Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TRANSFORMASI SEKULARISASI DALAM ISLAM; PERSPEKTIF CENDEKIAWAN MUSLIM Haikal Al Fiqri
AT-THARIQ: Jurnal Studi Islam dan Budaya Vol 4, No 02 (2024): AT-THARIQ: JURNAL STUDI ISLAM DAN BUDAYA
Publisher : STAI Sufyan Tsauri Majenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57210/trq.v4i02.319

Abstract

Munculnya sekularisasi dan sekularisme dari Barat menjadi salah satu wawasan pengetahuan baru terlebih dalam Islam. Beberapa menganggap bahwa sekularisasi dan sekularisme dalam Islam tidaklah bertentangan (konstruktif). Akan tetapi ada juga yang menganggap bahwasanya sekularisasi dan sekularisme bertentangan dengan Islam sebab penolakan terhadap paham spiritual dan agama (non-religion dan non-spiritualism), terlebih worldy yang merujuk pada sidat keduniawian. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan penelitian kualitatif (library research) dengan metode deskriptif-analisis yakni mensistematikan data atau beberapa keterangan yang ada untuk kemudian dianalisis oleh penulis. Akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa sudut pandang para Cendekiawan Muslim dalam paham sekularisme setidaknya menyatakan tidak bertentangan (konstruktif) dengan syarat tertentu. Salah satunya Nurcholis Madjid yang mana beliau mengganti nama sekularisme dan sekularisasi dengan desakralisasi dan demitologisasi. Sehingga maknanya lebih kepada pembebasan bukan pemisahan antara agama dengan duniawi (negara, ilmu umum, dsb).  Ilmu dan pengetahuan boleh bersifat liberal, artinya tidak terbatas termasuk tidak terikat harus berdasarkan agama. Akan tetapi, ketika itu sudah menjadi suatu perwujudan atau amalan, maka syariat atau ketentuan yang sudah ditetapkan agama tidak boleh dilanggar.
Revitalisasi Tradisi Dekah Desa sebagai Media Syiar Islam dan Pelestarian Budaya Lokal di Era Digital Haikal Al Fiqri; Ahmad Naufal Mumtaz; Ulfa Dwi Lestari
Tapis: Jurnal Penelitian Ilmiah Vol 10 No 1 (2026): Tapis : Jurnal Penelitian Ilmiah
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat of Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/tapis.v10i1.10964

Abstract

This study examines the preservation and revitalization of the dekah desa tradition in Dusun Pabregan, Andong District, Boyolali Regency, as a manifestation of cultural values and Islamic da'wah. Previous studies on local traditions have predominantly focused on cultural preservation and religious values separately, while limited attention has been given to understanding how local traditions function simultaneously as a medium of Islamic da'wah and adapt to contemporary social developments. Therefore, this study aims to explore the relationship between local cultural practices and Islamic teachings within the dekah desa tradition, particularly in the context of maintaining its relevance in the modern era.This research employs a qualitative approach through field research methods by collecting data directly from the research site. The study adopts the perspective of living Qur'an and utilizes George H. Mead's symbolic interactionism theory to analyze the social processes underlying the formation and continuity of the tradition. The findings indicate that dekah desa represents a synthesis between local culture and Islamic values, reflected in ritual practices such as the gunungan procession, goat slaughtering, slametan, and art performances integrated with Islamic messages. Beyond functioning as an expression of gratitude for agricultural blessings, the tradition also serves as a contextual medium of da'wah through religious activities and culturally based performances. Furthermore, the study finds that the continuity of this tradition requires active participation from the community, particularly the millennial generation, through digital innovation and social media utilization to strengthen cultural awareness and ensure the sustainability of dekah desa in the contemporary era. Thus, dekah desa continues to exist as a representation of harmony between local cultural identity and Islamic teachings.