Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Constitution Journal

Tanggung Jawab Negara Memelihara Anak Terlantar Perspektif Negara Kesejahteraan.: State Responsibility in the Care of Abandoned Children: A Welfare State Perspective Sulistiyono, Firman Octhaviana; Efendi, Aan; Al-Khanif
Constitution Journal Vol. 4 No. 1 (2025): Constitution Journal June 2025
Publisher : UIN Kiai Haji Ahmad Sidiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/constitution.v4i1.133

Abstract

Article 34 paragraph (1) of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia states that "the poor and neglected children are cared for by the state." Although this constitutional guarantee has been clearly regulated, many neglected children in Indonesia have not fully received their rights. The gap between the constitutional mandate and the implementation of this policy reflects an urgent social problem, considering that neglected children are a vulnerable group that requires special attention within the framework of a welfare state. This normative legal research uses a legislative, conceptual, and historical approach. The results of the study indicate that protecting neglected children is a constitutional responsibility and an integral part of social welfare policy. The government is obliged to build a fair, comprehensive, and sustainable protection system through synergy between institutions and community involvement. Child protection policies aim to guarantee the rights of children—especially neglected children—to live, grow, and develop optimally and be protected from violence, discrimination, and neglect. Therefore, comprehensive policy reform needs to be carried out, with a focus on empowering families and communities, providing rehabilitation services, law enforcement, and broad public education. Abstrak Pasal 34 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa "fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara." Meskipun jaminan konstitusional ini telah diatur secara jelas, banyak anak terlantar di Indonesia yang belum sepenuhnya mendapatkan hak-haknya. Kesenjangan antara amanat konstitusi dan implementasi kebijakan ini mencerminkan persoalan sosial yang mendesak, mengingat anak terlantar merupakan kelompok rentan yang membutuhkan perhatian khusus dalam kerangka negara kesejahteraan. Penelitian yuridis normatif ini menggunakan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan anak terlantar merupakan tanggung jawab konstitusional dan bagian integral dari kebijakan kesejahteraan sosial. Pemerintah wajib membangun sistem perlindungan yang adil, menyeluruh, dan berkelanjutan melalui sinergi antar lembaga serta pelibatan masyarakat. Kebijakan perlindungan anak bertujuan menjamin hak anak—terutama anak terlantar—untuk hidup, tumbuh, dan berkembang secara optimal serta terlindungi dari kekerasan, diskriminasi, dan penelantaran. Oleh karena itu, reformasi kebijakan yang komprehensif perlu dilakukan, dengan fokus pada pemberdayaan keluarga dan masyarakat, penyediaan layanan rehabilitasi, penegakan hukum, dan edukasi publik secara luas.
Pengaruh Politik Dinasti di Kabupaten Probolinggo Terhadap Sistem Demokrasi Dalam Menjalankan Asas Keterbukaan: The Influence of Dynasty Politics in Probolinggo Regency on the Democracy System in Implementing the Principle of Openness Ilhami, Deni; Al-Khanif; Soetijono, Iwan Rachmad
Constitution Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Constitution Journal December 2025
Publisher : UIN Kiai Haji Ahmad Sidiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/constitution.v4i2.145

Abstract

The phenomenon of political dynasties in Probolinggo Regency highlights serious challenges in implementing the principle of openness in local governance. This study aims to analyze the application of the openness principle within the practice of political dynasties and to identify its supporting and inhibiting factors. A socio-legal approach was employed using descriptive analysis of secondary legal materials and interviews with local stakeholders. The findings reveal that the deliberation and drafting of regional regulations, particularly concerning the regional budget (APBD), have not been fully conducted transparently. Several meetings that should have been open to the public were held behind closed doors, reducing accountability and public trust. Supporting factors include the availability of facilities, experts, and legislators’ attendance. Conversely, obstacles include limited understanding of openness among council members, ineffective communication, delays in budget submissions, and the dominance of family and party political interests. These findings indicate that political dynasties negatively affect local democracy and emphasize the need for stronger regulations and broader public participation to achieve transparent and accountable governance. Abstrak Fenomena politik dinasti di Kabupaten Probolinggo menunjukkan adanya persoalan serius dalam pelaksanaan asas keterbukaan pemerintahan daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi asas keterbukaan dalam praktik politik dinasti serta faktor pendukung dan penghambatnya. Metode yang digunakan adalah pendekatan yuridis sosiologis dengan analisis deskriptif terhadap bahan hukum sekunder serta data wawancara dengan pemangku kepentingan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembahasan dan penyusunan Peraturan Daerah, khususnya terkait APBD, masih belum sepenuhnya dilakukan secara terbuka. Beberapa rapat yang seharusnya dapat diakses publik dilaksanakan secara tertutup, sehingga mengurangi transparansi dan akuntabilitas. Faktor pendukung implementasi asas keterbukaan adalah ketersediaan sarana prasarana, tenaga ahli, dan kehadiran anggota DPRD. Namun, hambatan yang muncul meliputi rendahnya pemahaman anggota dewan terhadap asas keterbukaan, komunikasi yang tidak efektif, keterlambatan penyampaian dokumen anggaran, serta dominasi kepentingan politik keluarga dan partai. Temuan ini menegaskan bahwa praktik politik dinasti berimplikasi negatif terhadap demokrasi lokal dan perlu adanya penguatan regulasi serta partisipasi publik untuk mewujudkan pemerintahan daerah yang transparan dan akuntabel.