Ayu Tuty Utami
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Pengaruh Work Life Balance terhadap Work Engagement pada Ibu Bekerja Satrio Budiman Rastanim; Lisa Widawati; Ayu Tuty Utami
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10024

Abstract

Abstract. Work engagement is motivation, positivity, fulfillment, and an individual's perspective which is characterized by vigor, dedication, and absorption (Schaufeli et al., 2002). Work life balance is the ability to achieve goals and fulfill various demands of work and life and achieve satisfaction in all aspects of life (Fisher and Bulger, 2012). The aim of this research is to determine the effect of work life balance on work engagement in working mothers. The subjects in this study were 105 working mothers. The data analysis technique used is simple linear regression. The work life balance measuring tool uses the Work Life Balance Scale by Fisher, Bulger and Smith (2009) which has been adapted into Indonesian by Gunawan et al (2019). Meanwhile, the work engagement measuring tool uses the Utrecht Work Engagement Scale-9 (UWES-9) by Schaufelli and Bakker (2003) which has been adapted into Indonesian by Kristiana et al (2018). The research results show that work life balance has an influence of 28.1% on work engagement among working mothers. Abstrak. Work engagement merupakan suatu motivasi, hal positif, pemenuhan, serta cara pandang individu yang di tandai dengan adanya vigor, dedication, dan absorption (Schaufeli et al., 2002). Work life balance merupakan kemampuan dalam mencapai tujuan dan memenuhi berbagai tuntutan pekerjaan maupun kehidupan dan mencapai suatu kepuasan dalam seluruh aspek kehidupan (Fisher dan Bulger, 2012). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh work life balance terhadap work engagement pada ibu bekerja. Subjek pada penelitian ini adalah ibu bekerja sebanyak 105 orang. Teknik analisis data yang digunakan regresi linear sederhana. Alat ukur work life balance menggunakan Work Life Balance Scale oleh Fisher, Bulger dan Smith (2009) yang sudah diadaptasi kedalam bahasa Indonesia oleh Gunawan et al (2019). Sedangkan alat ukur work engagement menggunakan Utrecht Work Engagement Scale-9 (UWES-9) oleh Schaufelli dan Bakker (2003) yang sudah diadaptasi kedalam bahassa Indonesia oleh Kristiana et al (2018). Hasil penelitian menunjukkan bahwa work life balance memberikan pengaruh sebesar 28.1% terhadap work engagement pada ibu bekerja.
Pengaruh Perceived Organizational Support terhadap Burnout pada Polisi Wanita Polrestabes Bandung Muhammad Ilyas Yusuf; Lisa Widawati; Ayu Tuty Utami
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10028

Abstract

Abstract. Female police officers are a type of human service worker who has a heavy workload. A problem that often arises in relation to female police facing increasingly high job demands in the workplace is burnout. Burnout is a psychological syndrome which is an individual's reaction to prolonged work pressure (Maslach & Leiter, 1997). One of the factors that can reduce burnout is perceived organizational support. According to Rhoades & Eisenberger (2002), perceived organizational support is employees' perception of how much the organization values their contributions and cares about their welfare. The aim of this research is to see how much influence perceived organizational support and its aspects have on burnout in 56 Bandung Police Women. The measuring instrument used in this research is the perceived organizational support (POS) scale developed by Eisenberger et al. (1986) and adapted by Fahrian Lubis (2022). In addition, the Maslach Burnout Inventory – Human Service Survey (MBI-HSS) was developed by Maslach, Schaufeli & Leiter (2001) and adapted by Susilo et. al., (2023). The research results show that there is a significant positive influence of perceived organizational support on burnout, namely with R Square = .097. The results of all aspects of perceived organizational support have a significant effect with R Square = .225. Abstrak. Polisi wanita merupakan jenis pekerja human service yang memiliki beban kerja yang berat. Persoalan yang sering muncul berkaitan dengan polisi wanita dalam menghadapi tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi ditempat kerja adalah burnout. Burnout merupakan sindrom psikologis yang merupakan reaksi individu terhadap tekanan pekerjaan yang berkepanjangan (Maslach & Leiter, 1997). Satu diantara faktor yang dapat menurunkan burnout yakni perceived organizational support menurut Rhoades & Eisenberger (2002) mengatakan bahwa perceived organisational support adalah persepsi karyawan mengenai seberapa besar organisasi menghargai kontribusi mereka dan peduli terhadap kesejahteraan mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat seberapa besar pengaruh perceived organizational support dan aspeknya terhadap burnout pada 56 Polisi Wanita Polrestabes Bandung. Alat ukur yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu skala perceived organizational support (POS) yang dikembangkan oleh Eisenberger et al. (1986) dan diadaptasi oleh Fahrian Lubis (2022). Selain itu, Maslach Burnout Inventory – Human Service Survey (MBI-HSS) yang dikembangkan oleh Maslach, Schaufeli & Leiter (2001) dan diadaptasi oleh Susilo et. al., (2023). Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif secara signifikan perceived organizational support terhadap burnout yakni dengan R Square = .097. Hasil seluruh aspek perceived organizational support berpengaruh signifikan dengan R Square = .225.
Pengaruh Islamic Work Ethic terhadap Counterproductive Work Behavior pada Guru Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Fikar Aulia Muhammad; Lisa Widawati; Ayu Tuty Utami
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v4i1.10280

