Grevo S. Gerung
Universitas Sam Ratulangi

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS

KEANEKARAGAMAN JENIS, KEPADATAN, DOMINANSI, DAN POLA PENYEBARAN ALGA HIJAU DI PERAIRAN PANTAI KALASEY MINAHASA SULAWESI UTARA Fernando D. Umar; Deislie R.H. Kumampung; Chatrien A.L. Sinjal; Grevo S. Gerung; Erly Y. Kaligis; Sandra O. Tilaar
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.1.2023.52736

Abstract

At the study site found sandy, muddy, sand mixed with dead coral, broken coral and rock substrates. Overall, the dominant substrate is sand mixed with silt. The surface temperature of the waters at the study site at the time of sampling based on environmental parameter measurements was 33°C, which means that the temperature at the research location is considered ideal. The salinity value at the time of sampling in Kalasey waters was 30‰. Based on the results of measuring the pH using a PH meter, the value obtained was 7. There were 4 species of green algae at the study site, almost all types of green algae had a dominant density such as Acetabularia acetabulum and some had relatively less density such as Halimeda opuntia. The diversity of Hʹ index values indicates Moderate diversity and moderate community conditions, there are several species that dominate these waters such as Acetabularia acetabulum whose number is more than the other species.Keywords: Diversity Of Green Algae, Kalasey Beach ABSTRAKDi lokasi penelitian ditemukan substrat berpasir, berlumpur, pasir bercampur dengan karang mati, patahan karang serta batuan. Secara keseluruhan substrat yang mendominasi yaitu pasir bercampur lumpur. Suhu permukaan perairan di lokasi penelitian pada saat pengambilan sampel berdasarkan pengukuran parameter lingkungan adalah 33°C yang berarti bahwa suhu di lokasi penelitian tersebut tergolong ideal. Nilai salinitas pada saat pengambilan sampel di perairan kalasey yaitu 30‰. Berdasarkan hasil pengukuran PH dengan menggunakan alat pengukur PH nilai yang diperoleh adalah 7. Terdapat 4 spesies alga hijau di lokasi penelitian tersebut, hampir semua jenis alga hijau memiliki jumlah kepadatan yang dominan seperti Acetabularia acetabulum dan ada juga memiliki jumlah kepadatan yang relatif kurang seperti Halimeda opuntia. Keanekaragaman nilai indeks Hʹ menunjukkan keanekaragaman Sedang dan keadaan komunitas yang sedang, ada beberapa spesies yang yang mendominasi perairan tersebut seperti Acetabularia acetabulum yang jumlahnya lebih banyak dibanding jenis yang lain.Kata Kunci: Keanekaragaman Jenis Alga Hijau, Pantai Kalasey
ESTIMASI KARBON TERSIMPAN PADA VEGETASI MANGROVE DI SEKITAR MARINE FIELD STATION UNIVERSITAS SAM RATULANGI KECAMATAN LIKUPANG KABUPATEN MINAHASA UTARA (Estimation of Stored Carbon in Mangrove Vegetation Around Marine Field Station Sam Ratulangi University Olivio E. De Jesus Soares; Joshian N. W. Schaduw; Antonius P. Rumengan; Grevo S. Gerung; Farnis B. Boneka; Calvyn F. A. Sondak
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.1.2023.53076

