Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENDIDIKAN SEKSUALITAS:PACARAN SEHAT PADA REMAJA DI LEMBAGA KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK (LKSA) WIDHYA ASIH BALI BARAT Krishervina Rani Lidiawati; Meira Emily Wijaya; Leticia Justine; Dylan Kerry Ciaputra; Teguh Lesmana; Erni Julianti Simanjuntak
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 8 (2025): Penguatan Ekonomi Masyarakat Berbasis Ekologis untuk Mencapai Keberlanjutan Menuju Ind
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v8i0.2646

Abstract

Masa remaja merupakan fase perkembangan yang mengalami berbagai perubahan baik fisik, kognitif dan sosial-emosional. Salah satu aspek penting yang sering menjadi perhatian adalah pola pacaran remaja. Kurangnya pemahaman mengenai pendidikan seksualitas dapat menimbulkan perilaku pacaran yang berisiko, seperti kekerasan dalam hubungan, perilaku seksual pranikah, hingga rendahnya kesadaran menjaga kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, pendidikan seksualitas dengan fokus pada pacaran sehat menjadi sangat penting, khususnya bagi remaja yang berada di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) di Bali Barat. PKM kali ini dilakukan di LKSA Widya Asih Melaya yang cenderung rentan mengalami keterbatasan informasi dan membutuhkan bimbingan terkait seksualitas. PKM ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kesadaran remaja mengenai konsep pacaran sehat melalui pendekatan edukatif dan partisipatif. Metode yang digunakan adalah penyuluhan interaktif, diskusi kelompok, serta pemberian poster psikoedukasi baik secara daring dan luring. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman remaja terkait ciri-ciri pacaran sehat, keterampilan berkomunikasi asertif, serta kemampuan mengenali dan menghindari bentuk pacaran yang tidak sehat. Selain itu, remaja juga menunjukkan antusiasme dan keterlibatan aktif dalam setiap sesi. Dengan demikian, pendidikan seksualitas berbasis pacaran sehat terbukti relevan dan bermanfaat untuk membekali remaja di LKSA dalam membangun relasi yang sehat, bertanggung jawab, dan sesuai dengan norma sosial serta nilai-nilai moral yang berlaku.
SINERGI KONSELING BERBASIS RELASI DAN PENDIDIKAN TRANSFORMATIF: PARADIGMA SPIRITUALITAS RELASIONAL MENUJU HUMAN FLOURISHING DI PERGURUAN TINGGI KRISTEN : [SYNERGY OF RELATIONSHIP-BASED COUNSELLING AND TRANSFORMATIVE EDUCATION: A PARADIGM OF RELATIONAL SPIRITUALITY TOWARDS HUMAN FLOURISHING IN CHRISTIAN HIGHER EDUCATION] Teguh Lesmana; Christina Lumbantoruan
Polyglot Vol 22 No 2 (2026): Polyglot: Jurnal Ilmiah
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v22i2.11617

Abstract

Pervasive change presents significant challenges for Christian Higher Education Institutions (CHUs), particularly regarding the escalating mental health crisis and the stagnation of students' spiritual formation. Facing this disruption, CHUs are called to focus not only on academic achievement but also on holistic well-being (human flourishing). This literature study aims to formulate a synergistic model integrating relationship-based counseling and transformative education through the lens of the relational spirituality paradigm. The method used is a narrative literature review, synthesizing contemporary research in integrative psychology, relational spirituality, and Christian education. The findings indicate that students' mental health is closely related to their patterns of attachment patterns, both horizontally and vertically. Relationship-based counseling provides a psychologically safe space that enables students to process emotional distress, restore psychological flexibility, and build readiness for transformative learning. When mental burdens and relational wounds are addressed, students become more open to the transformative educational process. This synergy demonstrates that character formation and holistic spiritual development in CHUs can be optimally fostered when mental health services are organically integrated into the educational ecosystem. This article offers practical recommendations for Christian educators to strengthen their role as agents of relational healing in promoting resilient spiritual maturity among students amid pervasive change. Abstrak Bahasa Indonesia Perubahan yang bersifat pervasif menghadirkan tantangan yang signifikan bagi Perguruan Tinggi Kristen (PTK), khususnya terkait meningkatnya krisis kesehatan mental dan stagnasi pembentukan spiritual mahasiswa. Dalam menghadapi disrupsi ini, PTK dipanggil untuk tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada kesejahteraan holistik (human flourishing). Studi literatur ini bertujuan untuk merumuskan suatu model sinergis yang mengintegrasikan konseling berbasis relasi dan pendidikan transformatif melalui perspektif paradigma spiritualitas relasional. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur naratif dengan mensintesis penelitian-penelitian kontemporer di bidang psikologi integratif, spiritualitas relasional, dan pendidikan Kristen. Hasil kajian menunjukkan bahwa kesehatan mental mahasiswa berkaitan erat dengan pola kelekatan (attachment), baik secara horizontal maupun vertikal. Konseling berbasis relasi menyediakan ruang yang aman secara psikologis sehingga memungkinkan mahasiswa memproses tekanan emosional, memulihkan fleksibilitas psikologis, serta membangun kesiapan untuk menjalani pembelajaran transformatif. Ketika beban mental dan luka relasional ditangani, mahasiswa menjadi lebih terbuka terhadap proses pendidikan yang bersifat transformatif. Sinergi ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter dan pengembangan spiritual yang holistik di PTK dapat dioptimalkan ketika layanan kesehatan mental diintegrasikan secara organik ke dalam ekosistem pendidikan. Artikel ini menawarkan rekomendasi praktis bagi para pendidik Kristen untuk memperkuat peran mereka sebagai agen pemulihan relasional dalam mendorong kedewasaan spiritual yang tangguh di kalangan mahasiswa di tengah perubahan yang bersifat pervasif.