Abstract

Abstract. Organizational progress and development in the education sector is often hampered by the problem of counterproductive work behavior shown by teachers which is detrimental to the organization and to the personnel within it. Counterproductive work behavior can be prevented by understanding a work ethic in every employee, a work ethic that is relevant to the majority of Indonesian people who are Muslim is the existence of an Islamic work ethic. Islamic boarding schools as religious-based educational institutions certainly have an Islamic work ethic that can reduce counterproductive work behavior. The purpose of this research is to obtain empirical data regarding the influence of Islamic work ethic on Counterproductive Work Behavior in Teachers of Islamic Boarding Schools. This research was conducted using a non-experimental quantitative method with a causality design involving 164 Islamic boarding school teachers in Bandung Raya as respondents. The measuring instrument used to measure Islamic work ethic is the Islamic work ethic Scales compiled by Ali (1992) which was adapted into Indonesian by Firmansyah et al. (2020) which was again adapted by the author. The Counterproductive Work Behavior variable uses the Counterproductive Work Behavior Checklist (CWB-C) published by Spector et al. (2006) and adapted by Cucuani et al. (2020). The results of this study indicate that Islamic work ethic has a negative effect of 63.2% on Counterproductive Work Behavior. Abstrak. Kemajuan dan perkembangan organisasi pada sektor pendidikan seringkali dihalangi oleh permasalahan adanya perilaku kontraproduktif yang ditunjukkan oleh guru yang merugikan organisasi dan personal di dalamnya. Perilaku kontraproduktif dapat dicegah dengan menanamkan etos kerja pada setiap karyawan, etos kerja yang relevan dengan mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama islam adalah dengan adanya etos kerja Islami. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis agama tentu memiliki etos kerja islami yang dapat mengurangi adanya perilaku kontraproduktif. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data empiris mengenai pengaruh Islamic work ethic terhadap counterproductive work behavior pada Guru Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental dengan desain kausalitas yang melibatkan 164 guru pondok pesantren se bandung raya sebagai responden. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur islamic work ethic adalah islamic work ethic Scales yang disusun oleh Ali (1992) yang diadaptasi kedalam Bahasa Indonesia oleh Firmansyah et al. (2020) yang kembali diadaptasi oleh penulis. Untuk variable counterproductive work behavior menggunakan alat ukur counterproductive work behavior Checklist (CWB-C) yang dipublikasikan oleh Spector et al. (2006) dan diadaptasi oleh Cucuani et al. (2020). Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa islamic work ethic berpengaruh negatif sebesar 63,2% pada counterproductive work behavior.
Pengaruh Job Crafting terhadap Work Engagement pada Karyawan Divisi Marketing Falcon Pictures Devri Nugraha Ihsan; Lisa Widawati; Ayu Tuty Utami
Jurnal Riset Psikologi Volume 4, No. 1 Juli 2024, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v4i1.4046