Abstract

Mangroves are plants that are able to survive in coastal areas under environmental conditionsthat are influenced by tides and muddy seawater. Mangrove forests have an ecological function, whichis to play a role in efforts to mitigate global warming because mangrove forests absorb and store carbondioxide (CO2) which is carried out through the process of photosynthesis and storing it in biomass stock.There are 2 objectives of this study, namely: (1) to estimate the carbon stored in mangrove vegetationin Likupang District, North Minahasa Regency (2) to find out how much potential carbon stock is storedin mangrove vegetation and absorption of carbon dioxide (CO2) on mangrove stands. The method usedin this study was a sample plot transect line (Dharmawan and Pramudji, 2001). Based on the resultsobtained from the calculation of the biomass and carbon stock stored in mangrove vegetation inLikupang District, North Minahasa Regency, it can be seen that the average value is 452.42 tons/hawith a carbon content or the amount of carbon stored is 212.64 tons C/ ha or equivalent to 780.38 tonsof CO2/ha.Keywords: Mangrove Vegetation, Carbon, North Minahasa ABSTRAKMangrove merupakan tumbuhan yang mampu bertahan hidup di daerah pesisir pantai dengandi bawah kondisi lingkungan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan berlumpur. Hutanmangrove memiliki salah satu fungsi ekologis yaitu berperan dalam upaya mitigasi pemanasan globalkarena hutan mangrove sebagai penyerap dan penyimpan karbon dioksida (CO2) yang dilakukanmelalui proses fotosintesis dan menyimpannya dalam stok biomassa. Tujuan dari penelitian ini ada 2yaitu: (1) mengestimasi karbon tersimpan pada vegetasi mangrove di Kecamatan Likupang, KabupatenMinahasa Utara, dan (2) mengetahui berapa besar potensi stok karbon tersimpan pada vegetasimangrove dan serapan karbondioksida (CO2) atas tegakan mangrove. Metode yang digunakan dalampenelitian ini adalah garis transek petak contoh (Dharmawan dan Pramudji, 2001). Berdasarkan hasilyang diperoleh dari perhitungan biomassa dan stok karbon yang tersimpan pada vegetasi mangrove diKecamatan Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, dapat nilai rata-rata sebesar 452,42 ton/ha dengankandungan karbon atau jumlah karbon tersimpan sebesar 212,64 ton C/ha atau setara 780,38 tonCO2/ha.Kata Kunci: Vegetasi Mangrove, Karbon, Minahasa Utara
KEANEKARAGAMAN JENIS, KEPADATAN, DOMINANSI, DAN POLA PENYEBARAN ALGA MERAH DI PERAIRAN KALASEY MINAHASA SULAWESI UTARA Try Falen D. Gampu; Deislie R. H. Kumampung; Veibe Warouw; Grevo S. Gerung; Chatrien A. L. Sinjal; Febry I. S. Menajang
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.1.2023.53336

Abstract

The purpose of this study was to determine the species of red algae in Kalasey waters and also to determine their diversity, density, dominance, and distribution patterns. The research was conducted in November in the Kalasey Minahasa waters of North Sulawesi.This study used the quadrant transect method, in taking the sample the transect was drawn along 100m from the coastline towards the sea 3 times then the quadrants were placed on the side of the transect, each quadrant 10m apart was placed 10 times. From the use of this method, 5 species of red algae were obtained. Based on the results of data analysis, it showed that the diversity index was moderate with a value of 1.57 for the entire transect. The density index obtained from the results of data analysis with an overall transect value of 10.43. The distribution pattern index has a random distribution pattern with an overall transect value of 0.01. The overall dominance index of the transect is 1.21. The dominating species with the highest number of individuals was found in Gracilaria arcuata and the lowest number of individuals was found in Galaxaura fastigiata. The Kalasey waters area has a temperature of 33°C, a salinity of 30%o, and the degree of pH similarity obtained is 7. Based on the results of these parameters, the Kalasey waters are classified as good for the life of various types of algae.Keywords: Types of Red Algae, Kalasey WatersABSTRAKTujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui spesies alga merah yang ada di perairan Kalasey dan juga untuk mengetahui Keanekaragaman, Kepadatan, Dominansi, dan Pola Penyebarannya. Penelitian dilaksanakan pada bulan November di Perairan Kalasey Minahasa Sulawesi Utara. Penelitian ini menggunakan metode transek kuadran, pada pengambilan sampel transek ditarik sepanjang 100m dari garis pantai mengarah ke laut sebanyak 3 kali lalu kuadran diletakkan disisi Transek, setiap kuadran berjarak 10m diletakkan sebanyak 10 kali. Dari penggunaan metode tersebut diperoleh 5 spesies alga merah berdasarkan hasil dari analisis data menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman sedang dengan nilai dari keseluruhan transek sebesar 1,57. Indeks kepadatan yang diperoleh dari hasil analisis data dengan nilai keseluruhan transek sebesar 10,43. Indeks pola penyebaran terdapat pola penyebaran acak dengan nilai keseluruhan transek sebesar 0,01. Indeks dominansi keseluruhan transek sebesar 1,21. Spesies yang mendominansi dengan jumlah individu tertinggi terdapat pada Gracilaria arcuata dan jumlah individu terendah terdapat pada Galaxaura fastigiata. Wilayah perairan Kalasey memiliki suhu 33°C, salinitas 30%o, dan derajat kesamaan pH yang diperoleh yaitu 7. Berdasarkan hasil parameter tersebut perairan Kalasey tergolong baik untuk kehidupan berbagai jenis alga.Kata kunci : Jenis Alga Merah, Perairan Kalasey
STUDI MORFOMETRIK Thalassia hemprichii DAN Enhalus acoroides PERAIRAN SEKITAR DI DESA WORI KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA Christofel B. S. Harum; Calvyn F.A. Sondak; Erly Y. Kaligis; Sandra O. Tilaar; Grevo S. Gerung; Unstain N.W.J. Rembet
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.1.2023.53337

