Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Maggot BSF: Peningkatan Kapasitas Produksi Pakan (Pelet) Alternatif Berbasis Lingkungan di Desa Kajao Laliddong, Kabupaten Bone Feby Triadi; Syarifa Aeni; M Awaluddin A; Afifah Afifah; A. Putri Reski Amalia; Radia Radia; Muhammad Asdar
Wahana Dedikasi: Jurnal PkM Ilmu Kependidikan Vol. 6 No. 2 (2023): Wahana Dedikasi : Jurnal PkM Ilmu Kependidikan
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/dedikasi.v6i2.13237

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi pakan ternak di Kelompok Ternak Batara Deceng, Desa Kajaolallidong, Kabupaten Bone. Fokus permasalahan yang diidentifikasi adalah kurangnya pemahaman mengenai pengelolaan lingkungan peternakan, meningkatnya harga pakan pabrikan, dan integrasi peternakan ayam dengan Maggot BSF. Metode yang digunakan meliputi pelatihan, pendampingan, dan monitoring. Hasil yang diharapkan adalah peningkatan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam mengelola peternakan terintegrasi, pembuatan pakan alternatif berbahan dasar Maggot BSF, dan integrasi peternakan ayam dengan Maggot BSF. Luaran yang dihasilkan meliputi peningkatan pemberdayaan masyarakat, publikasi di jurnal dan media cetak, serta video pelaksanaan program. Kesimpulannya, program ini berhasil meningkatkan kapasitas produksi pakan ternak dan memperkuat integrasi antara peternakan ayam dan Maggot BSF
Edukasi dan Pelatihan Mitigasi Bencana Untuk Masyarakat Daerah Rawan Banjir M. Awaluddin; Hezron Alhim Dos Santos; Sugirah Rahman; Maria Herlinda Dos Santos; Muhammad Asdar
Jurnal Lamellong: Pengabdian Kepada Masyarakat (JLPM) Volume 1, Nomor 1, April 2024
Publisher : ASHA Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70188/s4h7ps04

Abstract

Banjir merupakan bencana alam yang sering terjadi di Indonesia dan memiliki dampak sosial-ekonomi signifikan, terutama di daerah rawan. Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone, adalah salah satu wilayah yang sangat rentan terhadap banjir akibat topografi yang dekat dengan sungai serta laut dan sistem drainase yang tidak memadai. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mengurangi risiko bencana banjir melalui program mitigasi bencana yang terintegrasi. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah dengan Penyuluhan dan sosialisasi melalui Forum Group Discussion (FGD) dan penyebaran peta risiko banjir telah meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai tanda-tanda awal banjir dan langkah-langkah preventif. Pelatihan kesiapsiagaan, termasuk evakuasi dan simulasi bencana, berhasil meningkatkan kemampuan masyarakat dalam merespons situasi darurat. Pembentukan kelompok siaga bencana telah memperkuat kapasitas komunitas dalam penanganan bencana. Kolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan lembaga pendidikan telah memperkuat efektivitas program mitigasi. Kampanye kesadaran publik melalui media sosial dan program sekolah berhasil menyebarluaskan informasi penting dan meningkatkan kesadaran di kalangan masyarakat. Hasil dari program ini menunjukkan peningkatan kesiapsiagaan, penguatan kapasitas komunitas, dan kesadaran yang lebih baik tentang risiko banjir. Program mitigasi ini berhasil memperkuat ketahanan masyarakat Cenrana terhadap bencana banjir dan mengurangi dampak potensialnya. Keberhasilan ini menegaskan pentingnya koordinasi yang baik dan komitmen bersama dalam upaya mitigasi bencana.   
Public Service Bureaucracy and the Tradition of Nobility: Cultural Resistance to the New Public Service Ethos Muhammad Asdar; Andi Asdar; Mashuri Mashuri; Andi Muhammad Yunus; Jumiati Jumiati
Public Resource Innovation Management and Excellence June 2025, Volume 2 Number 2
Publisher : Public Resource Innovation Management and Excellence

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study analyzes the influence of aristocratic traditions on leadership and public service bureaucratic practices in Bone Regency, South Sulawesi, and examines the forms of cultural resistance that hinder the implementation of the New Public Service (NPS) ethos. Using a qualitative ethnographic approach, data were collected through participant observation, in-depth interviews, and document analysis, then analyzed thematically using a Weberian theoretical framework and the NPS paradigm. The results show that aristocratic traditions are not merely a cultural identity but also a source of political and administrative legitimacy that shapes paternalistic leadership styles and reinforces patron-client patterns within the bureaucracy. In public service practices, formal procedures such as SOPs and digital systems often experience decoupling from informal mechanisms that still emphasize personal closeness and status symbols. This cultural resistance creates a paradox: the bureaucracy appears institutionally modern, but its practices remain patrimonial. This study emphasizes that bureaucratic reform in regions with a noble heritage must consider the local cultural context, by reinterpreting aristocratic values as social capital to support participatory, inclusive, and egalitarian public services. These findings provide theoretical contributions to contextual public administration studies as well as practical implications for bureaucratic reform strategies in similar areas.
Ecological Values in Tradition Kajang Community Weaving: Implications for Preservation Culture and Environment Feby Triadi; Muhammad Asdar; Nur Faidzaturrahmah; Sarmianti Ansar; M. Awaluddin
KASTA : Jurnal Ilmu Sosial, Agama, Budaya dan Terapan Vol. 5 No. 3 (2025): Desember
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/kasta.v5i3.3487

Abstract

Study This aim for study mark ecological in tradition weaving the Kajang community and the implications to preservation culture and environment. Focus study directed at tradition Tope Le'leng or sarong black as material culture that is not only functioning as product textiles traditional, but also as symbol identity, simplicity, compliance customs and relations harmonious man with nature. Research This use approach qualitative with method ethnography ecological. Data collected through observation participatory, interview in-depth, documentation, and search source relevant written research results. show that mark ecological in tradition Kajang weaving seen in use material natural, especially leaf tarum as dyes, utilization tool weaving traditional made from wood and bamboo, as well as the ongoing production process slow and limited. Tope Le'leng also have meaning symbolic in life social, customs and rituals of the Kajang people, especially as marker simplicity, equality and obedience to Pasang ri Kajang. In addition, the tradition weaving play a role in preservation culture through inheritance knowledge local, especially by women weavers, at the same time show a sustainability model-based wisdom custom. Research This confirm that Tope Le'leng is knot important between material culture, ethics ecology, spirituality and identity Kajang community. Preservation tradition Kajang weaving with thus need placed as part from effort guard culture at a time nurse environment.