Abstract

Abstract. Job crafting is an effort made actively by individuals to balance job demand and job resources. Through job crafting efforts, work engagement can increase, resulting in good work productivity. This research aims to find out how much influence job crafting has on work engagement among Falcon Pictures marketing division employees. The research method used was quantitative with the number of subjects being 35 employees of the Falcon Pictures marketing division. This research uses the Job Crafting Scale (JCS) measuring instrument from Tims et al., (2012) which has been adapted by Astuti A. (2023) and the Utrecht Work Engagement Scale (UWES) measuring instrument from Schaufeli & Bakker which has been adapted by Aryanti et al. al., (2020). The research results found that 97.1% of Falcon Pictures marketing division employees had high job crafting and 97.1% of Falcon Pictures marketing division employees had high work engagement. In this study, job crafting had a significant influence on work engagement of 71.2%. The results of decreasing hindering job demands have the highest significant influence on work engagement of Falcon Pictures marketing division employees. Abstrak. Job crafting merupakan upaya yang dilakukan secara aktif oleh individu untuk menyeimbangkan job demand dan job resources. Melalui upaya job crafting, work engagement dapat meningkat sehingga menghasilkan produktivitas kerja yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh job crafting terhadap work engagement pada karyawan divisi marketing Falcon Pictures. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan jumlah subjek 35 karyawan divisi marketing Falcon Pictures. Penelitian ini menggunakan alat ukur Job Crafting Scale (JCS) dari Tims et al., (2012) yang telah diadaptasi oleh Astuti A. (2023) dan alat ukur Utrecht Work Engagement Scale (UWES) dari Schaufeli & Bakker yang telah diadaptasi oleh Aryanti et al.,(2020). Hasil penelitian ditemukan 97,1% karyawan divisi marketing Falcon Pictures memiliki job crafting yang tinggi dan 97,1% karyawan divisi marketing Falcon Pictures memiliki work engagement yang tinggi. Pada penelitian ini job crafting memiliki pengaruh signifikan terhadap work engagement sebesar 71,2%. Hasil decreasing hindering job demands memiliki pengaruh signifikan paling tinggi terhadap work engagement karyawan divisi marketing Falcon Pictures.
Pengaruh Perceived Organizational Support terhadap Komitmen Afektif Karyawan Generasi Z Azelia Almira Islamey; Ayu Tuty Utami
Jurnal Riset Psikologi Volume 4, No. 2 Desember 2024, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v4i2.5122

Abstract

Abstract. In a dynamic work environment, it is important for organizations to have a deep understanding of Generation Z. Allen & Meyer (1991), defined affective commitment as an individual's emotional attachment to the organization they work for. One way to increase this affective commitment is to provide organizational support to employees. Eisenberger (1986) defines perceived organizational support as the perception of employees as the extent to which employees feel that their organization values their contribution and cares about their well-being. The purpose of this study is to find out the influence of perceived organizational support on the affective commitment of generation Z employees. The method used in this study is a quantitative causality method using simple linear regression analysis. The instrument used is The Survey of Perceived Organizational Support (SPOS) based on Eisenberger's theory (1986) adapted by Syahputra, W., Yundianto, D., & Indrawardhana, E. (2022) and the affective commitment scale from Allen & Meyer (1991) which has been adapted by Suseno, M. N. M. (2019). The results of this study show that perceived organizational support has an influence on affective commitment of 0.307, meaning that there are other factors that can affect the existence of affective commitment in generation Z employees in Bandung city corporations. Abstrak. Lingkungan kerja yang dinamis, penting bagi organisasi untuk memiliki pemahaman tentang generasi Z. Allen & Meyer (1991), mendefinisikan komitmen afektif sebagai ikatan emosional individu terhadap organisasi tempat mereka bekerja. Salah satu cara meningkatkan komitmen afektif adalah dengan memberikan dukungan organisasi kepada para karyawan. Eisenberger (1986) mendefinisikan perceived organizational support sebagai persepsi karyawan megenai sejauh mana karyawan merasa bahwa organisasi menghargai kontribusi dan peduli terhadap kesejahteraan mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh perceived organizational support terhadap komitmen afektif karyawan generasi Z. Subjek pada penelitian ini adalah karyawan generasi Z di korporasi kota Bandung, yang berjumlah 96 orang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif kausalitas dengan menggunakan analisis regresi linier sederhana. Instrumen yang digunakan adalah The Survey of Perceived Organizational Support (SPOS) berdasarkan teori Eisenberger (1986) yang diadaptasi oleh Syahputra, W., Yundianto, D., & Indrawardhana, E. (2022) dan skala komitmen afektif dari Allen & Meyer (1991) yang telah diadaptasi oleh Suseno, M. N. M. (2019). Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa perceived organizational support memiliki pengaruh terhadap komitmen afektif sebesar 0.307 artinya terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi adanya komitmen afektif pada karyawan generasi Z di korporasi kota Bandung.
Pengaruh Motivasi terhadap Komitmen Organisasi pada Karyawan Pasca Merger PT. BSI Tbk Homsyah Sekarsari; Ayu Tuty Utami
Jurnal Riset Psikologi Volume 5, No. 1 Juli 2025, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v5i1.6766

