Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

The Role of Branched-Chain Amino Acid (BCAA) Supplementation in Sarcopenia among the Elderly Rahaliya Salsabila Fatahuddin; Niam, Syaifun
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 8 No. 6 (2024): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v8i6.1011

Abstract

Background: Sarcopenia is a syndrome characterized by loss of skeletal muscle mass, strength, and skeletal muscle function that occurs as a result of aging. To maintain muscle mass, a dynamic balance is needed between muscle protein synthesis (MPS) and its breakdown. BCAAs, including leucine (Leu), isoleucine (Ile), and valine (Val), have been found to have important mediating effects in protein synthesis, glucose homeostasis. Methods: This literature review aims to explain further the role of BCAAs in sarcopenia. Results: Numerous studies have demonstrated the advantages of BCAAs for maintaining or improving skeletal muscle mass and performance in both healthy elderly people and those with other comorbidities. It was also shown that resistance training and vitamin D supplementation enhanced the benefits of BCAAs. Conclusion: There are still study results that contradict the role of BCAAs in sarcopenia, hence more research with homogeneity in supplementation dosage and outcome measurement methods is required in order to obtain stronger evidence to support its claims.
TROMBEKTOMI VENA PADA PASIEN DEEP VEIN THROMBOSIS : LAPORAN KASUS Siregar, Rizky Ramadhani Syafitri; Niam, Syaifun
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.33734

Abstract

Deep vein thrombosis (DVT) adalah salah satu bagian dari kelainan venous thromboembolism (VTE) dan umum terjadi dengan angka kejadian 1,6/1000 setiap tahunnya. Penyakit ini dikarakteristikan dengan pembentukan bekuan darah di vena dalam, umumya terjadi pada ekstremitas inferior namun juga dapat terjadi pada vena dalam dibagian tubuh lainnya. Segala faktor risiko yang berkaitan dengan keadaan hiperkoagulasi, rusaknya endotel, dan stasis vena dapat menyebabkan terjadinya DVT. Terdapat kriteria Wells, pemeriksaan D-dimer, dan USG vena yang dapat membantu menegakkan diagnosa DVT selain dilakukannya anamnesa dan pemeriksaan fisik terkait. Pentingnya penanganan DVT secara komprehensif dan berkelanjutan untuk mencegah DVT berulang. Dalam laporan kasus ini disajikan kasus DVT pada pasien berusia 30 tahun yang mengeluhkan nyeri pada kaki kiri sejak 4 hari terakhir disertai bengkak, kemerahan, dan demam. Pemeriksaan fisik ditemukan takikardi, ekstermitas inferior sinistra hiperemis, edema, dan terasa lebih hangat dibandingkan bagian dekstra, nyeri tekan positif, Homan sign positif, distensi vena superfisial, CRT > 2 detik, dan pulsasi nadi distal normal. Didapatkan total skor 4 dari kriteria Wells yang telah dimodifikasi. Hasil laboratorium leukositosis, trombositopenia, peningkatan D-dimer. USG Doppler didapatkan gambaran deep vein thrombus pada common femoral vein, femoral vein, popliteal vein, vena tibialis bagian proksimal-distal anterior, dan vena tibialis posterior sinistra. Ditemukan juga soft tissue swelling pada regio femur, cruris, dan pedis sinistra. Pasien ini dikonsulkan kepada Sp. BTKV dan dilakukan tindakan trombektomi vena.
Laporan Kasus Dengue Hemorrhagic Fever Asyer, Aynnie Christabel; Niam, Syaifun
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i1.55992

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tropis endemis di Indonesia yang disebabkan oleh virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Laporan ini membahas kasus seorang pasien perempuan berusia 23 tahun yang mengalami demam tinggi selama empat hari, disertai mual, muntah, dan tanda-tanda klinis lainnya. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, hasil laboratorium yang menunjukkan trombositopenia, dan konfirmasi serologis. Penanganan pasien dilakukan melalui pemberian cairan intravena, antipiretik, dan terapi pendukung sesuai protokol. Setelah lima hari perawatan, kondisi pasien menunjukkan perbaikan signifikan, dengan parameter klinis kembali normal. Laporan ini menyoroti pentingnya deteksi dini, pengelolaan cairan yang tepat, serta pemantauan intensif untuk mencegah komplikasi seperti syok dengue. Studi ini memberikan wawasan penting mengenai penatalaksanaan efektif pada kasus DBD, yang dapat membantu meningkatkan kesadaran terhadap langkah pencegahan dan pengobatan.
PELUANG DAN TANTANGAN TERAPI REGENERATIF DENGAN STEM CELL DALAM PENANGANAN DIABETES TIPE 1 Bernadette, Karen; Niam, Syaifun
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.44147

