Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penilaian Otentik Dalam Konteks Penilaian Karakter Dianita Rahayu Sukmawati; Roulina Magdalena Siburian; Nur Hidayatil Janah; Ratna Sari Dewi
Jurnal Bintang Pendidikan Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Mei: Jurnal Bintang Pendidikan Indonesia
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.909 KB) | DOI: 10.55606/jubpi.v1i2.1401

Abstract

Character education is a process that helps each individual in developing more noble characters, namely honesty, responsibility, tolerance, and others. Character education in schools aims to make students conform to what is expected, when the character of each student is formed very well, then each individual will get used to something that has been instilled from an early age, but it is different when an individual is less directed at character education, then these students will be minimal in the formation of good character. Therefore, character education must continue to be instilled both in the school environment (education), in the family environment, even in the community. In character education there is a character evaluation that can be carried out by the teacher. The evaluation will be an assessment of whether the student is in accordance with the character achieved or vice versa.
Penilaian Otentik Dalam Konteks Penilaian Karakter Dianita Rahayu Sukmawati; Roulina Magdalena Siburian; Nur Hidayatil Janah; Ratna Sari Dewi
Jurnal Bintang Pendidikan Indonesia Vol. 1 No. 2 (2023): Mei: Jurnal Bintang Pendidikan Indonesia
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jubpi.v1i2.1401

Abstract

Character education is a process that helps each individual in developing more noble characters, namely honesty, responsibility, tolerance, and others. Character education in schools aims to make students conform to what is expected, when the character of each student is formed very well, then each individual will get used to something that has been instilled from an early age, but it is different when an individual is less directed at character education, then these students will be minimal in the formation of good character. Therefore, character education must continue to be instilled both in the school environment (education), in the family environment, even in the community. In character education there is a character evaluation that can be carried out by the teacher. The evaluation will be an assessment of whether the student is in accordance with the character achieved or vice versa.
RESISTENSI PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP KEBIJAKAN PENATAAN DI KAWASAN KOTA TUA JAKARTA Dianita Rahayu Sukmawati; Wika Hardika Legiani; Qotrun Nida
Jurnal Education and Development Vol 14 No 3 (2026): Vol 14 No 3 September 2026
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/ed.v14i3.8403

Abstract

Pedagang kaki lima (PKL) merupakan bagian dari sektor informal yang memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat perkotaan. Di Kawasan Kota Tua Jakarta, keberadaan PKL selain memberikan kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan wisatawan dan peningkatan pendapatan masyarakat, juga menimbulkan permasalahan dalam pemanfaatan ruang publik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan kebijakan penataan melalui Peraturan Gubernur Nomor 10 Tahun 2015 tentang Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima sebagai upaya menciptakan kawasan wisata yang tertib, bersih, dan nyaman. Akan tetapi, implementasi kebijakan tersebut memunculkan berbagai bentuk resistensi dari PKL karena dinilai berdampak terhadap keberlangsungan usaha dan penurunan pendapatan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk resistensi yang dilakukan pedagang kaki lima terhadap kebijakan penataan di Kawasan Kota Tua Jakarta serta mengidentifikasi faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya resistensi tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap pedagang kaki lima, Unit Pengelola Kawasan Kota Tua, Satpol PP. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resistensi diwujudkan dalam bentuk tetap berjualan pada lokasi yang dilarang, menghindari petugas penertiban, serta kembali menempati lokasi semula setelah penertiban selesai. Faktor utama yang melatarbelakangi resistensi meliputi penurunan pendapatan setelah relokasi, lokasi binaan yang dianggap kurang strategis, ketergantungan ekonomi keluarga terhadap aktivitas berdagang, serta perbedaan kepentingan antara pemerintah dalam menjaga ketertiban kawasan dengan PKL dalam mempertahankan mata pencaharian. Penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan penataan akan lebih efektif apabila disertai komunikasi yang baik, pelibatan pedagang dalam proses pengambilan kebijakan, serta penyediaan lokasi usaha yang sesuai dengan karakteristik aktivitas ekonomi kawasan wisata.