Abstract

Seagrass has roots, rhizomes, stems, and leaves like land plants (grasses) in general. Seagrass ecosystems are complex ecosystems and have important functions and benefits for coastal waters. Study aimed to describe the morphological characteristics of seagrass Thalassia hemprichiiand Enhalus acoroides and to compare the size of seagrass Thalassia hemprichii and Enhalus acoroides that lived in muddy-sand and sand-rubble substrates. Sampling was carried out using the cruising survey method and morphometric measurements using a digital caliper. The average length of the leaves in the muddy sand substrate was 9.1 cm and 9.3 cm in the crushed coral sand substrate.Independent T-test for Thalassia hemprichii and Enhalus acoroides showed no significant difference in their morphometrics, except for the length of the rhizome which showed a significant difference.Keywords: Seagrass, morphometric, Village WoriABSTRAKLamun memiliki akar, rhizoma, batang, dan daun seperti tumbuhan (rerumputan) darat pada umumnya. Ekosistem padang lamun adalah ekosistem yang kompleks dan mempunyai fungsi serta manfaat penting untuk wilayah perairan pesisir. Rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimana deskripsi karakteristik morfologi lamun Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides dan bagaimana membandingkan rata – rata ukuran lamun Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan karakteristik morfologi lamun Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides dan mengetahui membandingkan rata -rata ukuran lamun Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode survey jelajah dan pengukuran morfometrik menggunakan caliper. Hasil rata – rata ukuran panjang daun di substrat pasir berlumpur 9,1 cm dan di substrat pasir pecahan karang 9,3 cm. Uji T independen Thalassia hemprichii tidak menunjukkan ada perbedaan nyata dan Enhalus acoroides tidak menunjukkan ada perbedaan nyata, kecuali terhadap panjang rhizoma yang menunjukkan perbedaan nyata.Kata Kunci: Lamun, Morfometrik, Desa Wori
PENGARUH TIMBAL ASETAT (Pb (CH3COO)2) TERHADAP PERTUMBUHAN MIKROALGA LAUT Nannochloropsis oculata Joshua W.T. Mailoor; Kurniati Kemer; Antonius P. Rumengan; Grevo S. Gerung; Erly Y. Kaligis; Veibe Warouw
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 2 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.2.2023.53340