Abstract

Abstract. Motivation is an internal drive that causes individuals to strive to fulfill their needs. In the workplace, motivation can strengthen employees' commitment to their organization, as employees feel more connected to the organization's goals and values. This study examines the effect of motivation on organizational commitment in post-merger employees of PT. BSI Tbk. The theoretical foundation for motivation in this study is Abraham Maslow's Hierarchy of Needs and Allen & Meyer's organizational commitment model. This study uses a quantitative method on 128 employees of PT BSI Tbk in Bandung who had joined the company before the merger. The measurement tools used are Maslow's motivation scale, developed by Luthans and adapted by Sutarto Wijono (2010), and Allen & Meyer's organizational commitment scale, adapted by Miftahun Ni'mah Suseno (2019). The obtained data were analyzed using SEM-PLS with the SmartPLS application. The results of this study indicate that physiological needs, safety needs, social needs, esteem needs, and self-actualization have an affect on affective commitment with P Values of 0.043, 0.044, 0.043, 0.045, and 0.041, respectively. Physiological need, safety need, and self-actualization Effect on continuance commitment with P Values of 0.047, 0.047, and 0.048. However, physiological needs, safety needs, social needs, esteem needs, and self-actualization do not significantly affect normative commitment. Abstrak. Motivasi adalah dorongan dari dalam diri yang menyebabkan individu berusaha memenuhi kebutuhannya. Di dalam dunia kerja motivasi dapat memperkuat komitmen karyawan terhadap organisasinya, karena karyawan merasa lebih terikat dengan tujuan dan nilai-nilai organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh motivasi terhadap komitmen organisasi pada karyawan pasca merger PT. BSI Tbk. Landasan teori motivasi pada penelitian ini yaitu Hierarchy Of Need Abraham Maslow dan komitmen organisasi Allen & Meyer. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang dilakukan pada 128 karyawan PT BSI Tbk di Bandung yang sudah bergabung sebelum perusahaan melakukan merger. Alat ukur yang digunakan yaitu skala motivasi Maslow yang dibuat oleh Luthans dan diadaptasi oleh Sutarto Wijono (2010) dan skala komitmen organisasi Allen & Meyer yang sudah diadaptasi oleh Miftahun Ni’mah Suseno (2019). Data yang diperoleh di uji menggunakan Uji SEM-PLS dengan aplikasi SmartPLS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa physiological need, safety need, social need, esteem need, dan self actualization memberikan pengaruh terhadap affective commitment dengan nilai P Value sebesar 0.043, 0.044, 0.043, 0.045, dan 0.041. Physiological need, safety need, dan self actualization berpengaruh terhadap continuance commitment dengan P Value sebesar 0.047, 0.047, dan 0.048. Namun physiological need, safety need, social need, esteem need, dan self actualization tidak memberikan pengaruh terhadap normative commitment.
Keterampilan Sosial dan Adiksi Internet: Peran Moderasi Durasi Penggunaan Internet Oki Mardiawan; Ali Mubarak; Ayu Tuty Utami
Schema: Journal of Psychological Research Vol. 9 No. 01 (2024): SCHEMA Volume 9 No.1 Mei 2024
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/schema.v9i01.4137

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara keterampilan sosial dan adiksi internet, dengan mempertimbangkan durasi penggunaan internet sebagai variabel moderator. Studi dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif cross-sectional, dengan melibatkan partisipan penelitian sebanyak 250 orang pemuda pengguna internet dari Kota Bandung. Pengukuran dilakukan menggunakan skala modifikasi keterampilan sosial yang dikembangkan oleh Buhrmester et al. (1988) dan skala adiksi internet yang dikembangkan oleh Chang dan Man Law (2008). Analisis data dilakukan dengan moderated regression analysis (MRA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan sosial tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan adiksi internet, begitupun dengan durasi penggunaan internet tidak menunjukkan hubungan yang signifikan juga dengan adiksi internet. Selain itu, tidak ditemukan interaksi antara keterampilan sosial dan gender maupun keterampilan sosial dan durasi penggunaan internet dalam memprediksi adiksi internet. Kata Kunci : Keterampilan Sosial, Adiksi Internet, Moderated Regression Analysis (MRA)