Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Paradoks Ketergantungan dan Upaya Pelokalan dalam Industri Bantuan Kemanusiaan dari Bencana Sulawesi Tengah Stella Anjani Setiadi; Hariati Sinaga
Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik Vol. 6 No. 2 (2026): (JIHHP) Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik
Publisher : Dinasti Review Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jihhp.v6i2.3682

Abstract

Paradoks Ketergantungan dan Upaya Pelokalan dalam Industri Bantuan Kemanusiaan dari Bencana Sulawesi Tengah mengkaji tantangan struktural yang menghambat pelokalan dalam penanggulangan bencana di Indonesia, dengan fokus pada bias gender dalam konteks ekonomi neoliberal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara ketergantungan negara selatan terhadap negara utara dan implementasi pelokalan pascabencana, serta dampaknya terhadap perempuan di wilayah terdampak. Menggunakan pendekatan kualitatif, data diperoleh melalui analisis literatur, laporan media, dan data sekunder dari pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pelokalan dimaksudkan untuk meningkatkan kemandirian lokal, penerapannya terbukti parsial dan bergantung pada kontribusi aktor non-pemerintah serta donor internasional. Hal ini menciptakan ketergantungan baru yang menghambat transformasi kerja kemanusiaan. Selain itu, bias gender terlihat dalam pengabaian kerja produktif perempuan di ruang domestik dan minimnya partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelokalan dalam kerangka ekonomi neoliberal memperpanjang ketimpangan struktural dan bias gender, sehingga diperlukan pendekatan ekonomi politik feminis yang lebih kritis untuk memastikan keadilan dalam kerja kemanusiaan.
Air Pollution as Gendered Oppression: An Intersectional Feminist Analysis Windy Dwi Ariyanto; Mia Siscawati; Hariati Sinaga
Journal of Business, Social and Technology Vol. 7 No. 3 (2026): Journal of Business, Social and Technology
Publisher : Politeknik Siber Cerdika Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59261/jbt.v7i3.727

Abstract

Background: Air pollution is commonly treated as a technical environmental issue, although its impacts are socially unequal and shaped by gender, class, geography, and access to resources. Women experience disproportionate burdens due to reproductive vulnerability, household exposure, unpaid care responsibilities, and limited participation in environmental decision-making. Objective: This article examines air pollution as a gendered problem by positioning women not as statistical objects of exposure but as subjects whose lived experience constitutes a source of knowledge. Methods: Drawing on scholarly literature, air pollution was analyzed as a layered form of oppression that situates women at the intersection of biological vulnerability, the domestic division of labor, class position, geographical location, and constrained economic access and health services. Results: Three theoretical frameworks are integrated: Crenshaw's concept of intersectionality with its structural, political, and representational dimensions; Rocheleau's feminist political ecology, foregrounding access, control, knowledge, and struggle over environmental resources; and Elmhirst's extension, which insists that the relations among gender, environment, and power be read through the social, economic, and political structures that govern resource access and distribute ecological vulnerability. Conclusion: The analysis shows that women are simultaneously the most exposed, the most burdened by care work, the least in control, the least represented, and the most frequently uncounted. Gender-blind clean-air policy therefore tends to deepen rather than ease inequality.
Dari Kerentanan ke Agensi: Solidaritas Perempuan Pengungsi di Negara Transit Ratu Dyah Ayu Gendiswardani; Hariati Sinaga; Riska Sri Handayani
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 8 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i8.6044

Abstract

Tulisan ini mengkaji bagaimana perempuan pengungsi di negara transit menggunakan komunitas sebagai strategi kolektif untuk bertahan hidup di tengah protection gap dan ketidakpastian hukum yang bersifat struktural. Dengan menggunakan pendekatan penelitian feminis berbasis studi literatur kritis, tulisan ini menganalisis empat konteks komparatif—Jakarta (Indonesia), Malaysia, Lebanon, dan Belfast (Irlandia Utara)—untuk menunjukkan bagaimana komunitas perempuan pengungsi berfungsi bukan sekadar sebagai ruang sosial, melainkan sebagai arena politics of care yang mengisi kekosongan negara. Kerangka analisis yang digunakan mencakup feminisme transnasional Mohanty, interseksionalitas Crenshaw, konsep sisterhood bell hooks, dan etika perawatan Tronto untuk membaca solidaritas lintas etnis dan agama sebagai bentuk agensi kolektif. Temuan menunjukkan bahwa meski protection gap termanifestasi secara berbeda di setiap konteks—dari partial protection di Indonesia hingga ketiadaan total kerangka hukum di Malaysia—perempuan pengungsi secara konsisten membangun komunitas sebagai mekanisme perlindungan tandingan. Solidaritas yang terbentuk bukan berbasis kesamaan identitas biologis, melainkan kesadaran kolektif atas penindasan struktural bersama. Kajian ini juga mengakui ketegangan internal: solidaritas komunitas pengungsi tidak selalu sempurna dan dapat mereproduksi hierarki patriarkal dari dalam. Tulisan ini berkontribusi pada kajian pengungsi perempuan di Asia Tenggara yang selama ini kurang mendapat perhatian, sekaligus menyuarakan tiga implikasi kebijakan: pengakuan komunitas perempuan pengungsi sebagai aktor perlindungan, desain program yang responsif interseksional, dan agenda riset berbasis lapangan yang melibatkan perempuan pengungsi sebagai mitra kajian.