Abstract

Microalgae are simple unicellular or multicellular microorganisms that are able to bind CO2 andcan absorb solar energy for the process of photosynthesis so that microalgae can convert inorganiccompounds into organic compounds. The organic compounds contained in microalgae arecarbohydrates, proteins, nucleic acids, and fats. The purpose of this study was to determine the growthand density of the microalgae Nannochloropsis oculata from the start of the culture to the exponentialphase and then proceed with the administration of lead acetate with 3 different concentrations. Thedensity of microalgae cells from the beginning of the culture to the exponential phase was on the 11day of observation. In the exponential phase, microalgae gave lead acetate treatment to 3 containerswith concentrations of 30 ppm, 50 ppm, 80 ppm and 1 control container without treatment. The growthof Nannochloropsis oculata cell density with lead acetate administration experienced a decrease ingrowth when compared to the control container (without lead acetate treatment).Keywords: Microalgae, Nannochloropsis oculata, Lead Acetate ABSTRAKMikroalga merupakan mikroorganisme uniseluler atau multiseluler sederhana yang mampumengikat CO2 dan dapat menyerap energi matahari untuk proses fotosintesis sehingga mikroalga dapatmengubah senyawa anorganik menjadi senyawa organik. Senyawa organik yang terkandung dalammikroalga yaitu karbohidrat, protein, asam nukleat, dan lemak. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui pertumbuhan dan kepadatan mikroalga Nannochloropsis oculata dari awal kultur sampaipada fase eksponensial kemudian dilanjutkan dengan perlakuan pemberian timbal asetat dengan 3konsentrasi yang berbeda. Kepadatan sel mikroalga dari awal kultur sampai pada fase eksponensialyaitu pada hari ke-11 pengamatan. Pada fase eksponensial, mikroalga diberikan perlakuan timbalasetat ke dalam 3 wadah dengan konsentrasi 30 ppm, 50 ppm, 80 ppm serta 1 wadah kontrol tanpaperlakuan. Pertumbuhan kepadatan sel Nannochloropsis oculata dengan pemberian timbal asetatmengalami penurunan pertumbuhan jika dibandingkan dengan wadah kontrol (tanpa perlakuan timbalasetat). Kata kunci : Mikroalga, Nannochloropsis oculata, Timbal Asetat
STATUS KESEHATAN PADANG LAMUN DI PERAIRAN DESA TANAKI KECAMATAN SIAU BARAT SELATAN KABUPATEN SITARO David B. Tamarariha; Calvyn F. A. Sondak; Veibe Warouw; Grevo S. Gerung; Billy Th Wagey; Anneke V. Lohoo
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.1.2022.54998

Abstract

Siau Island is a part of Sitaro Archipelago located in northern part of Sulawesi Island. This island is rich of marine biodiversity include mangrove, coral reef and seagrass bed. The purposes of this study were to identify seagrass species, cover area and its health status. This research was conducted from September to October 2021, in Tanaki Village waters, Siau Island. The research method that used in this study is the quadrant transect method which includes the calculation of seagrass cover within station and seagrass species percent cover that used to determining the health status and condition of seagrass beds. Seven seagrass species were found in Tanaki water namely Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium, Halodule pinifolia, Halophila ovalis and Thalassodendron ciliatum. The health status of the seagrass beds in the study area was categorized "unhealthy" (42.24%) and the criteria for the seagrass cover was "moderate" (30-49.9%). The dominance of seagrass species in Tanaki Village water were T. hemprichii (19,89%) followed by C. rotundata (12.88%) respectively. Key Word: Seagrass Bed, Identification, Health, Species, Cover. ABSTRAK Kepulauan Siau, Kabupaten SITARO merupakan pulau kecil di sebelah utara Pulau Sulawesi yang memiliki ekosistem laut yang lengkap yaitu ekosistem mangrove, karang serta lamun. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui (1) Jenis lamun yang ditemukan; (2) Penutupan jenis lamun di lokasi penelitian; (3) Status kesehatan padang lamun di lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan pada Bulan September - Oktober 2021, di perairan Pantai Desa Tanaki. Metode penelitian yang digunakan yakni metode transek kuadran yang mencangkup perhitungan tutupan lamun disetiap stasiun dan perhitungan penutupan lamun per jenis sehingga nilai rata-rata yang didapatkan merupakan hasil akhir dalam penentuan status dan kondisi padang lamun. Jenis lamun yang ditemukan di perairan Tanaki teridentifikasi sebanyak 7 spesies yang terdiri (2 Family dan 7 Genus) yaitu Cymodocea rotundata, Thalassia hempricii, Enhalus acoroides, Siringodium isoetifolium, Halodule pinifolia, Halophila ovalis dan Thalassodendron ciliatum. Status kesehatan padang lamun yang terdapat di lokasi penelitian termasuk dalam kategori “Kurang sehat” dengan penutupan lamun 42,24% dan kriteria kategori tutupan lamun yakni “Sedang” dengan pentutupan (30-49,9%). Dan dominansi jenis lamun di perairan Desa Tanaki adalah jenis T. hemprichii dan C. rotundata dengan persentase penutupan per jenis masing-masing 19,89% dan 12,88%. Kata Kunci : Padang Lamun, Identifikasi, Kesehatan, Jenis, Tutupan.
KONDISI PADANG LAMUN DI PANTAI TASIK OKI KECAMATAN KAUDITAN KABUPATEN MINAHASA UTARA Toshiko M. Manoppo; Calvyn F.A. Sondak; Veibe Warouw; Grevo S. Gerung; , Deislie R.H. Kumampung; Remy E.P Mangindaan
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.1.2025.60574