Abstract

Diabetes melitus tipe 1 (T1DM) adalah kondisi autoimun yang merusak sel beta pankreas, menyebabkan ketergantungan pada insulin eksogen. Meskipun terapi insulin mengendalikan kadar glukosa, komplikasi jangka panjang tetap menjadi masalah. Terapi regeneratif dengan stem cell berpotensi menggantikan sel beta yang rusak dan mengembalikan kemampuan tubuh untuk memproduksi insulin secara alami. Namun, tantangan besar yang dihadapi adalah proses diferensiasi stem cell menjadi sel beta pankreas yang fungsional, reaksi imun terhadap sel transplantasi, dan pemilihan sumber stem cell yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peluang dan tantangan dalam pengembangan terapi stem cell untuk T1DM, dengan fokus pada mekanisme diferensiasi, risiko, dan hambatan dalam penerapan terapi ini. Hasil kajian menunjukkan bahwa mesenchymal stem cells (MSC) dan pluripotent stem cells (PSC) memiliki potensi untuk regenerasi sel beta, meskipun tantangan seperti efisiensi diferensiasi dan integrasi sel dalam pankreas masih perlu diatasi. Terapi stem cell ini berpotensi menjadi solusi dalam pengobatan T1DM jika teknologi dan pemahaman lebih lanjut dapat dikembangkan.
MIKROORGANISME PENYEBAB INFEKSI NOSOKOMIAL DAN FAKTOR RISIKO PADA PASIEN INTENSIVE CARE : TINJAUAN LITERATUR DAN IMPLIKASINYA DALAM PERAWATAN KLINIS Pramesti, Laras Ayu; Niam, Syaifun
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.44322

Abstract

Infeksi nosokomial, atau yang juga dikenal sebagai infeksi terkait pelayanan kesehatan (Healthcare-Associated Infections  /HAI), merupakan jenis infeksi yang muncul pada pasien setelah lebih dari 48 jam dirawat di fasilitas kesehatan. Kasus ini punya dampak besar terhadap keselamatan pasien, terutama di ruang perawatan intensif (ICU), di mana pasien cenderung memiliki kondisi yang lebih rentan. Penelitian ini bertujuan untuk mengulas jenis-jenis mikroorganisme penyebab HAI di ICU, faktor-faktor risiko yang memperbesar kemungkinan terjadinya infeksi, serta dampaknya terhadap penatalaksanaan pasien selama perawatan intensif. Kajian dilakukan melalui telaah pustaka dari sejumlah sumber ilmiah yang relevan, dengan penelusuran data melalui basis data medis seperti PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian antara lain “Healthcare-Associated Infections  ”, “Intensive Care Unit”, “Pathogens”, “Risk Factors”, dan “Systemic Inflammation”. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa bakteri Gram-positif seperti Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis, serta bakteri Gram-negatif seperti Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Klebsiella pneumoniae merupakan mikroorganisme utama penyebab HAI di lingkungan ICU. Beberapa faktor yang secara signifikan meningkatkan risiko infeksi di antaranya adalah penggunaan alat medis invasif, usia lanjut, status imun pasien yang lemah, serta lamanya pasien dirawat di ICU. Selain itu, infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pembentuk biofilm, seperti S. aureus dan E. coli, cenderung lebih sulit ditangani karena tingkat resistensinya yang tinggi terhadap pengobatan standar, sehingga meningkatkan kemungkinan infeksi berulang pada pasien ICU.
Pasien Lelaki 57 Tahun dengan Tetanus Apriyanti, Mietha; Malihah, Ely; Niam, Syaifun
Jurnal Ners Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v8i1.21109

