikan lainnya turut berperan aktif. Kedua, penguatan keterampilan sosial yang mendukung pencegahan Cyberbullying mencakup kemampuan berempati, pengendalian diri, kerja sama, komunikasi efektif, serta literasi digital. Ketiga, pendekatan berbasis kearifan lokal terbukti memberi dampak positif bagi siswa dalam hal peningkatan kesadaran terhadap bahaya Cyberbullying, pemahaman yang lebih baik, penguatan identitas budaya, peningkatan literasi digital, dan kesejahteraan psikologis. Temuan ini menunjukkan bahwa perpaduan nilai budaya dan agama dapat menjadi strategi yang komprehensif dalam menangani permasalahan Cyberbullying di dunia pendidikan.