Ibn Kaṡīr (d. 774 H) is recognized as a leading exegete through his monumental work Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. A defining characteristic of his tafsīr is his cautious engagement with isrā’īliyyāt accounts. This study critically examines his treatment of such narrations using a descriptive and systematic approach. Three typologies of response emerge: acceptance, suspension (tawaquf), and rejection. Employing qualitative methodology, this research is conducted as library-based inquiry. The findings highlight Ibn Kaṡīr’s critical stance in his commentary on QS. Ṣāḍ/38: 34, where he challenges certain reports. He also explicitly rejects accounts in the interpretation of QS. al-Baqarah/2: 67 concerning Moses and the Children of Israel. Conversely, some narrations remain unassessed, as seen in his exegesis of QS. An-Nisā’/4: 1. The study concludes that the presence of isrā’īliyyāt in Qur’anic exegesis reflects cultural interaction between Arabs and Jews. Ibn Kaṡīr’s response demonstrates methodological rigor: while he occasionally incorporates isrā’īliyyāt narrations, he consistently critiques and rejects those deemed incompatible with Islamic principles. His approach underscores a balance between transmission and critical evaluation, positioning his tafsīr as both cautious and discerning in addressing external narrative traditions.Abstrak Ibn Kaṡīr (w. 774 H) merupakan seorang mufassir besar yang dikenal melalui karya tafsir monumentalnya, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Salah satu ciri khas tafsirnya adalah sikap selektif dan penuh kehati-hatian terhadap kisah-kisah isrā’īliyyāt. Penelitian ini menghadirkan kebaruan dengan menelaah secara deskriptif dan kritis bagaimana Ibn Kaṡīr menanggapi riwayat isrā’īliyyāt melalui pendekatan sistematis dan objektif. Dalam tafsirnya, ditemukan tiga tipologi sikap yang ia gunakan, yaitu penerimaan, tawaqquf, dan penolakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian pustaka (library research). Hasil utama menunjukkan bahwa Ibn Kaṡīr memberikan kritik dan komentar terhadap kisah tafsir QS. Ṣāḍ/38: 34. Ia juga menolak serta tidak membenarkan kisah tertentu, seperti pada interpretasi surah QS. al-Baqarah/2: 67 mengenai Nabi Mūsā dan Bānī Isrā’īl. Namun, terdapat pula kisah yang luput dari penilaiannya, misalnya ketika menafsirkan QS. An-Nisā’/4: 1. Berdasarkan temuan, dapat disimpulkan bahwa masuknya riwayat isrā’īliyyāt dalam tafsir Al-Qur’an berawal dari interaksi budaya antara bangsa Arab dan kaum Yahudi. Respons Ibn Kaṡīr terhadap riwayat isrā’īliyyāt menunjukkan sikap kritis dan berhati-hati. Walaupun ia menyertakan sebagian riwayat isrā’īliyyāt, ia tetap menolak dan mengkritik riwayat yang tidak sesuai dengan prinsip ajaran Islam. Pendekatan ini menegaskan keseimbangan antara transmisi dan evaluasi kritis dalam tafsirnya.