Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Air fermentasi Cucian Beras Sebagai Atraktan ovitrap terhadap Jumlah telur Aedes sp. yang terperangkap di Kecamatan Limo Depok Winita, Rawina; Geraldi, Iskandar Purba; Subahar, Rizal
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2023): Anakes: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v9i2.1804

Abstract

Aedes aegypti (L.) merupakan vektor yang menularkan penyakit seperti demam berdarah, chikungunya, dan virus zika. Chikungunya merupakan penyakit yang menyebabkan morbiditas dan masih terjadi di kecamatan Limo, Kota Depok pada Juni 2018 lalu. Chikungunya paling baik diatasi melalui pengendalian vektornya. Salah satu upaya pengendalian Ae. aegypti adalah dengan menggunakan perangkap telur nyamuk atau ovitrap. Ovitrap merupakan perangkap telur nyamuk yang menggunakan atraktan untuk menarik nyamuk betina bertelur. Atraktan yang sudah sering digunakan adalah air rendaman jerami namun sulit ditemukan pada keadaan sehari-hari sehingga didapatkan ide untuk memanfaatkan air fermentasi cucian beras sebagai atraktan. Penelitian dilakukan dengan desain penelitian eksperimental analitik pada lingkungan. Variabel yang diamati terdiri dari konsentrasi air fermentasi cucian beras yang terdiri dari konsentrasi 10%, 30%, dan 60% dengan kontrol air PAM . Variabel lain yang diamati adalah lokasi pemasangan di luar dan di dalam rumah. Terhadap Atraktan dilakukan perhitungan parameter kimia dan fisika. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara jumlah telur pada ovitrap kontrol dengan ovitrap konsentrasi 10%, 30% dan 60%. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara konsentrasi air cucian beras terhadap efektivitas ovitrap akan tetapi, terdapat hubungan yang bermakna antara perletakkan ovitrap terhadap efektivitas ovitrap. Hasil Oviposition activity index menunjukkan konsentrasi 30% berpotensi sebagai atraktan. Suhu, kelembapan, parameter kimia, parameter fisika, dan faktor lainnya mempengaruhi hasil penelitianKata kunci: Ovitrap; Atraktan Nyamuk; Aedes aegypti; Air Fermentasi Cucian Beras
Pengaruh Air fermentasi Cucian Beras Sebagai Atraktan ovitrap terhadap Jumlah telur Aedes sp. yang terperangkap di Kecamatan Limo Depok Winita, Rawina; Geraldi, Iskandar Purba; Subahar, Rizal
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2023): Anakes: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v9i2.1804

Abstract

Aedes aegypti (L.) merupakan vektor yang menularkan penyakit seperti demam berdarah, chikungunya, dan virus zika. Chikungunya merupakan penyakit yang menyebabkan morbiditas dan masih terjadi di kecamatan Limo, Kota Depok pada Juni 2018 lalu. Chikungunya paling baik diatasi melalui pengendalian vektornya. Salah satu upaya pengendalian Ae. aegypti adalah dengan menggunakan perangkap telur nyamuk atau ovitrap. Ovitrap merupakan perangkap telur nyamuk yang menggunakan atraktan untuk menarik nyamuk betina bertelur. Atraktan yang sudah sering digunakan adalah air rendaman jerami namun sulit ditemukan pada keadaan sehari-hari sehingga didapatkan ide untuk memanfaatkan air fermentasi cucian beras sebagai atraktan. Penelitian dilakukan dengan desain penelitian eksperimental analitik pada lingkungan. Variabel yang diamati terdiri dari konsentrasi air fermentasi cucian beras yang terdiri dari konsentrasi 10%, 30%, dan 60% dengan kontrol air PAM . Variabel lain yang diamati adalah lokasi pemasangan di luar dan di dalam rumah. Terhadap Atraktan dilakukan perhitungan parameter kimia dan fisika. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara jumlah telur pada ovitrap kontrol dengan ovitrap konsentrasi 10%, 30% dan 60%. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara konsentrasi air cucian beras terhadap efektivitas ovitrap akan tetapi, terdapat hubungan yang bermakna antara perletakkan ovitrap terhadap efektivitas ovitrap. Hasil Oviposition activity index menunjukkan konsentrasi 30% berpotensi sebagai atraktan. Suhu, kelembapan, parameter kimia, parameter fisika, dan faktor lainnya mempengaruhi hasil penelitianKata kunci: Ovitrap; Atraktan Nyamuk; Aedes aegypti; Air Fermentasi Cucian Beras
Sterile Subdural Empyema Secondary to Submandibular Abscess: A Case Report Khansa, Amany; Geraldi, Iskandar Purba; Fadli, Nurul
Acta Neurologica Indonesia Vol. 3 No. 03 (2025): Acta Neurologica Indonesia
Publisher : Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69868/ani.v3i03.82

Abstract

Introduction: Subdural empyema is a rare, serious condition characterized by the accumulation of pus in the space between the dura mater and the arachnoid mater. One of the rare causes is odontogenic infection. This case report discusses a sterile subdural empyema as a complication of a submandibular abscess. Case: A 46-year-old man presented with loss of consciousness, seizure, fever, and swelling of the right lower jaw. Three months earlier, he had undergone an extraction of his lower right tooth. A CT scan of the patient's head showed a crescent-shaped hypodense lesion in the right parietotemporooccipital region and a hypodense lesion with an enhancing edge in the submandibular area. A buccal incision and drainage procedure and craniotomy were performed. Pus was found in the subdural space. Cultures were taken from blood and both drainage sites, but culture did not show any growth of microorganisms. Meropenem and metronidazole were used as antibiotics. The patient later died due to multiple organ dysfunction syndrome (MODS). Discussion: Subdural empyema is an infectious condition caused by hematogenous spread, direct spread of surrounding tissue, and venous or lymphatic spread. One rare cause is odontogenic infection. The main treatment includes surgical intervention and antibiotic therapy. Infection is generally polymicrobial. Previous antibiotic administration or inappropriate culture medium can cause negative culture. Conclusion: Subdural empyema can arise from odontogenic infection. Therefore, rapid and appropriate identification and treatment are essential to prevent intracranial complications and reduce mortality and morbidity. Keywords: subdural empyema; odontogenic infection complications; intracranial infection