Abstract

Lamun adalah tumbuhan berbiji satu (monokotil) yang terdiri dari rhizoma, daun, akar, dan bunga sehingga membuat lamun dikategorikan sebagai tumbuhan tingkat tinggi. Lamun (seagrass) merupakan salah satu komponen ekosistem pesisir yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologi laut, termasuk sebagai habitat bagi berbagai biota. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis-jenis lamun dan menilai kondisi ekosistem padang lamun, dengan menghitung tutupan serta melihat kualitas parameter perairan. Metode yang digunakan yaitu survei jelajah dan line transek frame kuadrat. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan, ditemukan 6 jenis lamun yaitu Halodule pinifolia, Cymodocea rotundata, Halophila ovalis, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, dan Syringodium isoetifolium. Jenis lamun yang mendominasi di Pantai Tasik Oki ini adalah C. rotundata dengan nilai rata-rata tutupan sebesar 11,23%. Berdasarkan hasil perhitungan, transek 1 diperoleh nilai tutupan 19,33%, transek 2 dengan nilai tutupan 28,13% dan transek 3 dengan nilai tutupan 23,73% yang memperoleh nilai rata-rata tutupan lamun sebesar 23,73%. Berdasarkan nilai ini maka kondisi padang lamun di lokasi penelitian dikategorikan jarang/miskin. Kata kunci: padang lamun, identifikasi, kondisi, Pantai Tasik Oki
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI GRANULOMETRI SEDIMEN PADA BEBERAPA KAWASAN WISATA PANTAI KECAMATAN LEMBEAN TIMUR KABUPATEN MINAHASA Evilin Papoiwo; Royke M. Rampengan; Agung B. Windarto; Grevo S. Gerung; Indri S. Manembu; Jane M. Mamuaja
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.1.2025.61284