Abstract

Tetanus adalah penyakit akut, seringkali berakibat fatal, yang disebabkan oleh eksotoksin yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium tetani. Hal ini ditandai dengan kekakuan umum dan kejang otot rangka. Di Indonesia, tetanus masih menjadi salah satu dari sepuluh besar penyebab kematian pada anak. Meskipun insidensi tetanus saat ini sudah menurun, namun kisaran tertinggi angka kematian dapat mencapai angka 60%. Selain itu, meskipun angka kejadiannya telah menurun setiap tahunnya, namun penyakit ini masih belum dapat dimusnahkan meskipun pencegahan dengan imunisasi sudah diterapkan secara luas di seluruh dunia. Tetanus disebabkan oleh infeksi bakteri Clostridium tetani yang ditemukan di tanah, debu, atau kotoran hewan. Bakteri ini merupakan basil anaerobik gram positif, pembentuk spora, dan obligat. Gambaran klinis tetanus meliputi jawlock, ekspresi wajah meringis (risus sardonicus), kejang otot umum yang berhubungan dengan nyeri hebat, drooling, buang air kecil dan besar yang tidak terkontrol, dan kejang punggung melengkung (opisthotonus) yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan. Pengobatan tetanus didasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya. Namun, semua pasien harus memiliki tujuan pengobatan berikut; debridemen luka dini, penatalaksanaan suportif, terapi antibiotik, pemberian Human Tetanus Immunoglobulin (HTIG) IM atau IV dini, blokade neuromuskular, serta penanganan komplikasi.
Laporan Kasus Congestive Heart Failure Yolande, Patricia Monique; Niam, Syaifun
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i2.57644

Abstract

Congestive Heart Failure (CHF) atau Gagal Jantung Kongestif adalah kondisi serius di mana jantung tidak mampu memompa darah secara efektif, menyebabkan gangguan pasokan oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh. Penyakit ini dapat menurunkan kualitas hidup pasien dan memberikan beban besar pada sistem kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pendekatan diagnostik dan terapeutik dalam penatalaksanaan CHF guna mencegah komplikasi lebih lanjut dan meningkatkan prognosis pasien. Metode yang digunakan adalah studi kasus pada seorang wanita berusia 65 tahun yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada 28 Juni 2024 dengan keluhan utama sesak napas progresif selama seminggu terakhir, terutama pada malam hari. Pasien juga mengalami kelelahan cepat, batuk berdahak yang sulit dikeluarkan, serta pembengkakan pada kedua tungkai. Riwayat medis menunjukkan keluhan serupa empat bulan sebelumnya. Pemeriksaan fisik menemukan ronkhi basah pada paru-paru dan edema tungkai, sementara rontgen toraks menunjukkan kardiomegali, bronkopneumonia, dan efusi pleura duplex. Pasien diberikan terapi farmakologis berupa Furosemide 40 mg, Mecobalamine 500 mg, Ceftriaxone 1 gram, Ulsafat, Digoxin 0,25 mg, Ranitidine 150 mg, Nitrokaf 2,5 mg, dan Miniaspi 80 mg. Hasil terapi menunjukkan perbaikan klinis yang signifikan. Kesimpulannya, deteksi dini dan penatalaksanaan yang komprehensif dengan kombinasi terapi farmakologis dan suportif sangat penting dalam mengurangi komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien CHF.
The Role of Branched-Chain Amino Acid (BCAA) Supplementation in Sarcopenia among the Elderly Rahaliya Salsabila Fatahuddin; Niam, Syaifun
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 8 No. 6 (2024): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v8i6.1011

Abstract

Background: Sarcopenia is a syndrome characterized by loss of skeletal muscle mass, strength, and skeletal muscle function that occurs as a result of aging. To maintain muscle mass, a dynamic balance is needed between muscle protein synthesis (MPS) and its breakdown. BCAAs, including leucine (Leu), isoleucine (Ile), and valine (Val), have been found to have important mediating effects in protein synthesis, glucose homeostasis. Methods: This literature review aims to explain further the role of BCAAs in sarcopenia. Results: Numerous studies have demonstrated the advantages of BCAAs for maintaining or improving skeletal muscle mass and performance in both healthy elderly people and those with other comorbidities. It was also shown that resistance training and vitamin D supplementation enhanced the benefits of BCAAs. Conclusion: There are still study results that contradict the role of BCAAs in sarcopenia, hence more research with homogeneity in supplementation dosage and outcome measurement methods is required in order to obtain stronger evidence to support its claims.