Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Journal Physical Therapy UNISA

Hubungan indeks massa tubuh (IMT) terhadap kelincahan pada pemain futsal Setiawan, Danur; Sani Apriliningtias, Putri Wulan; Ratna Ningrum, Tyas Sari
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 1 No. 1 (2021): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.719 KB) | DOI: 10.31101/jitu.2014

Abstract

Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan salah satu bentuk pengukuran atau metode skrining yang digunakan untuk mengukur komposisi tubuh yang di ambil dari perhitungan antara berat badan dan tinggi badan seseorang.Indeks Massa Tubuh (IMT) berat badan berperan penting terhadap kelincahan. Berat badan berlebih secara langsung akan mengurangi kelincahan karena adanya friksi jaringan lemak pada serabut otot sehingga kontraksi otot menjadi berkurang, yang berakibat menurunnya kecepatan dan kelincahan sehingga terjadi kelincahan yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh (IMT) terhadap kelincahan pada pemain futsal. Penelitian kuantitatif model observasional analitik dengan menggunakan metode pendekatan cross sectional. Responden dalam penelitian ini berjumlah 30 orang pemain futsal, Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Pengukuran nilai kelincahan menggunakan Illinois Agility Run Test, sedangkan pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise dan berat badan menggunakan GEA Medical. Hasil analisis dengan menggunakan uji univariat dengan tabel distribusi frekuensi dengan uji bivariat menggunakan uji normalitas Shapiro Wilk dan uji korelasi rank spearman didapatkan hasil nilai sig.0,000 (p<0,05) dan untuk nilai koefisien korelasi sebesar 0,081 yang berarti terdapat hubungan yang sangat kuat antara indeks massa tubuh (IMT) dengan kelincahan pada pemain futsal. Ada hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dengan kelincahan pemain futsal.
The effect of physical therapy intervention on pain and functional in pre-operative lumbar spinal stenosis (LSS) patients Yuningsih, Dwi; Setiawan, Danur
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 2 No. 1 (2022): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.766 KB) | DOI: 10.31101/jitu.2664

Abstract

Lumbar Spinal Stenosis (LSS) is the focal narrowing of the spinal canal. Nerve root canal or intervertebral foramina which many elderly suffer from, is characterized by pain, disability, risk of falling and depression. The incidence of LSS is estimated to increase along with the increase in the number of the elderly population. Patients with LSS symptoms are more effective at getting operative with the installation of a specific inplant or by decompression surgery with or without fusion than conservative intervention that continue to be performed whenever three to six months of conservative measures fail. Because the gradually slow progression of the disease naturally and the complications of the surgical procedure, it is recommended that conservative management such as physiotherapy intervention be performed before surgical intervention. The purpose of this study was to determine the effect of manual therapy and exercise on pain scores and functional abilities of patients with LSS before receiving surgery. The research method is quantitatively experimental. The research sample amounted to 30 people taken with a non-random sampling technique from a spine clinic patient at the Orthopedic Orthopedic Hospital Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta. The effect of physiotherapy intervention on pain was measured by a visual analoge scale (VAS) and functional ability was measured with the Oswestry Disability Index (ODI). results are analyzed by t-test. The results of this study showed the influence of manual therapy and exercise statistically significant on pain (p = 0.000) and functional ability (p = 0.000). In the questions of each session, there was an influence on: pain intensity, lifting activity, sitting and no effect of physiotherapy actions on self-care sessions, walking, standing, sleeping, sexual activity, social life and traveling/traveling. Manual therapy and exercises affect the reduction of pain and the improvement of the functional ability of LSS patients.
Penatalaksanaan fisioterapi pada osteoarthritis knee bilateral dengan metode hold dan contrac relax case report La Boane, La Almahdi; Setiawan, Danur; Rahim, Anita Faradila
Journal Physical Therapy UNISA Vol. 3 No. 1 (2023): April
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31101/jitu.3072

Abstract

Osteoarthritis (OA) merupakan kerusakan sendi (kartilago) secara progresif oleh faktor degeneratif, obesitas, traumatic dan arthritis itu sendiri. OA dapat terjadi pada siapa saja, dan umumnya akan dialami oleh lansia terutama wanita yang disebabkan oleh penurunan hormon estrogen sehingga menyebabkan berkurangnya asupan nutrisi dan metabolisme pada tubuh. Nyeri pada lutut biasanya akan bertambah jika terjadi pembebanan berlebihan pada sendi oleh faktor obesitas ataupun tingginya aktivitas seperti berdiri dalam jangka waktu lama, naik serta turun tangga. Secara umum penderita OA lutut dengan keluhan nyeri biasanya dialami oleh individu yang memiliki kondisi obesitas ataupun memiliki aktivitas yang tinggi bahkan pada beberapa kondisi keluhan nyeri bisa disebabkan oleh kombinasi keduanya. Secara fisiologis ketika penderita OA lutut mengalami nyeri hal tersebut akan berbanding lurus dengan penurunan mobilitas. Metode Penelitian ini merupakan case report yang dilakukan di RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta. Pada artikel ini dilakukan, pemeriksaan hingga pemilihan intervensi yang disesuaikan dengan hasil yang telah didapatkan. Bentuk pemeriksaan dan pengukuran yang dilakukan diantaranya: nyeri (Numeric Pain Rating Scale). Hasil : Setelah dilakukan intervensi fisioterapi didapatkan hasil adanya penurunan nyeri secara signifikan, disertai meningkatnya mobilitas setelah diberikan exercise hold relax dan contract relax. Kesimpulan : Pemberian intervensi hold relax dan contract relax sebanyak 2 kali seminggu dengan kontraksi otot selama 8 detik memberikan dampak yang signifikan terutama pada penurunan onset nyeri. Memanfaatkan metode hold relax dengan Golgi Tendon Organs (GTO) dan contrac relax melalui Muscle Spindle Organs (MSO) selain memberikan efek pada penurunan nyeri juga dapat menjadi garansi pemanjangan otot hingga menunjang peningkatan mobilitas.