Abstract

Kecamatan Lembean Timur di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara merupakan kecamatan  sedang berkembang aktivitas wisata pantainya, memanfaatkan keberadaan lahan gisik sebagai objek utamanya.  Oleh karena itu telah dilaksanakan penelitian bertujuan mendeskripsi komposisi dan menganalisis distribusi granulometri sedimen yang menghampari permukaan gisik beberapa kawasan wisata pantai di Kecamatan Lembean Timur. Pengambilan sampel sedimen dilaksanakan tanggal 6 Juni 2024 di gisik kawasan wisata Kamenti Beach, Kora-Kora Beach, dan BW Beach.  Pengambilan sedimen dilakukan pada permukaan lahan gisik dengan ketebalan 1 cm.  Hasil penelitian menunjukkan komposisi sedimen permukaan lahan gisik terdiri dari sedimen berukuran debu sampai dengan kerakal.  Sedimen pada permukaan gisik lebih dari 90 % berupa pasir dari berbagai ukuran (pasir sangat halus sampai pasir sangat kasar) di mana kondisi ini sangat menunjang berkaitan dengan penggunaan lahan untuk wisata pantai. Peubah rataan empirik  menunjukkan kecenderungan peningkatan ukuran butir sedimen untuk kawasan pantai yang berada di bagian Selatan kecamatan ini.  Kriteria penyortiran umumnya tersortir sedang, kemencengan umumnya berada pada kriteria simetris granulometri sampai asimetris kuat ke ukuran kecil. Peruncingan berada pada kriteria leptokurtik sampai platikurtik di mana pada lahan gisik di kawasan wisata yang terletak semakin ke arah Selatan terjadi peningkatan proporsi kriteria platikurtik. Kata kunci: sedimen gisik, komposisi sedimen, distribusi granulometri, Lembean Timur
Ethanol Extraction from Fresh Algae (Gracilaria sp) Using Various Concentrations of Hydrochloric Acid Solution in The Hydrolysis Process Putri E. Malinti; Grevo S. Gerung; Natalia D.C. Rumampuk; Markus T. Lasut; Nickson J. Kawung; Esther D. Angkouw
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64852

Abstract

Bioethanol is ethanol obtained through the fermentation of biomass rich in starch or cellulose from plant materials. Gracilaria sp. algae is one potential biomass source because it contains 54.4% galactan and 19.7% cellulose. This content makes it a promising alternative raw material for bioethanol production. Until now, there has been no scientific report related to ethanol extraction from Gracilaria sp. originating from the waters of Gunung Kidul, Yogyakarta. This study aims to: (1) determine the presence of ethanol in Gracilaria sp.; (2) measure the volume of ethanol from distillation; and (3) test ethanol qualitatively using potassium dichromate and sulfuric acid reagents. The research procedures include sample preparation, hydrolysis with HCl of various concentrations (0.5–2 M), fermentation using Fermipan yeast, urea, EM4, and NaOH (pH 4), and fermentation for 5 days. Distillation was carried out at a temperature of 78–80°C and the results were tested qualitatively by a color change from orange to blue as an indicator of ethanol. The results showed that Gracilaria sp. can produce ethanol, and the qualitative test method used has proven effective, simple, and economical. Further research is recommended to improve the purity and efficiency of bioethanol production from Gracilaria sp. Keywords: algae, bioethanol, Gracilaria sp., ethanol, qualitative ethanol analysis.   Abstrak Bioetanol adalah etanol yang diperoleh melalui fermentasi biomassa yang kaya akan pati atau selulosa dari bahan nabati. Alga Gracilaria sp. merupakan salah satu sumber biomassa potensial karena mengandung 54,4% galaktan dan 19,7% selulosa. Kandungan ini menjadikannya bahan baku alternatif yang menjanjikan untuk produksi bioetanol. Hingga kini, belum ada laporan ilmiah terkait ekstraksi etanol dari Gracilaria sp. yang berasal dari perairan Gunung Kidul, Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan etanol dalam Gracilaria sp. mengukur volume etanol hasil distilasi,dan menguji etanol secara kualitatif menggunakan pereaksi kalium dikromat dan asam sulfat. Prosedur penelitian meliputi persiapan sampel, hidrolisis dengan HCl berbagai konsentrasi (0,5–2 M), fermentasi menggunakan ragi Fermipan, urea, EM4, dan NaOH (pH 4), serta fermentasi selama 5 hari. Distilasi dilakukan pada suhu 78–80°C dan hasilnya diuji kualitatif dengan perubahan warna dari oranye ke biru sebagai indikator etanol. Hasil menunjukkan bahwa Gracilaria sp. dapat menghasilkan etanol dan metode uji kualitatif yang digunakan terbukti efektif, sederhana, dan ekonomis. Penelitian lanjutan disarankan untuk meningkatkan kemurnian dan efisiensi produksi bioetanol dari Gracilaria sp Kata kunci: alga, bioetanol, Gracilaria sp, Etanol, analisis kualitatif etanol