Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Faktor Lingkungan Keluarga, Karakteristik Orang Tua dan Dukungan Sosial Masyarakat Terhadap Stunting Pada Anak Balita Ridwan Fadjri Nur; Iwan Kurniawan; Aziz Hakim
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 6 No. 02 (2024): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v6i02.139

Abstract

Stunting masih menjadi masalah utama bagi Indonesia, masalah stunting merupakan masalah kompleks, anak stunting dapat di sebabkan oleh beberapa faktor salah satu nya di sebabkan karena kekurangan gizi kronis dalam waktu yang lama, lingkungan keluarga, sanitasi, dan pendapatan ekonomi keluarga Desa Citimbang Kecamatan Salem Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah melalui deskriptif kuantitatif dengan analisis univariat yang bersumber dari Pendataan Keluarga Tahun 2023 oleh BKKBN Pusat. Hasil analisis data menunjukkan adanya hubungan signifikan antara faktor lingkungan keluarga seperti akses air bersih dan jamban yang layak, pendapatan keluarga atau tingkat kesejahteraan keluarga, dan akses terhadap layanan kesehatan dengan kejadian stunting pada anak. Selain itu, karakteristik orang tua seperti pendidikan orang tua, dan status pekerjaan juga berpengaruh signifikan terhadap kejadian stunting. Dukungan sosial dari masyarakat juga terbukti menjadi faktor penting dalam mencegah stunting, dengan adanya keterlibatan aktif dalam program kesehatan masyarakat dan akses terhadap sumber daya yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Temuan ini menyoroti pentingnya intervensi yang menyeluruh melalui program kesehatan masyarakat yang melibatkan keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Upaya pencegahan stunting harus menargetkan pemenuhan kebutuhan dasar keluarga, peningkatan pengetahuan orang tua tentang gizi dan pola asuh yang sehat, serta memperkuat dukungan sosial dari lingkungan sekitar untuk menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan optimal anak balita.
Peran Pusat Polisi Militer TNI Dalam Menangani Pelanggaran Hukum di Lingkungan TNI Arif Ramdani; Budi Supriyatno; Ade Reza Hariyadi; Veithzal Rivai Zainal; Aziz Hakim
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8673

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis: a) peran Pusat Polisi Militer TNI dalam menangani pelanggaran hukum di lingkungan TNI serta tingkat efektivitasnya; b) kendala utama yang dihadapi Pusat Polisi Militer TNI dalam penegakan hukum militer; dan c) strategi optimalisasi peran Pusat Polisi Militer TNI dalam penegakan hukum militer. Metode penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara dengan 10 orang key informan yang terdiri dari informan internal (Satuan Penegakkan Hukum, Satuan Tindak Pidana Militer dan Umum, Satuan Tindak Pidana Khusus) dan informan eksternal (akademisi, praktisi hukum, tokoh masyarakat, dan aktivis HAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: a) Peran Pusat Polisi Militer TNI dalam menangani pelanggaran hukum di lingkungan TNI dilaksanakan melalui tiga fungsi utama yaitu fungsi preventif, preemptif, dan represif. Fungsi preventif dilaksanakan melalui penyuluhan hukum, pemantauan disiplin satuan, dan sistem peringatan dini namun belum optimal karena keterbatasan SDM dan jangkauan geografis. Fungsi preemptif dilakukan melalui pemeriksaan urine acak, konseling, dan program mentor-mentee namun masih lemah karena keterbatasan kapasitas intelijen. Fungsi represif telah berjalan sesuai prosedur dengan tingkat penyelesaian perkara mencapai 88% (15 dari 17 perkara), namun masih terhambat oleh keterlambatan pelimpahan perkara, lamanya pengusulan Penasehat Hukum, ketergantungan pada pihak eksternal untuk forensik, dan perbedaan persepsi antara penyidik dan oditur. b) Kendala utama yang dihadapi meliputi tiga kategori: keterbatasan sumber daya manusia (kekurangan 5 personel penyidik atau 42% dari DSPP), keterbatasan sarana dan prasarana (ketiadaan laboratorium forensik internal dan ruang tahanan sendiri), serta tantangan struktur organisasi dan koordinasi kelembagaan (tidak adanya jalur komando vertikal dengan Polisi Militer Angkatan). c) Strategi optimalisasi peran Puspom TNI harus dilaksanakan melalui tiga pilar utama yaitu penguatan sumber daya manusia, modernisasi sarana dan prasarana, serta reformasi struktur organisasi dan koordinasi kelembagaan yang diimplementasikan secara bertahap.